Yesus Pahlawan Kaum Miskin

Kemiskinan adalah salah satu tema pokok dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Paus Fransiskus Dalam homilinya, pada misa memperingati Hari Orang Miskin Sedunia, di Gereja, di Vatikan, Minggu, 15 November 2020. Ia mengatakan, orang miskin adalah inti dari Injil. Injil tidak dapat dipahami tanpa orang miskin”.

Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (Injil Lukas): kemiskinan adalah satu tema penting yang dibicarakan. Tema kemiskinan yang diangkat Lukas berangkat dari realitas sosial yang terjadi pada masa hidup Yesus, yang kemudian dibawa ke dalam tataran refleksi. 

Tujuan Lukas menampilkan tema kemiskinan bukan saja hanya ingin membeberkan narasi-narasi serta polemik mengenai orang miskin. Tetapi semuanya itu bertujuan untuk menghadirkan nilai-nilai dan pesan moral yang kaya bersumber dari pribadi Yesus.

Sebelum membahas lebih jauh, kita perlu memahami apa arti kemiskinan dalam tafsiran alkitab serta kemiskinan yang diangkat oleh Lukas. Secara harfiah kemiskinan itu berasal dari kata dasar miskin poor berasal dari kata ptokhos (dari ptesso: membungkuk) dan biasanya diterjemahkan dengan berbagai kata ani, anaw, ebyon, orang miskin adalah orang yang mengalami suatu kekurangan untuk dapat hidup dengan baik. 

Dalam Perjanjian Lama konsep kemiskinan secara umum menunjuk pada keadaan dimana seseorang mengalami kekurangan sumber daya ekonomi, keadaan dimana seseorang mengalami penindasan dalam bidang politik dan hukum. Orang-orang yang digolongkan dalam kelompok ini adalah petani, buruh harian, pekerja bangunan pengemis, budak.

Masalah tentang kemiskinan juga sudah dibicarakan dalam Perjanjian Lama melalui para nabi dan Raja-raja. Keluaran 23:6 “Janganlah engkau memperkosa hak orang miskin diantaramu dalam perkara nya. Imamat 23:22pada waktu kamu menuai hasil tanahmu, janganlah kau sabit ladangmu habis-habis sampai ke tepinya dan janganlah kau pungut apa yang ketinggalan dari penilaianmu semuanya itu harus kau tinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing: Akulah Tuhan, Allahmu. Zak 7:8-10 “Janganlah menindas janda dan anak yatim, orang asing dan orang miskin, dan janganlah merancang kejahatan dalam hatimu terhadap masing-masing

Kedua kemiskinan material adalah situasi kehidupan manusia yang mengalami kekurangan. Kemiskinan spiritual adalah sikap seseorang yang secara aktif terbuka dan terarah pada pewahyuan akan Kerajaan Allah.

Melalui pandangan Gutierrez ini secara sederhana kita bisa pahami bahwa kemiskinan yang lebih disoroti dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian baru (Injil Lukas) adalah kemiskinan struktural dan kemiskinan material  

Penginjil Lukas menampilkan kemiskinan material dan kemiskinan struktural didasarkan pada realita sosial yang terjadi pada masa Yesus. Penyebab dasar dua kemiskinan ini adalah stratifikasi kelas-kelas sosial dalam masyarakat Yahudi, di mana golongan imam, aristokrat, pemungut cukai dianggap lebih tinggi daripada para petani, nelayan dan kaum buruh. Mereka menggunakan jabatan atau posisi untuk memeras masyarakat kecil.

Para pemungut cukai memiliki tugas untuk memungut pajak pertanian, pajak distribusi, pajak penangkapan ikan di danau Galilea, dan pajak-pajak kegiatan produktif lainnya, karena pemerintah tidak menetapkan jumlah pajak yang jelas untuk dibayarkan, hal tersebut membuka peluang untuk melakukan pemerasan. 

Zakheus sendiri melakukan pemerasan ketika masih menjadi kepala pemungut cukai (Lukas 19:8). Ketika para pemungut cukai datang untuk memberi diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis mereka bertanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?” Yohanes menjawab, “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu” (Lukas 3:12-13). Jawaban Yohanes tersebut mengindikasikan bahwa sudah diketahui oleh umum bahwa para pemungut cukai menetapkan jumlah yang lebih besar dari yang seharusnya.

Pada sisi lain pada masa hidup Yesus juga masyarakat Yahudi mengalami penjajahan dari Bangsa Romawi. Sudah dipastikan bahwa adanya penindasan dan pemerasan oleh bangsa romawi terhadap masyarakat Yahudi. 

Menariknya dalam situasi demikian Lukas menampilkan Yesus Sebagai pribadi yang membawa revolusioner terhadap kaum miskin. Lukas menuliskan bahwa Yesus sendiri tidak hanya hadir sebagai pembela kaum miskin tetapi Ia sendiri juga merasakan hidup sebagai orang miskin. Ia dilahirkan di kandang hewan. Ketika masa kanak-kanak waktu dipersembahkan di Bait Suci Maria dan Yusuf mengorbankan dua ekor burung tekukur, korban yang wajib untuk orang miskin. Ia sendiri hidup sebagai anak tukang kayu. Yesus mengutip kata-kata Yesaya “Allah telah memilih Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin. Sebagai puncaknya, Yesus mati di salib, hukuman yang biasa ditimpakan pada budak-budak.

Cara hidup Yesus yang berpihak pada orang miskin justru menjadi pertentangan dengan mereka yang berstatus sosial kelas atas (para imam, farisi, pemungut cukai). Mereka merasa tidak nyaman karena Yesus selalu mengecam tindakan-tindakan mereka yang memeras kaum miskin. Untuk itu mereka selalu mencari jalan untuk menjatuhkan Yesus. Akan tetapi Yesus tidak mundur Ia malah tampil dengan gagah berani dan terus berpihak pada kaum miskin. Sebab kehadiran-Nya adalah untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin.

Sikap keberpihakan Yesus terhadap kaum miskin ini menunjukan Cinta Kasih Allah terhadap orang kecil dan miskin. Yesus mencintai orang miskin bukan semata-mata karena mereka miskin, tetapi karena mereka adalah manusia sebab di mata Yesus sendiri semua manusia memiliki martabat yang sama. Untuk itu mereka seharusnya juga diperlakukan dengan baik.

Perjuangan Yesus terhadap kaum miskin pertama-tama bukan memberikan bantuan tunai terhadap mereka tetapi menempatkan orang miskin dalam ‘hatiNya’. Ia melihat orang-orang miskin bukan mereka yang menempatkan kelas sosial paling bawah tetapi sebagai manusia-manusia yang memiliki martabat luhur dan mereka pantas diperlakukan secara manusiawi.

Hal kedua yang dilakukan Yesus adalah mengecam tindakan para ahli taurat yang bersikap sewenang-wenang terhadap orang lemah dan miskin. Yesus tidak segan-segan mengkritik tindakan mereka. Sebab Yesus sungguh sadar bahwa apa yang diperjuangkan itu sesungguhnya berasal dari BapaNya.

Sebagai umat Kristiani kita patut meneladani sikap yang telah ditunjukan Yesus tersebut. Yakni Pertama-tama menempatkan atau melihat semua manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Sesudah itu baru Kita menunjukan bukti pembelaan terhadap kaum miskin dengan tampil gagah berani untuk memperjuangkan hak-hak hidup kaum miskin. Berani untuk memberi kritik saran yang membangun terhadap segala bentuk ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. 

Daftar Pustaka

Xavier Leon- Dufour. 1995. Ensiklopedi Perjanjian Baru, Yogyakarta: Kanisius.

David Noel Freedman.1992. Anchor Bible Dictionary, New York: Doubleday.

Herman Hendrickx CICM. 1990. Keadilan Sosial dalam Kitab Suci, Yogyakarta: Kanisius.

Bdk., Martin Chen. 2002. Teologi Gustavo Gutierrez Refleksi dari Praksis Kaum Miskin, Yogyakarta: Kanisius.

John Wijngaards. 1994. Yesus Sang Pembaharu, Yogyakarta: Kanisius.

Previous post Nagita Slavina lahirkan putra keduanya, Rafathar trending di twitter
Next post Krisanti di Sudut Fulan Fehan Puisi Alexander Hendro Mali

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.