BISIKANMU MEMBANGUNKAN AKU DARI KETERLELAPANKU

Wajah tampan nan elok menyapa sang mentari dengan sebuah senyuman yang tulus. Senyuman itu pertanda hati yang selalu ceria, mengejar sebongkah harapan yang selalu menantiku. Jiwa mudaku meronta-ronta mencari jati diriku. Kuingin untuk terus terbang mencari duniaku. Tak kuhiraukan semua panah kebencian yang ingin mematahkan sayapku. Seribu satu panah mengejarku namun kukepakkan sayapku hingga kutemukan langit biru yang memberiku seribu satu harapan yang indah nan mempesona. Jiwa kecilku terus membisikan untaian harapan yang tak akan pudar.

Baca juga: Puisi-Puisi Ian CK

Awan mendung ditemani rinai hujan sejenak menghentikan langkahku untuk berteduh mencari sebuah kenyamanan dalam duniaku. Lama kumenunggu namun tak kutemukan pertanda hujan akan redah. Rinai-rinai hujan terus menghantam atap rumah tempatku berteduh. Aku pun hanya berpasrah mengharapkan sebuah keadaan yang baik. Entah mengapa, kupejamkan mataku tuk menjelajahi semua alam alam yang ada di sekitarku. Dalam rumah mini itu ketemukan sesuatu yang menyilaukan mata, menggugah sukma tuk mendekatinya, dan melihatnya dari jarak yang dekat. Perlahan-lahan kumelangkah namun tak kutemukan seorang pun di sana. Hatiku menjerit ingin menemui apa yang ada di balik tirai itu. Dengan langkah gemetar kupaksakan diri, membulatkan tekad, menyelusuri lorong yang menyilaukan mata itu. Rasa penasaranku terjawab, dengan sepasang kelompak mata indah, melentik, nan menawan memandang kearahku. Aku terdiam, tersipu malu, berdiri kaku menyaksikan pandangan yang menggairahkan. Aku terlena dan terbuai dengan parasnya yang cantik. Wajah yang manis tanpa cacat, badan yang ramping, rambut hitam panjang terurai rapih menutupi punggungnya. Aku kehilangkan arah hidupku. Bisikan setan telah merasuki jiwaku. Aku melangkah mendekatinya dan duduk di samping bersamanya. Tiada kata yang terucap hanya senyuman manis yang mengekspresikan batin yang sedang menggebu-gebu. Apakah aku sedang jatuh cinta? Apakah ini yang namanya cinta?

Baca juga: Beberpa Puisi Sapardi Dirangkum dari Buku “ayat-ayat api”

Cinta berasal dari rasa penasaran, yang mempertemukan mata, membuat jantung berdegup kencang bak disambar petir di siang bolong. Mataku tak mampu berkedip lagi, menatap dengan sebuah rasa yang lain, dan ingin terbang bersamanya. “Hay” sapaku untuk menenangkan suasana, menutupi rasa yang kian menyiksaku. Dari bibir dan mulut manisnya, terdengar di telingaku membalas sapaanku dengan manja. “Hay” katanya. Mendengar suaranya yang merdu, menambah perih dalam hati, dan ingin kuakhiri detak jantung ini tuk pergi bersamanya. Jawaban yang manis dan manja memberiku sebuah pertanda baik. Kucoba tuk tenangkan diri dan mencoba memandangnya dengan penuh cinta. Pertemuan itu, membawaku untuk mengenal duniaku bersamanya.

Sekian lama telah kami lewati bersama, tiada umbaran rasa benci yang terucap. Berdiri di atas rasa cinta dan saling percaya memberikan warna indah dalam kebersamaan kami. Entah dari mana asal suara yang membisik di telingaku mengajakku tuk kembali pada tempat kisah awal perjumpaan bersamanya. Aku pun terbujuk rayuan suara itu. Aku berjalan menuju tempat itu bersama dengan dirinya. Bagaikan maharaja dan maharani, aku mengenakan pakaian yang terindah yang kumiliki. Canda tawa dan rayuan maut menghiasi langkah kami hingga sampai di tempat bersejarah itu. Hatiku puas melihat tempat itu dan terlintas dibenakku akan pertemuan awal bebrapa tahun yang lalu. Perlahan kubuka pintu rumah itu dan mempersilahkan ratuku untuk masuk. Tiada yang berubah semua tetap seperti dulu. Aku terus melangkah mengelilingi lorong-lorong dalam rumah itu. Semuanya indah dan memberikan kesejukan dalam diriku. Setelah mengelilingi rumah itu, aku segera kembali ke ruangan yang penuh dengan cerita itu tuk sejenak menarik nafas, beristirahat terbaring manja di atas kasur yang empuk. Kupejamkan mata dan membiarkan semilir bayu senja menenangkan sukmaku.

Baca juga: Ini Tentang Senja

Lama kuterbaring dalam mimpi indahku dan dia setia menemani di sampingku. Entah apa yang ada dalam pikirannya, dia terus memandangku yang terbaring lemah. Dalam lelapnya tidurku, dia mencoba untuk mendekati diriku, memperhatikanku dan sejenak tangannya mengelus-elus diriku. Namun, tak kurasakan apa-apa, aku tetap terbang bersama mimpi yang menemani tidurku. Tatapan matanya, tak lagi menahan hasratnya. Dia mendekatkan mulutnya pada bibirku dan suara merdu yang lain membisik di telingaku dan akupun segera terbangun dari tidurku. Aku bingung, tak tahu hendak berbuat apa. Dengan spontan dan dibaluti rasa takut, aku berlari keluar meninggalkan dia seorang diri di tempat itu. Tiada lagi kuingat semua kenangan indah bersamanya hanya rasa benci yang terlintas dalam benakku. Entah mengapa suara kecilku menghukum jiwaku. Aku malu pada diri dan duniaku. Segera kuberusaha tuk menghapuskan semua bayangannya dalam khayalanku.

Di balik rasa benci dan takut yang melandaku saat ini. Aku dihibur oleh suara manis yang telah membangunkanku dari tidur lelapku. Suara indah yang menyejukan hati. Suara yang telah menyadarkanku tuk kembali pada lembaran putih yang kian lama telah menantiku. Kutertegun sejenak merenungkan hidupku yang telah kulewati dengan sia-sia. Kini kuberanikan diri tuk memulai kisah yang baru. Kisah indah bersama suara yang menyejukan hatiku. Bisikan lembut yang telah merubah arah hidupku, bisikan yang membuatku untuk selalu bertahan bersamanya. Dalam nadiku mengalir seuntai kasih tuk kupancarkan pada dunia untuk memberi kehidupan bagi semua.

Waktu terus berlalu begitu cepat bagai sekali kedipan mata tanpa ada yang menghentikannya. Aku telah menemukan cinta sejati nan abadi, membawaku pada sebuah kehidupan yang lebih bermakna bagi yang lainnya. Kini aku telah bahagia dengan hidupku. Saat ini, aku telah ditangkap oleh bisikan yang telah menyejukkan hatiku. Terima kasih untuk bisikan itu, akan selalu kukenang dan sebagai penopang dalam ziarah hidupku.

Bisikan manja mengetarkan jiwa
Mengutuki diri yang telah berpaling dari-Nya
Diri yang dibaluti dosa
Memenjarakan hidup tanpa sebuah harapan
Hampa, hanya itu yang selalu dirasakan 
Kini kuingin berpaling
Merubah hidup
Tuk temukan seberkas cahaya
Menyinari lorong hidup yang gelap
Gelap telah berlalu kini kutemukan terang
Menerangi mata yang terpuruk karena nafsu
Suara itu, telah mengubah hidupku 
“ya” suara itu
Kini mengubah arah hidupku
Tiada lagi dusta
Hanya seberkas cinta yang kini kutemukan
Bisikan itu adalah harapanku. 

Penulis: Patris Mandu
Editor: Nadi

Previous post Korupsi dan Kehancuran Rakyat
Next post Bahaya Membuang Sampah Sembarangan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.