SANDARANKU TELAH BERPALING PADA YANG LAIN

Keesokan hari, aku harus terbang jauh meninggalkan tempat ini untuk menata hidup menjadi yang baik. Aku harus pergi jauh mengejar semua impianku. Tiada hari terlewatkan begitu saja tanpa meninggalkan kenangan dan pesan yang indah. Empat tahun aku harus mengisi hari-hariku dengan sebuah perjuangan yang menghantarku pada keberhasilan. Hari-hariku selalu dibaluti dengan lukisan pelangi yang indah. Tiada kupikirkan yang lain selain fokus dengan tujuanku yakni menjadi orang yang sukses yang akan memberikan aroma indah kepada orang lain. Waktu bergulir begitu cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tak terasa empat tahun telah berlalu aku berada di tempat perantuan dan saatnya aku harus kembali untuk mengindahkan semua yang telah kudapatkan. Rasa syukur dan bangga akan diri, karena perjuanganku tiada sia-sia. Perjuanganku terbalaskan dan kini kumemperoleh gelar sarjana.
Hari ini, hari pertama aku berada di kota kelahiranku setelah aku kembali dari tanah perantuan.

Hari ini, kumengisi waktuku dengan mengelilingi kota kelahiranku, mencari udara segar dan pemandangan yang memanjakan hati. Panasnya terik mentari dan hiruk-pikuk kota tak memudarkan semangatku untuk terus menjelajah sudut-sudut kota yang sekian lama tak kulalui. Kuterus melangkah ditemani earphone kesayanganku dan alunan lagu yang mesra membawaku tuk bernostalgia dengan semua kenanganku. Entah mengapa, langkah ini membawaku pada sebuah lorong yang menyimpan banyak kenangan. Dengan langkah tertatih-tatih dan tanpa kepastian ku beranikan diri untuk menghadapi apa yang kujumpai dan yang akan terjadi di depan sana. Suasana hari ini sungguh berbeda. Kutemukan banyak orang dengan pakaian indah dan mewah menghampiri lorong itu untuk bersukaria bersama dia yang telah membuatku nyaman. Tanpa sengaja, mata ini memandang ke arahnya dan kutemukan jawaban yang pasti bahwa dia telah bersama yang lain. Dia yang telah memberiku harapan, membuat nadiku seakan berhenti berdetak melihat semua yang terjadi itu. Mata ini berkaca-kaca dan tak tak kusadari kumeneteskan air mata. Aku tak tahu, apakah aku menangis bahagia karena melihat dia bahagia bersama pilihannya ataukah atau menangis sedih karena rasa yang telah terpendam lama tak terbalaskan. Aku pun berpaling dari tempat ini dan kutak ingin menoreh luka pada kehidupannya. Mimpi indah bersamanya di hari tua tak tersampaikan hanya luka dan perih yang kurasakan. Entah sampai kapan rasa ini terobati, aku pun tak tahu namun aku percaya bahwa kuakan menemukan mawar yang lebih indah yang selalu siap dan menerima sang lebah untuk hinggap dan menghirup kehidupan bersamanya. Cintaku tak tersampaikan. Dia yang membuatku nyaman untuk bersandar pada bahunya kini telah berpaling dan menemukan yang lain untuk bersandar di bahunya. Cintaku yang tulus bertepuk sebelah tangan. Aku akan membawa semua kenangan indah bersamanya dan membiarkan sang waktu yang menjadi saksi akan semua kenangan itu. Biarkan waktu yang akan menghapus dan menguburkan semua kenangan itu. Kini kuberusaha untuk membuka dan memulai lembaran baru untuk melukis kisah bersama yang lainnya.

Tentang Penulis
Patrisius Mandut, lahir di Lajar, 09 Januari 1999. Tinggal di Kota Kupang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Fakultas Filsafat Unwira Kupang
Editor: Beatrix

Previous post Karena Dia Telah Ada
Next post Jarak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.