SANDARANKU TELAH BERPALING PADA YANG LAIN

Sudah lama kami menghabiskan waktu bersama malam ini. Saatnya dia hendak pulang ke rumahnya. Dia menyapaku dengan penuh kelembutan hendak untuk berpamitan. Dia memalingkan pandangannya dari hadapanku dan melangkah manja menuju rumahnya. Aku yang ditinggalan seorang diri terus menikmati duniaku ditemani angin yang membuat badanku gemetaran. Aku sejenak memandang ke langit dan melihat bulan dan bintang bersinar terang seakan merestui pertemuan kami malam ini. Aku segera meninggalkan tempat itu dan dengan wajah ceria. Aku terus melangkah menelusuri keramaian kota namun tidak mengaburkan ingatanku tentang dia yang kujumpai malam ini. Langkahku sedikit dipercepat hingga aku tiba di rumahku. Aku segera membuka pintu rumah dan langsung menuju kamar tidurku yang selalu siap menemaniku dalam tidur dan mimpi indahku. Aku merebahkan badanku dan sambil tersenyum mengingat semua memori indah hari ini. Tak lama kemudian, aku pun terlelap dalam hangat sang malam.

Der…der….der….der…..wekerku berbunyi, ditemani suara ayam berkokok dan tiupan angin sepoi membangunkan aku dari tidur malamku. Aku pun segera bangun, merapikan kamarku dan siap untuk menjalani samudera hidup hari ini. Dalam hati, aku berharap bahwa hari ini terjadi sesuatu yang indah lebih dari hari kemarin. Aku terus melangkah menuju tempat yang sama dan dalam hati berharap akan mengulangi kisah seperti kemarin. Lama kumenunggu, tak ada sedikit tanda yang memberiku sebuah jawaban. Aku tak menemukan dia yang membuat hatiku membara. Sekian lama aku bersandar pada sang waktu namun penantianku tetap tak terjawab. Aku pun menyerah dan burung merpati berbisik padaku bahwa aku harus berhenti berharap padanya dan terus mengarungi lautan hidup ini. Hatiku sedih karena aku tidak berjumpa dengannya dan tidak sempat memberikan salam perpisahan kepadanya. Mungkinkah ini menjadi tanda bahwa dia bukan ditakdirkan untukku.

Previous post Karena Dia Telah Ada
Next post Jarak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.