SANDARANKU TELAH BERPALING PADA YANG LAIN

Desiran angin pagi berbisik di telingaku, menembusi nadi yang telah kaku. Aku mencoba memeluk erat tubuhku melawan dinginnya pagi namun tak kuasa hingga aku pun mengalah dan mulai tuk melangkah mencari seberkas cahaya hari ini. Pagi yang cerah menyapaku, menyambut dan tersenyum kepadaku. Apakah aku siap untuk menoreh kisah hari ini? Tanpa basa-basi dan protes terhadap waktu, akupun mulai menjalani kisahku hari ini. Hati terasa bahagia, mengenal dan menikmati setiap alunan langkahku.

Aku selalu bergejolak mengintai setiap kisah hidup yang penuh dengan misteri. Kaki ini terus melangkah menelusuri tapak-tapak indah yang menantiku di depan sana. Panasnya terik mentari tidak menghentikan niatku untuk terus berpetualang menjelajahi duniaku. Perlahan-lahan kumelangkah sambil melambaikan tangan penuh sukacita, menebarkan senyum termanisku pada mereka yang memandangku. Tak kuhiraukan apa kata mereka, tapi yang pasti bahwa aku ingin menikmati hariku dengan sukacita. Waktu terus berlalu dan saat ini dia hendak menenggelamkan dirinya untuk menyampaikan salam perpisahan pada dunia siang dan disambut bintang malam yang selalu menerangi malam indahku. Malam berbintang menemani langkahku. Dalam diam sambil memandang dunia malamku, aku terus berjalan hingga kutemukan tempat yang indah, hijau, sejuk dan penuh ketenangan. Kumencoba mendekati pemandangan itu dan entah mengapa mataku terhenti pada sebuah bayangan yang menyapaku untuk mengenalnya. Tanpa berkedip, aku terus memandang bayangan itu dan perlahan-lahan aku mengalihkan pandangku melihat wujud asli dari bayangan itu. Memandang wajahnya, sejenak kutertegun dan sungguh membuat jantungku berdebar seakan-akan disambar petir dan kutak mampu untuk menghentikannya. Dengan langkah kaku, kumencoba untuk mendekatinya dan berdiri kira-kira satu meter disampingnya. Tak ada kata yang terucap. Semuanya membisu, tak tahu entah dari mana dan bagaimana aku akan membuka percakapan ini. Sejenak kumemandang wajahnya namun dia tidak menghiraukanku. Namun hal itu tidak menguburkan niatku untuk mengenalnya. Kutetap bertahan disampingnya dan sekali lagi melirik ke arahnya. Tatapanku segera memberikan jawaban kepadaku. Dia dengan tersipu malu melirik kepadaku dan sambil menebarkan senyum manisnya kepadaku seakan memberiku kode untuk selalu mendekatinya. Mata ketemu mata. Aku pun memberanikan diri untuk berdiri lebih dekat dengannya. Segera ku menyapanya dan mengajaknya untuk berkenalan. “Hai”, sapaku dengan nada pelan dan dengan mulut yang kaku. “Hallo”, jawabnya spontan namun tampak malu-malu. “Aku Rein”, kataku. “Aku Rani”, jawabnya. Mendengar suaranya yang merdu dan hangat, harapan untuk terus berani mendekatinya menjadi maksimal. Aku pun mulai membuka percakapan dan hatiku berdegup kencang namun penuh rasa cinta, dia meresponku semua candaku dengan senyum wajahnya yang manis.

Previous post Karena Dia Telah Ada
Next post Jarak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.