Masih Ada Bekas Lipstik Pada Bibirmu

Tidak menarik hidup sebagai anak yatim. Apalagi aku hanyalah buah percintaan yang tidak diinginkan oleh keluarga ibuku sendiri. Masalah itu kini menjadi buah bibir masyarakat. Perempuan yang aku sapa ibu menanggung aib akibat dosa asal yang membekas pada dirinya dari  laki-laki biadab yang tidak tanggungjawab. Tepatnya ayahku. Tapi aku sadar, air maninyalah yang menciptakan aku hingga umurku berangka dua puluhan sekarang. Sejak saat itu aku putuskan untuk hidup menjomblo karena aku tidak mau penderitaan yang dialami oleh ibu, dialami juga oleh perempuan lain.

Waktu berputar begitu cepat, hingga riak-riaknya menjulur menciptakan sebuah tahun. Aku ingat  malam itu, aku menghadiri pesta ulang tahun Veronika, teman SD-ku dulu. Aku jatuh cinta dengannya sejak SMA. Paras ayu dan senyumnya yang santun menyerupai purnama membuatku jatuh berkali-kali dan hampir setiap malam kasurku basah akibat onani yang aku ciptakan sendiri. Hari-hariku terasa monoton dan aku bisa mati berdiri karena bosan. Karena itu, anak yatim sepertiku selalu punya cara tersendiri menghibur diri sendiri. Menyanyi keras-keras dalam kamar kalau lagi suntuk. Lari-lari keliling rumah kalau sedang nafsu- sebab kalau tidak, ujung-ujungnya pasti onani sambil membayangkan wajah Veronika atau teman-teman kampungku yang semok.

“Jangan keseringan onani seperti itu. Kau akan punya cinta yang luar biasa dan meniduri berapa banyak perempuan yang kau mau.” Ungkap Goris, sahabat sekaligus temanku. Entah dari mana dia dapat teori seperti itu, tapi dia mengucapkannya dengan begitu serius. Ocehannya selalu bisa mengusir kesepian dan kepenatan di rumah. Tidak ada hari yang lewat tanpa tertawa kalau dia ada. Pernah suatu kali aku dibuatnya tertawa sampai terkencing-kencing di celana. Karena itu, belakangan ini aku tidak pernah lupa membeli celana dalam setiap kali belanja di pasar.

Rumah Veronika berdekatan dengan rumahku. Sering tanpa sengaja aku mengintainya mandi. Tubuhnya yang semok, mata yang lentik, hidung mancung, kulit cerah, rambut air terurai hingga pinggul, dan bibir yang selalu menyimpan senyum teramat manis. Dan aku akui saat melihat hal seperti itu, ujung-ujungnya kasur menjadi tempat perhentian terakhir untuk nafsu. Veronika memang pandai menyulam senyum tapi juga pandai membangkitkan sesuatu dalam diriku yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Veronika adalah gadis kelahiran Jawa dan rata-rata orang Jawa seperti itu, sehingga tidak heran kalau Goris ingin sekali menikah dengan orang Jawa seperti Veronika. Aku ingat laki-laki yang tidak tahu malu, pohon yang menumbuhkan aku ke dalam rahim ibu. Dia adalah keturunan Jawa sama seperti Veronika. Dia laki-laki yang tampan. Kata ibu, aku mempercayainya sebab aku belum pernah melihatnya. Dia tidak mati. Dia hanya tidak ada di sini. Dia diusir oleh nenekku-ibu dari ibuku yang tidak setuju menghamili anak perempuan sulungnya. Nenek sangat terpukul karena ibu hamil saat ibu baru berumur delapan belas tahun. Luka yang begitu dalam yang diciptakan laki-laki yang tidak tahu malu. Sejak saat itu ibu memutuskan untuk berhenti sekolah dan merawat aku.

Jangan lupa baca artikel berikut :

MAKA PANJANGLAH LENGKING TAWA IBUKU
LILIN-LILIN TELAH PADAM
HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS
Berbeda Bukan Berarti Kita Bermusuhan

Previous post Puisi-Puisi Andreas Gooten
Next post Covid 19 Tak Kunjung Berakhir, Inilah Yang Dirasakan Mahasiswa Rantau

Tinggalkan Balasan

Social profiles