LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT

LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT

 

Kakinya terseok melangkah perlahan. Ujung-ujung jarinya yang kotor tampak menyedihkan mencuat dari sandal jepit yang dipakainya. Sesekali tangannya menyeka air mata yang mengalir. Mulutnya berkomat kamit mengucapkan sesuatu.

“Aku harus bisa bertahan, aku harus bisa hidup sendiri. Aku punya otak, punya tangan dan kaki. Aku pasti bisa..” desahnya berulang kali.”

Gadis kecil itu terus melangkah, menelusuri parit kering di tepi jalan. Tampak rumah rumah yang megah menjulang seakan mengejeknya. Gaun terusan warna biru yang dikenakannya tampak melekat pada tubuhnya.

“Mama jahat.. mama jahaaatt.. aku benci mama.. isaknya..

Sambil melihat parit kering di sepanjang jalan yang dilaluinya, ia berpikir apakah mungkin ia bisa sembunyi dan tidur di dalam parit malam ini.

Dari kejauhan ia melihat sekelompok pria sedang bergerombol menatapnya. Hatinya tercekat. Haruskah aku belok.. haruskah aku putar balik.. tangannya yang mungil menggenggam erat tepi gaunnya. Hatinya berdebar keras.

“Tulisan di atas merupakan cuplikan dari Novel berjudul “Lembayung DI Kaki Bukit” yang sementara dalam tahap akhir penyelesaian oleh Sari.K

LILIN-LILIN TELAH PADAM Previous post LILIN-LILIN TELAH PADAM
Next post HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

Tinggalkan Balasan

Social profiles