HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

Perempuan itu tersenyum, ketika air mata menetes lagi dari pipinya. Kali ini Merkurius tak mampu lagi membendung air mata. Maka di bahwa hujan yang luruh dari langit Kota Malang, kedua insan pencinta itu meruntuhkan air mata. Antara haru, sedih, bangga dan bahagia bercampur jadi satu. Mereka percaya bahwa air mata yang berderai itu mengalir dari mata air surga.

Perjalanan pulang menyusuri Jalan Sukarno-Hatta menuju Blimbing mereka lewati dengan diam. Kabut dari aspal yang menguap menemani mereka, seperti dupa yang dikirimkan bumi kepada surga.

Malang, 26-27 November 2018


[i] Dialek Kupang yang berarti Tidak.

[ii] Dialek Kupang yang berarti Punya, Milik.

[iii] Dialek Kupang yang berarti Juga.

* Ino Sengkoen adalah putra kelahiran Dili, 29 Oktober 1989. Menyelesaikan pendidikan sarjana dari Fakultas Filsafat Agama Universitas Widya Mandira Kupang. Kini sedang melanjutkan pendidikan pascasarjana dalam bidang Studi Ketahanan Nasional di Universitas Brawijaya Malang. Tertarik menulis cerpen, puisi, essay dan fiksimini. Pernah bergabung dalam Komunitas Sastra St. Mikhael Kupang dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Beberapa tulisannya pernah dimuat dalam koran-koran lokal NTT seperti Timor Express dan Pos Kupang, jurnal sastra Filokalia dan beberapa buletin lainnya. Sedang mempersiapkan buku kumpulan cerpennya yang pertama. Dapat dihubungi via WA 0852379136852 atau email Sengkoenmariano@yahoo.co.id.



LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT Previous post LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT
O'Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial Next post O’Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial
Social profiles