HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

“Sejak awal saya sudah bilang, ada dua tipe perempuan yang paling saya benci. Pertama, yang suka foya-foya. Kedua, yang mudah menyerah.”

 Perempuan itu menundukkan kepalanya. Air matanya terus berderai.

“Kau tidak akan bisa jadi istri dan ibu yang baik kalau kau suka hidup foya-foya atau mudah menyerah. Perempuan sudah ditakdirkan untuk lahirkan kehidupan dengan cara mempertaruhkan nyawanya sendiri. Saya tidak pacari kau tanpa rancangan tentang bagaimana kita pung[ii] hidup di masa depan dalam saya pung kepala.”

“Sudah kak. Cukup.”

Perempuan itu merebahkan kepalanya pada dada Merkurius. Dipeluknya erat laki-laki yang akan segera menginggalkannya untuk pulang dan menantinya di kampung halaman. Tangisannya kali ini diringi erangan yang perih. Sakit.

Semua kenangan tentang Merkurius menyesaki kepala perempuan itu. Dia ingat betul simpatinya pada Merkurius berawal ketika menyaksikan kedewasaan dan kegigihan laki-laki itu untuk memperjuangkan apa yang menurutnya baik dan benar untuk organisasi mahasiswa kedaerahan mereka di kota ini. Laki-laki ini disegani karena kebenarannya dan disenangi karena kebaikannya. Dia seperti revelasi sempurna dari pepatah keras dalam prinsip namun halus dalam cara. Bahkan ketika menghadapi getir hidup saat kematian merenggut ayahnya kembali ke pangkuan surga setahun yang lalu, Merkurius rapi menyembunyikan kesedihannya sekedar untuk menunjukkan bahwa hidup menyediakan terlalu banyak hal untuk disyukuri daripada disesalkan. Kesedihan mesti menjadi motivasi perjuangan.

“Kak, jangan kasi tinggal saya.”

Merkurius tidak menjawab. Dipeluknya erat perempuan yang menangis di dadanya. Bibirnya ditempelkan pada kepala perempuan itu. Ada kalanya perempuan melontarkan pernyataan atau pertanyaan tidak untuk meminta jawaban. Dan hal sesederhana itu sudah dipahami secara amat baik oleh Merkurius. Hidupnya banyak dikelilingi perempuan-perempuan yang mencintainya dengan tulus, mulai dari ibu dan saudari-sadarinya serta teman-teman yang selalu mendukungnya. Sebagai lelaki, dia paham banyak rahasia perempuan.



LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT Previous post LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT
O'Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial Next post O’Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial
Social profiles