HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

“Nona tahu planet Merkurius? Merkurius itu planet yang paling dekat dengan matahari. Saking dekatnya, untuk berputar keliling matahari, Merkurius hanya butuh delapan puluh delapan hari. Coba bandingkan dengan bumi. Kau matahari.”

Perempuan itu memejamkan matanya. Dia tahu benar laki-laki yang sedang membelai rambutnya ini adalah seorang pembaca yang tekun. Karena itu dia punya wawasan yang luas. Ketika pertama kali berkenalan dan perempuan itu mulai merasakan ada perasaan yang menyelip masuk dari jabatan tangan dan tatapan Merkurius, ia telah banyak mencoba mencari-cari arti nama yang aneh itu. Dalam salah satu bacaan dia temukan bahwa Merkurius adalah nama salah satu Dewa orang Romawi, yang menjadi pelindung urusan keuangan, perdagangan dan puisi. Di tempat lain, dia dapati informasi bahwa nama planet ini pernah disebut orang Yunani sebagai Herme, seperti nama tokoh dalam mitologi Yunani yang menjadi penafsir pesan dan komunikator antara para dewa dan manusia. Dan perempuan itu paham betul, laki-laki yang sedang membelai rambutnya ini mewarisi kekayaan arti nama-nama itu dalam dirinya.

“Kemarin UTS bagaimana?”

“Aman kak. Sisa satu tugas yang belum saya kumpul. Enak e, macam kak yang sudah wisuda begini.”

Merkurius baru saja diwisuda sebagai seorang sarjana teknik dari kampus Widyagama. Barangkali hanya ini satu-satunya keganjilan Merukrius. Seharusnya dia mengambil jurusan ekonomi, sastra atau geografi, sesuai namanya. Namun pembangunan di kotanya di Nusa Tenggara Timur sana masih butuh banyak sarjana di bidang teknik. Ekonomi itu ilmu orang-orang yang peduli pada urusan uang, sastra diminati mereka yang memuja imajinasi sebagai pemantik perubahan, sementara geografi adalah ilmu yang tidak cukup hanya dipelajari selama empat tahun di bangku perkuliahan. Sudah lama Merkurius mahfum bahwa menjadi berguna lebih mulia daripada menjadi berhasil. Jika kau berhasil, dunia berpihak padamu, namun saat kau berguna, kaulah yang berpihak pada dunia. Merkurius memilih yang kedua. Teknik adalah jalan untuk berpihak pada dunia, paling kurang di daerah asalnya.

“Kau juga nanti sampai di titik itu. Tetap semangat e, Nona.”

“Bagaimana saya bisa tetap semangat pas kak sonde ada dekat saya?”

“Hee, sejak kapan kau jadi lemah begini?”

Air mata menetes di pipi perempuan itu. Merkurius lebih peduli pada kalimat yang sementara disusun di kepalanya untuk melanjutkan pertanyaan retorisnya tadi.



LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT Previous post LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT
O'Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial Next post O’Riordan, Zombie dan Generalisasi Sosial
Social profiles