Review The Old Man and The Sea Oleh Ernest Hamingway

Judul : The Old Man and The Sea / Lelaki Tua dan Laut  Penulis : Ernes Hamingway Penerbit : Narasi, Jl. Cempaka Putih, No 8, CT X, Gejayan, Yogyakarta 55283. Telpon : (0274) 555939, 556043. Faks : (0274) 546020. ISBN : 979-168-453-9 ISBN : 978-979-168-435-4 Cetakan : II Tahun 2015Halaman : 163 

Nadireview- Ernes Hamingway adalah seorang penulis dan jurnalis asal Amerika, Ayahnya seorang ahli fisika dan ibunya seorang musisi. Sebelum aktif dalam dunia kepenulisan Ia pun turut terlibat aktif dalam perang dunia 2, juga sempat menjadi seorang reporter saat perang saudara di Spanyol. Yang ditugaskan oleh media tempat Ia bekerja North American Newspaper Alliance.

Novel Ernes Hemingway

Melalui Karyanya The Old Man and The Sea membuat Hamingway menjadi terkenal, Ia berhasil meraih Pulitzer Prize pada 1952 dan mendapat Nobel Prize dalam bidang sastra. Hamingway menulis karya The Old Man di Kuba pada tahun 1952 selama delapan minggu dan menggunakan nama Santiago untuk Tokoh utama yang dikenal dengan Lelaki Tua, banyak nilai-nilai kehidupan dan pesan-pesan moral yang sangat kuat dalam novel tersebut. 

The old man and the sea adalah sebuah novel yang mengisahkan tentang perjuangan seorang lelaki tua untuk mempertahankan hidup sebagai seorang nelayan, dengan berhari-hari tanpa mendapatkan seekor ikan pun selama 84 hari lamanya. Ia hanya tinggal seorang diri di gubuk tua dan memiliki teman seorang bocah kecil yang sering menemaninya bercerita dan bahkan memancing. 

Namun karena ketidak beruntungnya Dia hingga suatu saat orang tua bocah lelaki itu melarangnya untuk pergi melaut bersama si lelaki tua, begitu juga juga nelayan-nelayan lain yang menertawakan Dia atas ketidak beruntungan yang di alaminya, meskipun begitu Ia tidak pernah marah dan hidup penuh panjang sabar yang melampaui dirinya, adapun nelayan-nelayan tua lainya yang menatapnya penuh rasa iba, namun hal itu tidak mereka tunjukan secara langsung kepdanya, mereka berbicara dengan penuh rasa sopan dengannya mengenai arus air laut dan kedalaman kail yang dilepas mereka. 

Hingga suatu ketika Santiago si lelaki tua memutuskan untuk berlayar lebih jauh lagi dari teluk, Ia berlayar hingga lautan lepas samudra Atlantik, disana Ia berjuang berhari-hari di tengah lautan tanpa seorangpun, hanya berteman burung-burung yang mencari makan dari ikan-ikan terbang yang berlomba-lomba berenang ria di tengah lautan. 

Previous post Menulis adalah Investasi di Era Digital
Next post Bagaimanakah “Cantik” Menurutmu ? Simak Ulasan Berikut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.