Puisi-puisi Rikardus Mantero

Aku bukan kau!

Jika aku adalah kau
Mengapa kau menghinaku?
Jika kau adalah aku
Kapankah kau datang melihatku di sini?
Dasar bangsat!
Kau itu bukan aku, dan aku bukan juga kau.
Kau itu penipu, tapi aku tidak!
Kau itu pencuri, tapi aku tidak!
Kau itu perampok, tapi aku tidak!
Kau itu pengkhianat, tapi aku tidak!
Kau itu pembunuh, tapi aku tidak!
Sekali lagi, aku bukan kau, kau bukan aku.

Catatan Usang

Catatan itu tergeletak tak terjamah
Orang-orang hanya melihatnya dari seberang jalan
Tak seorang pun peduli,
Dialah si catatan usang.
Wahai engkau si catatan usang
Ku tahu engkau tentu paham
Dunia yang kian enggan bertransformasi
Memilih berdiam pada statisitas
Demi sang pujaan hati si kenikmatan palsu.
Wahai catatan usang
Meski dunia tak mencintaimu lagi
Walau mereka memandangmu sebelah mata
Aku tetap di sini untukmu,
Karena dikaulah permata di hatiku selamanya.
Wahai catatan usang
Mari kita bersenyawa
Dari yang usang dan akan tetap usang
Sampai dunia tak lagi usang.
Marilah!

Kopi

Kopi itu hitam, dia tidak putih
Kopi itu pahit apalagi jika tanpa gula
Tapi dia berikan kehangatan, juga kenikmatan
Lain daripada minuman lain.
Kopi itu menetaskan seribu inspirasi
Membangkitkan sejuta imajinasi
Merangsang memori
Tapi ingat kawan, dia bukan fiksi
Dia itu valid, sebuah faktum.
Duniaku ini butuhkan ‘kopi yang bernyawa’
Kopi yang punya nyali
Membangun dunia
Memperjuangkan kehidupan
Bukan demi ‘aku’ tapi demi ‘kita’
Mampukah kita menjadi ‘kopi yang hidup’?

Yang Lama menuju Yang Baru

Di bawah naungan sang rembulan
Yang bertakhta di cakrawala
Aku duduk dan termenung
Memikirkan tentang “Yang Lama” dan “Yang Baru”.
Aku bergulat dengan keduanya,
Menyatu sembari menerobos batas pengertian dan makna keduanya.
Bagiku, “yang lama” adalah mantan,
dan “yang baru” adalah gandengan penuh hasrat.
Namun, “yang lama” bukan sekadar mantan.
“Yang lama” adalah kisah penuh kenangan dan memori penuh rasa syukur.
Mengapa kawan-kawan?
Karena “yang lama” mengandung suka-duka, hitam-putih, pahit-manis dan gelap-terang hidup kita.
“Yang lama” memberiku banyak pelajaran berharga, entah itu kesuksesan maupun kegagalan.
“Yang lama” menunjukkan jalan menuju “yang baru”.
“Yang lama” menjadi warisan usang yang menguatkan langkahku menuju “yang baru”.
“Yang lama” menjadi cahaya dan terang bagi “yang baru”.
Lalu, apa itu “yang baru” kawan-kawan?
“Yang baru” itu adalah harapan, mimpi dan cita-cita.
“Yang baru” menjadi api yang berkobar tuk mentransformasi “yang lama”.
Wahai kawan, mari, mari, mari bergerak bersama dari “yang lama” menuju “yang baru”.
Sebab, “yang baru” telah menanti jamahan dan sentuhan kita, kawan-kawannya.

Previous post KEADILAN BUTUH REVOLUSI MORAL!
Next post Pembubaran Paksa Aksi Aliansi Mahasiswa Papua Lantaran Sering Menggunakan Simbol Papua Merdeka

One thought on “Puisi-puisi Rikardus Mantero

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.