Provinsi NTT: Bersolek Pada Hutan Terbakar dan Berkaca Pada Sampah

Realitas Masalah Lingkungan NTT

Pengantar

Miris, pada tahun 2019 Kementrian Lingkungan Hidup  menempatkan Kota Kupang sebagai salah satu kota terkotor di Indonesia.  Bersamaan dengan itu  bahkan Gubernur NTT, Viktor Laiskodat pada suatu kesempatan juga memberikan penilaian bahwa  Kota Kupang adalah kota terjorok di NTT (Victorynews, 2019; Sayran dan Tamunu: 2020). Apa yang harus dibanggakan dari ini? Semacam mendapat penghargaan atas sesuatu yang tidak perlu atau ibarat memperoleh piala atas aib. Banyaknya sampah yang dihasilkan bahkan bisa membuat semua orang Kupang bercermin padanya; seandainya seluruh sampah itu berjenis kaca. Di saat yang bersamaan ada kebakaran hutan terjadi saat para pelaku kejahatan hutan itu tengah bersolek dengan membuang sampah plastik bekas make-up di pinggiran taman nostalgia Kota Kupang .

Realitas Masalah Lingkungan di NTT

Pada tahun 2019 dalam liputan Republika.co.id dalam wawancaranya dengan ahli Bidang Daerah Aliran Sungai dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Michael Riwu Kaho ditemukan bahwa NTT mengalami kerusakan lingkungan yang serius dimana setiap tahunnya terdapat 15 ribu hektar hutan yang rusak di NTT. Dalam wawancara tersebut juga diketahui bahwa hasil-hasil penelitian ilmiah menunjukkan kawasan hutan NTT mungkin tinggal tersisa lima sampai enam persen saja pada kurun 2040 sampai 2050.

Selanjutnya, CNN dalam liputannya 05 April 2021 dengan Direktur Eksekutif Walhi NTT Umbu Wulang T Paranggi mengatakan bahwa bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi di NTT turut disebabkan oleh kerusakan lingkungan dimana adanya alih fungsi lahan, pertambangan dan penambakan liar. Dalam wawancaranya Beliau memberikan contoh di Kabupaten Malaka yang sering menjadi langganan banjir; salah satu alasannya adalah karena terdapat pembangunan di kawasan hulu hingga terdapat kawasam pertambangan di daerah sungai dan hulu.

Mendukung fakta-fakta di atas dalam wawancara dengan media kompas pada minggu 15/8/2021, Koordinator Dewan Nasional Perempuan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Bali Nusa Tenggara, Aleta Baun di Kupang, mengungkapkan bahwa kerusakan lingkungan di NTT memprihatinkan. Hutan rindang dan berbagai jenis satwa makin sulit ditemukan khususnya di dua Pulau di NTT yakni Pulau Timor dan Pulau Sumba.

Wakil bupati Manggarai Timur Jaghur Stefanus dalam sambutannya yang diliput oleh Elshinta.com pada 03 Juni 2021 juga menyadari bahwa Manggarai Timur mempunyai kawasan hutan seluas kurang lebih 57.771,59 ha; lahan kritis di dalam kawasan hutan seluas 20.985,42 ha; dan lahan kritis di luar kawasan hutan kurang lebih 24.000 ha.

Baca juga:

Manfaat Sabun Cair dari Bahan Alami bagi Masyarakat Desa Lorotolus-Wewiku-Malaka
6 Destinasi Wisata NTT Membuat Liburanmu Makin Berwarna
Harga terbaru bahan bakar di NTT sesuai Perpres terbaru nomor 69
Cara Menjaga Kesehatan Otak
Amunisi terbaru Arsenal

Previous post Manfaat Sabun Cair dari Bahan Alami bagi Masyarakat Desa Lorotolus-Wewiku-Malaka
Next post Hiatus Para Koruptor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.