Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Bagi Kierkegaard, manusia adalah individu bagi dirinya sendiri, tetapi manusia juga individu di hadapan Tuhan. Hubungan antara manusia dengan Tuhan adalah sesuatu yang unik (Bertens, 1993: 83). Hal ini seperti yang sudah dijelaskan, bahwaAbraham dengan diri yang otentik menjadikan dia makhluk yang rohani. Abraham secara kualitatif berbeda dari manusia yang lain. karena mampuh mencapai ranah religius yang adalah puncak dari eksistensi individu. Sebagai mana yang di gambarkan oleh Kierkegaard dalam situasi sulit Abraham tetap mempertahankan imannya meskipun galau, kelisa dan merana melingkupinya. Sikap inilah yang menjadikan dia sebagai kesatria iman.

Penderitaan adalah realitas hidup manusia, bahkan realitas keseharian. Memang sesuatu yang menyakitkan, namun dalam penderitaan kedewasaan eksitensis kita di uji. Dalam situasi macam ini acap kali kita mempersalahkan Tuhan, Tuhan telah murka sehingga Dia mengirimkan penyakit ke bumi. Pengertian seperti ini membuat manusia mengalami keputusasaan bahkan sampai ada yang bunuh diri. Jika demikian terjadi perluh menguji eksistensi atau cara manusia itu berada. Kierkegaard berpendapat bahwa dalam bereksistensi, manusia secara terus-menerus berjuang untuk memilih dan membuat keputusan personal terkait dengan cara ia hidup, bertindak, dan memilih jalan kehidupan. Pada situasi ini juga manusia dituntut untuk mengambil keputusan, yakni menyalahkan Tuhan atau melihat situasi sulit menjadi kesempatan untuk membenah diri. Membenah diri berarti melakukan rekonsiliasi dengan alam ini. (https://www.betangfilsafat.org)

Penutup
Pandemik yang masih menjalar saat ini merupakan jenis penyakit yang mengerikan dalam sejarah peradapan manusia. Bayak orang mengalami ketakutan, kecemasan, kegelisahan, bahkan ada yang mengalami keputusasaan. Dalam situsai ini banyak orang yang bertanya apakah penyakit ini datang dari Tuhan? Atau dari alam?. Masa Tuhan menyangkal kasih-Nya, Dia membiarkan manusia menderita. Anggapan ini tidaklah benar, sebab Tuhan itu Maha kasih dan Ia tidak pernah mengingkari kasih-Nya. Dengan pandangan macam ini seakan eksistensi manusia hanya dibatasi oleh satu aspek. Namun, pengalaman penderitaan menjadikan manusia semakin tahu tentang dirinya, artinya orang semakin sadar dan mengenal dirinya dengan baik guna mencapai kesempurnaan. Dalam hal ini, pemikiran Kierkegaard mengajak kita untuk semakin menyadari keberadaan kita dalam situasi susah ini. Sebagaimana sikap yang ditunjukan oleh Abraham yang membiarkan dan menyerahkan anaknya kepada Allah. Sesungguhnya Abraham percayah bahwa Allah yang ia imani tidak pernah menyangkal kasih-Nya. Pada titik ini iman Abraham mengalami lompatan yang luar biasa. Sehingga ia disebut sabagai kesartria iman.

Previous post Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)
Next post PANDEMI COVID-19 MERONGRONG IMAN DAN IMUN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.