Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Eksistensialisme Kierkegard
Filsuf kelahiran Denmark ini, namanya menjadi terkenal karena buah gagasanya yang telah mempenaruhi banyak pemikir besar dan dia juga mendapat julukan sebagai bapak eksistensialisme. Menurut Kierkegaard, manusia dapat memproleh makna hidupnya hanya melalui komitmen yang tegas dan yang menentukan hidup. Berusaha mencapai kesatuan yang menyeluruh dengan memperhatikan dimensi abadi hidupnya. Eksistensi dalam hal ini, bukanlah keadaan akhir atau produk yang sudah selesai, melainkan perjuangan yang terus menerus. Menjadi pribadi yang sungguh mengada berarti melibatkan diri dalam proses sulit yang bertujuan untuk mengungkapkan kedirian seseorang. (Tjaya, 2018:102). Pergulatan yang dialami oleh setiap orang sekarang ini merupakan bagian dari proses untuk menjadi diri sendiri. Pandemik adalah sesutu yang datang dari luar diri manusia dan konsekuensinya tidak selamanya berakibat buruk. Tergantung bagaimana situasi dan keadaan diri dalam menghadapi situasi yang sedang terjadi (pandemik).

Dalam sickness unto Death, Kierkegaard, dengan nama samaran Anti-Climacus, membahas cara-cara yang dapat digunakan dalam menghadapi masalah eksistensi manusia yang paling mendasar yakni kebutuhan untuk mengungkapkan hakikat temporal dan abadi manusia. Ia mengambarkan tiga hal yang membuat manusia gagal dalam menghadapi masalah ini yakni: pertama; manusia tidak menyadari bahwa dirinya adalah sintesis antara yang mewaktu dan yang abadi. Dalam situasi ini manusia merasa hidup yang telah dijalani semuanya baik dan bahagia pada hal sebenarnya tidak, karena bergantung pada hasrat indrawi. Kedua; sikap dinama sudah menyadari bahwa dirinya sebagai yang terbatas dan yang abadi. Namun, ia hanya terlarut dalam diri yang termporal tanpa melihat yang abadi dalam diri. Ketiga; sikap ingin menjadi tuan atas diri sendiri dan menolak bantuan dari luar yakni bantuan ilahi. (Tjaya, 2018:103-107).

Selain itu juga eksistensis manusia berada dalam situasi kegalauan atau sedangan dalam pergumulan hidup. Bahkan eksistensi semacam ini akan menyebabkan keputusasaan. Di sini Kierkegaard menyebutnya bahwa orang tidak mau lagi menajadi dirinya.(Garot, 2017:57) Sebab orang yang putus asa adalah mereka yang menyerag untuk berusah karena tujuan tidak memungkinkan. Ketika kebosanan atau rasa galau melanda karena merasa hidup yang selaman ini dijalani penuh kepalsuan atau tidak autentik, orang perlu intropeksi diri terhadp gejala ini untuk mengubah diri menjadi autentik. (Garot, 2017: 57)

Previous post Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)
Next post PANDEMI COVID-19 MERONGRONG IMAN DAN IMUN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.