Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Arsensius Roiman Baruk

Pengantar
Dunia kini sedang berduka sebab korona masih meraja. Banyak nyawa manusia telah melayang akibat ganasnya covid 19. Seluruh lini kehidupan mengalami benturan dengan situasi yang semakin tak menentu. Di setiap Negara mengalami krisis akibat pandemik yang belum kunjung leyap dari kehidupan manusia. Berita kematian menjadi hal yang tidak mengagetkan lagi, karena kematian seolah-olah sudah menguasai manusia. Tentu realitas inilah yang membuat manusia menderita dan mengalami keputusasaan, kegalauan dan kegelisahan hidup. Dalam situasi ini ungkapan “kehampaan meresapi keberadaan (eksistensi)” mengundang perhatian kepada sifat eksistensi yang lemah dan tak mudah ditangkap. Sifat lemah itu diungkapkan dalam pemikiran tentang “kemungkinan kematian setiap saat”. ( Widyamartaya, 2001:42).

Lantas, apa yang menjadi kekuatan bagi manusia berhadapan dengan realitas yang kian mengeruh. Semua orang tidak lagi bebas untuk berpapasan kerena takut terinfeksi wabah yang masih menjalar. Komunikasi dan kolaborasi sebatas layar kaca sudah membosankan. Di sisi lain covid 19 ini juga dapat mengguncangkan semangat manusia dalam bereksistensi. Bahkan sampai ada yang bertanya: apakah alam sudah mulai tidak bersahabatan dengan manusia? Atau apakah ini hukuman dari Tuhan? Dan masih banyak pertanyaan lainnya. Pertanyaan-pertanyaan macam ini merupakan pertanyaan yang sangat eksistensial karena berhungan dengan keberadaan manusia sebagai makhluk yang mewaktu dan yang abadi. Orang mempertanyakannya karena mengalami kegelisahan dan ketakuta. Seolah-olah covid 19 ini menjadi pembunuh yang mematikan.

Pergumulan manusia dengan pandemik melahirkan perasan-perasan negatif khas seorang manusia: kecemasan, kebosanan, ketakutan serta keputusasaan. Perasaan macam inilah yang selalu muncul ketika manusia mencoba menyelami keberadannya sebagai makhluk yang terbatas. Dengan eksistensialisme Kierkegaard kita melihat pergulatan hidup manusia berhadapan dengan pandemik yang masih menjalar dan bahkan tak terdeteksi kapan berakhir.

Previous post Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)
Next post PANDEMI COVID-19 MERONGRONG IMAN DAN IMUN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.