PANDEMI COVID-19 MERONGRONG IMAN DAN IMUN

Iman dan Imun di Tengah Pandemi Covid-19
Iman dan imun merupakan hal yang penting bagi manusia karena didalamnya terdapat kekuatan spiritual dan psikologi. Kekuatan spiritual dan psikologi dalam diri manusia sangat esensial sebab dapat menjamin keselamatan jiwa dan raga. Oleh karena itu, bagi mereka yang kehilangan iman dan imun dapat menyebabkan mereka kehilangan harapan akan keselamatan jiwa dan raga. Berdasarkan fenomena yang terjadi di dunia dewasa ini iman dan imun manusia sementara dirongrong oleh pandemi covid-19. Motif ini terjadi karena aktivitas untuk meningkatkan iman dan imun diperhambatkan oleh dampak pandemi covid-19.

Berkaca pada fenomena yang terjadi di dunia dewasa ini bahwa iman dan imun manusia sementara dirongrong oleh pandemi covid-19. Maka, perlu adanya berbagai cara untuk mengatasi persoalan ini agar iman dan imun yang dirongrong dapat kembali pulih sebagaimana mestinya. Salah satu cara yang perlu dilakukan untuk mengatasi persoalan iman yang sementara dirongrong oleh pandemi covid-19 adalah tetap beriman terhadap revelasi Allah dengan melakukan tindakan nyata seperti, cinta kasih, doa, dan Ekaristi walaupun di tengah pandemi covid-19. Tindakan cinta kasih, doa, dan Ekaristi yang dilakukan di tengah pandemi covid-19 perlu, menaati protokol kesehatan, saling mempedulikan satu sama lain, mulai dari yang paling lemah, tetap berdoa dan berharap kepada Tuhan agar memberi kita mata yang penuh perhatian kepada saudara-saudara kita, terlebih mereka yang menderita (Krispurnawa, SJ, 2020: 8-9), dan tetap menerima Tubuh dan Darah Kristus secara baik lewat perayaan Ekaristi yang dilakukan secara virtual.

Adapun berbagai cara yang perlu dilakukan untuk miningkatkan imun atau sistem kekebalan tubuh di tengah pandemi covid-19 seperti, tetap tenang dan tidak takut hingga stres di tengah pandemi covid-19. Tetapi, harus menerimanya bahwa dampak pandemi covid-19 memiliki arti tersendiri bagi setiap ingsan seperti yang dikatakan oleh Viktor Frankl dalam menghadapi berbagai persoalan dalam hidupnya bahwa setiap kita harus tetap berharap akan kehidupan manusia, meskipun dalam keadaan-keadaan gawat, dapat bercirikan arti dan maksud. Kehidupan dapat mengandung arti sampai momen kehidupan yang terakhir. Sejauh kita sadar, kita diwajibkan untuk menyadari nilai-nilai. Itulah tanggung jawab manusia yang tidak dapat dielakan jika kita memelihara kesehatan psikologi (Yustinus, MSC, 1991: 157) .

Tentang Penulis
Adrianus Berek. Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, suka menulis sejak masuk seminari Hati Maria Claret Kupang, tidak hanya menulis tetapi juga telah membaca banyak tulisan di media sosial seperti: Kompas, Pos Kupang dan lain sebagainya. Adrian mulai aktif menulis ketika masuk universitas Widia Mandira Kupang Fakultas Filsafat.

Previous post Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard
Next post Colombia Menang 3 – 2, Saksikan Final Brasil VS Argentina Besok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.