PAHLAWAN YANG DILUPAKAN

Sosok anak kecil yang beranjak remaja, umurnya sekitar 15 tahun , berdiri tegak di atas bebatuan di puncak gunang, dengan mata polos memandang sekeliling sambil mencari sesuatu yang sudah beberapa tahun hilang ditelan waktu. Genggaman tangannya semakin kuat. Dia begitu antusias ketika melihat dengan tajam sesosok gambaran yang tak nyata dan tak kasat mata. Tapi disadari mata polos itupun mengeluarkan airmata kekesalan sambil diiringii gertakan gigi yang penuh dengan emosi.

10 tahun sudah cerita itu berlalu begitu saja, tidak ada ceremonial peringatan tentang peristiwa itu. Semua hanya sejarah yang terbelakang dan terlupakan. Apakah generasi yang akan datang masih akan mendengar cerita asal nenek moyong mereka yang tidak ditulis negara sebagai peristiwa penting? Perjuangan mereka sia-sia membela tanah leluhur yang dihilangkan dengan keegoisan pejabat berdasi merah dan bersepatu emas.

Sejak itu, rasa pahit tertanam di hati anak polos ini, sambil melihat dengan seksama kehebatan dari pejuang-pejuang tanah air yang tak kenal lelah membela tanah leluhur dan negara. Kemana meraka sekarang? Mereka sudah dimakan waktu. Hilang dengan sendiri tanpa jejak di tanah ini.

Tanah tandus penuh darah, hanya dilirik sebelah mata oleh mereka yang duduk santai di kursi santai tapi panas dengan ocehan rakyat. Di sekolah anak kecil itu hanya menceritakan tentang sejarah bangsa yang dulu katanya mengusir para penjajah, sedangkan sejarah di tanah tandus tidak diceritakan secara spesifik, malahan hanya didengar dari mulut ke mulut.

Waktu berlalu dengan cepat, bapaknya seorang pejuang, hilang tiada arti di tanah tandus. Anak kecil masih ingat tentang masa kecilnya yang penuh kenangan. Kenangan akan sosok ayah perlahan luntur. Pembela negara itu hanya sekilas teringat dari keluarga kecilnya dan menjadi sosok pejuang bukan untuk negara tapi keluarganya.

Sekarang, anak kecil itu tahu, kenapa ibu selalu teguh menjalankan kehidupan ini. Senyuman selalu menghiasi setiap tindakan yang dilakukan untuk anak-anaknya. Ibu selalu kuat dan bersyukur masih diberikan kehidupan untuk melihat perkembangan anak-anak. Mungkin di selang hari masih menangis di kamar kecil sambil mengingat sosok kekasih hatinya.

Anak kecil sadar dan mulai menyalahkan dirinya sendiri melihat setiap bayangan hitam tentang kenangan masa lalu. Dia berlutut di bukit kecil sambil berteriak keras “terima kasih untukmu ayah”, sambil menatap di negara sebelah dan berkata dalam hatinya “kamu pahlawan yang terlupakan bagi mereka bukan untuk kami keluarga kecilMu”.

Penulis: Melki De Leky
Editor: Nadi

Previous post Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, NTT, kembali mengalami erupsi, Jumat (27/11/2020) pagi.
Next post Pilkada TTU: Paket Desa Sejahtera Unggul Sementara dengan 4.196 suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.