“Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Oleh: Sebastianus Julian Harjoni
Mahasisiwa Fakultas Filsafat UNWIRA KUPANG

Pengantar
Pendidikan merupakan tolak ukur kemajuan suatu bangsa, sebab bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan cerdas. Banyak persoalan yang terjadi di negara-negara maju dan mampu diatasi melalui program-program pendidikan. Terus bagaimana dengan persoalan yang terjadi sekarang mengenai meningkatnya penyebaran covid-19? Apakah mampu diatasi oleh program-program pendidikan? Atau malah sebaliknya? Nilai-nilai pendidikan akan hilang karena dampaknya pandemi covid-19?

Fakta
Pandemi covid-19 sudah hampir setahun melanda dunia. Tidak tahu kapan pandemi ini akan hilang dari dunia yang kita cintai ini. Dunia ini telah menjadi rumah baru baginya. Sekarang, negara-negara berkembang dan maju telah diserang olehnya. Negara kita Indonesia, juga tak terluput dari dampak pandemi covid-19. Sebagian masyarakat di indonesia terpapar dan terjangkit virus yang membahayakan ini. Sudah 1.691.658 orang positif, 1.547.092 orang sembuh dan 46.349 orang meninggal dunia. Melihat jumlah yang setiap hari terus bertambah, membuat segala kegiatan atau rutinitas yang biasa kita lakukan jadi terbatasi khususnya aktivitas pembelajaran di sekolah-sekolah maupun di universitas.

Aktivitas pembelajaran daring (online learning) menjadi sebuah pilihan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mencegah penyebaran virus Covid-19. Jadi Semua sekolah di Indonesiapun mau tidak mau harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudyaan untuk melakukan pembelajaran daring ini.

Melihat sejumlah fakta di atas, pihak pemerintah bersama Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan pun bekerjasama untuk mencari cara yang tepat dalam mencegah penyebaran dari virus covid19 ini. Selain itu, pemerintahan pun mencari cara agar para penerus bangsa ini masih bisa belajar walaupun hanya di rumah saja. Daring (aktivitas pembelajaran online) adalah cara yang terbaik untuk mencegah penyebaran virus ini dan cara yang tepat agar anak-anak sekolah masih bisa belajar.

Cara yang direncanakan oleh pemerintah dan kemendikbud pun diterapkan bagi semua sekolah dan universitas di Indonesia. Sejak pandemi covid-19, semua sekolah ditutup sementara dan diharapkan agar bisa belajar dari rumah masing-masing sampai virus ini berakhir. Memang ada beberapa kota yang masih membiarkan sekolah tetap dibuka dengan alasan, karena adanya pertimbangkan dengan jumlah kasus di kota mereka masing-masing.

Melihat fenomena seperti ini pemerintahpun mengambil langkah atau cara agar proses daring ini dapat berjalan dengan baik. Cara yang dilakukan ialah membagi atau mengirim pulsa internet atau biasa kita kenal dengan kouta data internet. Seperti yang diinformasikan bahwa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengajukan anggaran bantuan kuota data internet maret-mei 2021 sebesar Rp 2,6 triliun. Bantuan yang diberikan oleh pemerintah adalah cara yang tepat untuk membantu proses daring ini berjalan dengan baik.
Adanya bantuan kuota data internet akan membantu anak sekolah mengakses materi-materi yang diberikan oleh gurunya di sekolah.

Masalah
Pertanyaannya sekarang ialah apakah bantuan yang diberikan oleh pemerintah betul-betul dimanfaatkan dengan baik oleh anak sekolah? Kedua, bagaimana dengan mereka yang tidak mempunyai handphone atau alat elektronik lainnya yang mampu mengakses internet? Ketiga, apakah proses daring ini membawa perubahan atau peningkatan bagi nilai pendidikan itu sendiri,?

Jaringan sosial terhubung itu berwajah ambigu. Sekejap ia menjadi sarana yang sangat mendukung dan menguntungkan bagi siapa saja. Tak diduga, ia juga menggerus keutuhan dan kemandirian pribadi manusia yang punya nalar untuk berpikir dan hati untuk merasa-rasakan dan menimbang-nimbang. Ambiguitas ini menampilkan dua wajah yang berbeda walaupun dengan perangkat teknologi yang sama.

Melihat fakta yang terjadi, semenjak pandemi covid-19 ini muncul, begitu banyak siswa yang sangat berantusias dalam mengikuti proses pembelajaran secara online (daring). Adalah pengalaman pertama bagi para siswa ini, yang mana belajar tanpa adanya bimbingan secara langsung dari guru yang seperti biasa dilakukan di sekolah. Sekarang mereka hanya duduk tenang di rumah dan hanya menonton gurunya yang sedang memaparkan materi melalui aplikasi zoom atau dengan hal yang lainya. Terkadang guru juga hanya memberikan materi atau tugas kepada para siswa, sehingga para siswa diminta mengerjakan dan membaca materi yang diberikan.

Selain itu ada juga siswa yang tidak bisa mengikuti proses pembelajaran online ini dengan alasan tidak mempunyai handphone atau alat elektonik lainya yang mampu mengakses materi yang diberikan oleh para guru di sekolah. Ada juga yang tidak bisa mengakses materi atau melakukan pertemuan secara virtual atau yang biasa kita kenal dengan meeting with zoom application. Ini diakibatkan karena koneksi jaringan yang ada di wilayah itu kurang baik atau mungkin letak geografis dari wilayah itu jauh (perferi) dari pusat kota. Sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyak anak sekolah tidak mau belajar karena masalah-masalah yang mereka hadapi seperti ini.

Ada juga sebagian, yang menganggap proses pembelajaran online ini menjadi “Holiday”. Tidak ada sekolah, tidak ada guru, hidup bebas dan terlepas dari proses belajar mengajar. Mereka memanfaatkan proses pembelajaran online ini hanya untuk memuasakan diri mereka yakni untuk bermain sesuka mereka. Melihat fenomena yang terjadi juga, bantuan kouta internet yang diberikan oleh pemerintah hanya dimanfaatkan untuk bermain game atau aplikasi lainya seperti FB, IG, YOUTUBE, whatsapp, dan lain-lain. Selanjutnya yang paling viral sekarang ialah bermain aplikasi Tiktok. Tidak bisa dipungkiri bahwa aplikasi ini dibanjiri oleh anak-anak sekolah atau terpelajar. Setiap hari, aplikasi ini selalu dipenuhi dengan video-vidio atau hal yang lainnya. Pertanyaannya sekarang ialah apakah aplikasi-aplikasi ini diakses menggunakan kouta pribadi atau kouta bantuan yang diberikan pemerintah? Kita tidak tahu.

Namun, krisis pembelajaran tetap tak terhindarkan. Ketimpangan akses pembelajaran daring hingga kemampuan guru yang tak merata memperdalam permasalahan yang telah ada dalam pendidikan, kesenjangan, hilangnya capaian belajar (learning loss), hingga putus sekolah meningkat. Kajian Bank Dunia menyebutkan, secara global hilangnya capaian belajar meningkat 10 persen. Di Asia Pasifik, termasuk Indonesia, diperkirakan meningkat 7,7 persen. Pemantauan melalui pendataan Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat di 1.104 desa pada akhir tahun lalu juga menunjukan 938 anak atau 1 persen anak berusia 7-18 tahun putus sekolah akibat pandemi, manambah jumlah 13.500 anak yang putus sekolah sejak sebelum pandemi.

Proses pembelajaran online juga kadang membuat para siswa bosan dan jenuh yang membuat proses pembelajaran ini menjadi kurang efektif dan kurang menarik bagi para siswa. Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya Ah Thony mengatakan, “Tingkat kebosanan anak didik meningkat. Akibatnya, siswa yang memenuhi standar kompetensi secara nasional tak lebih dari 50 persen”. Selain itu, Ah Thony mengatakan bahwa, keberadaan perguruan tinggi (PT) di Kota Surabaya dinilai belum memberikan kontribusi maksimal saat pandemic covid-19 terutama untuk kepentingan pembelajaran secara daring. Melihat hal itu, Wakil Ketua DPRD Kota Surabaya ini mendorong seluruh elemen pendidikan untuk berenovasi.

Solusi
Melihat fakta yang terjadi, apakah nilai dari pendidikan semakin meningkat atau malah mengalami kemunduran dalam hal penerapan ilmu pendidikan itu sendiri? Selama pandemic covid-19 ini, tentunya banyak cara agar nilai pendidikan ini terus dilestarikan dan diberikan kepada para siswa. Mengingat nilai dari pendidikan itu sangat penting bagi para siswa dan menjadi fondasi yang kuat bagi masa depan mereka. Nilai pendidikan itu diibaratkan sebagai makanan yang dikonsumsi setiap hari. Tanpa makan, kita tidak akan bisa bertahan hidup. Begitu pula dengan hal ini, tanpa adanya nilai pendidikan maka seseorang tidak akan mampu berpikir secara kritis atau mencerna pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan.

Adanya nilai pendidikan yang diterapkan bagi para pelajar, membantu mereka berpikir akan masa depan mereka. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan dan apa yang tidak boleh mereka lakukan. Nilai pendidikan tentunya mempunyai pengaruh yang sangat besar bagi pertumbuhan dari para pelajar. Baik itu meningkatkan Sumber daya Manusia(SDM) atau membantu mereka untuk berekspresi dengan pengetahuan-pengetahuan yang mereka peroleh.

Oleh karena itu, nilai pendidikan itu sendiri perlu “dirawat” dan selalu dilestarikan secara kreatif dan inovatif. Jangan melihat Pandemi covid-19 sebagai tantangan yang kita hadapi sekarang tetapi mencoba untuk menjadikan tantangan itu menjadi sebuah peluang dalam melestarikan dan mengembangkan nilai pendidikan itu sendiri, agar selalu menjadi kekuatan dasar bagi para pelajar untuk menumbuhkan dan mengembangkan intelektual mereka secara lebih baik.

Penulis: Sebastianus Julian Harjoni
Mahasisiwa Fakultas Filsafat UNWIRA KUPANG
Editor: Beatrix

Previous post Hanya 10 menit
Next post AKU TELAH JATUH HATI PADA SANG JENDERAL

4 thoughts on ““Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.