MENJAMU JULI DI KOTA PERBATASAN

(Kado terindah Kuliah Kerja Nyata)

(Kristina B. Leton: Mahasiswa STIPAS KAK)
( Emanuel B.S. Kase,S.Fil.MM- Dosen STIPAS KAK)
Tidak terasa waktu telah menghantarku pada titik, di mana aku satu level lebih dewasa dari hari-hari kemarin. Lewat berbagai pengalaman yang menghantarku pada titik itu, menempahku agar mampu menjadi seseorang yang berguna. Aku tak mau berbicara banyak tentang sekelumit kisahku di bulan Juli, aku hanya berbagi bagaimana aku dipertemukan dengan orang-orang yang belum kukenal sebelumnya, di sebuah kota, di ujung Timur, di kota perbatasan.


Awal ku kira, masa KKN akan menjadi waktu yang membosankan, yang penuh dengan kejaran waktu dan menguras tenaga. Jauh dari pemikiranku, ternyata masa KKN adalah masa di mana aku juga belajar mengenal dengan situasi dan menjadi dewasa adalah salah satu buahnya. Satu hal yang ku syukuri bahwa di akhir semester sebagai mahasiswa akhir yang harus bergulat dengan tugas akhir, ternyata aku masih dizinkan Tuhan untuk menikmati sisa-sisa waktu di tanah Timor ini.


Ketika aku berkunjung ke kota perbatasan, kota Atambua negeri matahari terbit, ya seperti yang lazim di katakan “Timor Loro Sae” oleh kebanyakan orang, sejenak aku berpikir bahwa ini akan menjadi liburan di masa KKN yang paling menyenangkan. Awalnya canggung, namun akhirnya aku bisa membangun komunikasi dengan mereka. Aku sempat berbisik kepada Anita teman KKN-ku, “Nita, apa kamu pernah berpikir, kenapa kita bisa sampai di tempat ini? Jauh dari keluarga kita dan teman-teman kita”. “Tidak sebelumnya, bahkan aku tidak pernah memikirkannya. Tapi benar kenapa kita bisa sampai di tempat ini Ityn?”, timpal Nita. Aku dan Nita memutuskan untuk tidak melanjutkan pembicaraan singkat itu. Namun satu pertanyaan untuk ku sendiri, “Kenapa aku bisa sampai ditempat ini?”


Dua hari berlalu, kira-kira tanggal 15 Juli, kami seisi rumah diajak untuk berkeliling kota Atambua. Sehari penuh, kami menghabiskan waktu hanya untuk berkeliling kota Atambua. Dibawanyalah kami berkeliling, satu persatu tempat di kota itu kami kunjungi. Mulai dari bendungan Rotiklot, Katedral Santa Maria Imakulata, Rumah Sakit, SMAK Suria Atambua yang dikatakan sebagai sekolah terfavorit di kota perbatsan, dan berakhir di pasar baru. Dalam perjalanan, aku tersadar “Ya Tuhan, hari ini aku benar-benar berada di kota Atambua”. Yang aku pertanyakan ialah bahwa, “kok bisa, aku dipertemukan dengan orang-orang yang sebelumnya tak dikenal? Kok bisa, aku seakrab ini dengan mereka? Pertanyaan itulah yang selalu kupertanyakan.


Setelah lelah berkeliling kota Atambua untuk ronde pertama, kami kembali ke rumah untuk beristirahat sejenak. Oh iya, di sana kami tinggal di daerah Lakafehan. Rute perjalanan kedua kami mengikutijalur Atapupu. Sangat jauh? Iya, cukup jauh. Jika kembali nanti akan ku ceritakan kembali kepada mamaku, bahwa aku sudah sampai di daerah Atapupu, tempat dulu di mana mamaku tinggal kira-kira satu tahun lebih di Atambua. Aku terus menikmati perjalananku walau sangat lelah hingga tiba di pantai Atapupu. Lagi-lagi alam mengejutkan kami dengan keindahannya. Pantai Atapupu merupakan salah satu pantai favorit di wilayah perbatasan, menyuguhkan panorama indahnya yang cukup memikat mata yang memandannya, tak lupa pula pasir putih dengan hutan mangrove disekitaran bibir pantai semakin mempercantikdan menggoda hati untuk beristirahat sejenak menikmati sepoian udaranya. Hamparan pasir putih dan sapuan ombak di bibir pantai menggoda hati untuk melebur dalam gulungan ombak yang berkejaran tanpa henti. Akan tetapi, yang mengejutkan kami bukan hanya pantainya saja, namun segerombalan babi yang berjalan di hamparan pasir.
Heran,, terkejut tapi nyata….baru seumur hidupku, aku menyakssikan babi terjun bebas di pantai. “Ya ampun, di manakah pemilik babi-babi ini. Kenapa bisa berkeliaran bebas seperti ini?”. Bukan aku saja yang terkejut, tetapi Nita temankupun terkejut, “Wa’la, Ityn coba kamu bayangkan jika babi-babi itu membuang kotoran di atas pasir,pasti akan sangat jorok. “Di mana-mana babi tempatnya di dalam kandang tetapi kenapa babi di sini bisa bebas liar?”, Nita menimpali, “Hanya di Atambua sajababi bisa berkunjung ke rumah si ikan, Ityn”. Lucu bukan? Kami berdua lalu tertawa tanpa henti, hingga kami diarahkan kembali ke mobil.
Seusai berjalan-jalan di hamparan pasir, pantai Atapupu bersama si negro (segerombolan babi hitam), perjalanan selanjutnya yakni di perbatasan Motaain. Tempat inilah yang aku incari selama ini. Setibanya di pos penjaga perbatasan, kami lalu dihentikan oleh salah satu petugas untuk diperiksa. Karena belum pernah berkunjung sebelumnya, maka sebagai jaminan untuk bisa masuk ialah dengan memberikan kartu identitas berupa KTP. Dari sekian orang di dalam mobil tersebut, hanya saya yang membawa KTP. “Syukur si kriting membawa KTPnya” kata romo Al. “Bukannya berterimakasih kepada orang Flores, malah menghina lagi”, sambung Nita. “Iyalah romo, sebagai masyarakat yang baik, ya harus begitu”, sahutku.
Semua momen hari itu, kami abadikan dalam satu lensa kamera yakni kamera samsung. Ini bukan iklan, akan tetapi aku mau mengatakan bahwa, kenapa diajak jalan-jalan begini kok, lensanya pakai lensa hp samsung? Jujur, Atambua menjadi salah satu kota yang ingin kudiami di tanah Timor ini. Menurutku kota ini unik, indah dan menyenangkan. Jika suatu saat nanti Tuhan mengijinkanku untuk berkunjung lagi, maka akan kuciptakan lagi momen yang lebih menarik di kota itu.
Dari pertemuan-pertemuan singkat yang ceritakan ini selama kurang lebih tiga hari di kota Atambua, aku mau mengatakan bahwa: Tuhan mampu mempertemukan, mempersatukan setiap kita menjadi saudara. Jika kutarik benang merahnya, ketika aku tidak mengenal romo Al, maka akupun tak akan mengenali keluarganya dan bisa mengunjungi kota Atambua. Jika aku tidak kuliah di Sekolah Tinggi Pastoral Keuskupan Agung Kupang dan tidak mengikuti kegiatan KKN, maka aku tak akan mengenal romo Al beserta umat di Raknamo dan sekitarnya. Jika bukan rencana Tuhan, maka aku tak akan mengenal siapa-siapa, selain diriku sendiri dan keluarga kecilku.
Salah satu hal tersulit, dalam hidupku ialah bisa berkomunikasi dengan orang lain terkhususnya orang baru. Aku tipe orang yang suka menyendiri dan lebih suka bermain-main dengan kesendirianku. Namun, lewat kegiatan KKN ini, aku ditempah betul menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam mengenal pribadi lain. Di tempat KKN aku juga belajar menyelesaikan persoalan sendiri. Aku dilatih untuk tidak terbawa emosi ketika orang lain memancing amarahku.
Singkat kata, Tuhan itu luar biasa di setiap perjalanan hidupku, pelayananku, walaupun masih dalam tahap belajar. Aku sungguh bersyukur memiliki almamaterku yang mendidikku menjadi pribadi yang bermoral terlepas dari keluargaku dan kehadiran setiap orang di sekitarku. Menjadi orang baik itu sulit, makanya sesuatu yang bernilai baik adalah mahal.

12-12-2019, Asrama Puteri Santa Teresa Avilla STIPAS KAK.

Previous post Telapak kaki Hujan
Next post “KELUARGA TANPA SEKAT STIPAS KAK”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.