MENANGKAL VIRUS EKONOMI NEOKOLONIALISME DI INDONESIA

Uraian di atas sebenarnya hanya ingin menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia saat ini sedang terjajah oleh virus kolonialisme modern yang bernama neokolonialisme. Permainan cantik yang dimainkan oleh para penguasa secara perlahan namun pasti melunturkan nilai-nilai pancasila demi keuntungan sebagian pihak. KeTuhan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Siapa yang bangga dikatakan berTuhan saat tidak menjalankan perintah Tuhan? Bagaimana negara ini dikatakan adil dan beradap saat masih banyak masyarakat gulung tikar karena aturan ekonomi modern? Apakah dapat disebut persatuan jika aturan ekonomi yang dikeluarkan hanya atas dasar desakan negara lain tanpa memikirkan solusi jangka panjang berbasis musyawarah yang bijaksana bagi masyarakat? hingga berapa banyak keadilan yang sudah diciptakan di negara ini dari segi ekonomi?

Beberapa pertanyaan tersebut merupakan perwakilan atas pertanyaan-pertanyaan lain untuk perekonomian Indonesia. Hutang luar negeri yang meningkat setiap tahunnya hingga kebijakan-kebijakan ekonomi modern yang dikeluarkan pemerintah serta dijalankan oleh para penguasa yang menjadi penyebab dari tangis masyarakat ini hanya mampu diselesaikan dengan kembali berkomitmen pada pandangan hidup bangsa Indonesia yaitu Pancasila sebagai obat penangkal virus ekonomi neokolonialisme.

Pancasila tidak boleh sekedar menjadi penambah panjang dokumen negara tetapi harus diaplikasikan dengan tepat. Sila pertama, KeTuhanan Yang Maha Esa berarti menyadari keberadaan Tuhan dengan tidak menyakiti sesama manusia. Saat membuat keputusan ekonomi pemerintah menjadikan masyarakat sebagai tolak ukur utama agar tidak serta merta setuju pada peraturan ekonomi modern. Menjadikan Tuhan sebagai kompas utama, membuat Indonesia tidak mudah tertipu dengan trik penguasa. Membelanjakan uang Negara pada hal-hal yang benar. Selanjutnya pada sila yang ke dua, menjadi manusia yang adil dan beradap dalam menentukan resep kebijakan ekonomi bangsa sehingga tidak menjerumuskan bangsa ke dalam dominasi modal asing, hutang luar negeri yang tidak terbayarkan, hingga kemandirian yang terbeli (DM, Ary & Harlan, 2012:11) , namun menitikberatkan pada bagaimana perekonomian negara ini mampu berdiri di atas kakinya sendiri dengan memaksimalkan ekonomi masyarakat kecil dan kekayaan sumber daya alam yang ada. Bersikap adil tanpa berpura-pura adil dengan menguras sumber daya alam untuk kepentingan sebagian pihak yang menyebut diri sebagai wakil masyarakat.

Bermusyawarah dengan masyarakat secara berkelanjutan untuk menemukan solusi yang tepat. Menumbuhkan kembali lumbung-lumbung garam dari Sabang sampai Merauke. Memberikan masyarakat bekal pengetahuan berkelanjutan, bagaimana mengembangkan sumberdaya alam serta memperkuat kreativitas dan inovasi masyarakat dalam pemasaran produk untuk kembali menyalakan ekonomi masyarakat dan secara perlahan namun pasti menangkal ekonomi neokolonialisme. Berkomitmen penuh pada nilai-nilai luhur pancasila sehingga menjadi raja di negara sendiri dan menjadi ekonom bagi negara-negara yang menyebut dirinya sebagai penguasa. Dengan mampu membenahi ekonomi masyarakat, Indonesia akan mampu berdaya saing global.

Referensi

DM, Ary, dan Harlan, Membunuh Indonesia; Konspirasi Global Penghapusan Kretek, Penerbit Kata-Kata, Jakarta : 2012

*Catatan* Artikel ini pernah diikut lombakan

Beatrix Yunarti Manehat telah menerbitkan 3 novel diantaranya : Akhirnya Aku Mengerti terbit 26 september 2015, Aku dan Sang Gelap terbit 29 Februari 2019, dan yang ketiga 9 Angka 8 Yang Tak Sempurna terbit 29 November 2019, Ia juga adalah Fouder dari Melki and Beatrix Foundation yang disingkat menjadi M&B Foundation pada tahun 2013 hingga sekarang.

Previous post Orang Mati Ditertawakan
Next post Kamu Sang Generasi Penerus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.