MEDIA DIGITAL DALAM PENDIDIKAN NEW NORMAL: PELUANG ATAU BAHAYA?

Covid-19 telah membongkar tatanan yang ada, dan memaksa kita untuk membangun tatanan baru (new normal) terutama berkaitan dengan mindset dan perilaku. Ruang maya/ruang media digital kini menjadi ruang interaksi manusia baik interaksi personal maupun interaksi dalam lingkup kerja. Di tengah pandemi covid-19, media digital yang sebelumnya hanya terbatas pada penggunaan untuk membangun relasi lintas batas melalui media sosial, kini diperluas fungsinya sebagai media pembelajaran dalam sekolah dan media untuk bekerja. Potensi digital memberi solusi yang efektif dalam memperlancar system kerja dunia pendidikan, bisnis dan pelayanan masyarakat yang mana manusia diwajibkan stay at home and work from home selama masa pandemi covid-19 ini. Penggunaan media digital wajib bagi semua kalangan.

Di tengah potensi media digital tersebut, ruang maya/ruang digital yang sifatnya luas dan tak terbatas memiliki bahaya tersendiri bagi pengguna terkhususnya anak-anak tingkat SD dengan rentang umur 8 sampai 12 tahun. Pendidikan new normal yang mewajibkan anak-anak untuk mengenal dan menggunakan media digital serta terjun dalam ruang maya perlu disertai dengan bimbingan dan pengawasan. Kenapa? Selama waktu ini, mereka mencari kebebasan yang lebih besar dari orang tua dan mulai mencari orang dan sumber informasi baru yang dapat mereka idolakan. Hal ini rentan bagi mereka untuk terkena dampak buruk dari media digital. Studi yang dilakukan oleh DQInstitute mengungkapkan bahwa 56% anak-anak umur 8-12 terkhususnya di negara-negara berkembang terlibat setidaknya satu dari risiko dunia maya antara lain 47% menjadi korban bully, 10% berkenalan dengan orang asing, 11% kecanduan game online dan 17% terlibat dalam perilaku seksual online. Sejalan dengan hasil studi penelitian ini, untuk konteks indonesia, bahaya lain yang muncul akibat lalu lintas informasi tanpa filter di media dgital antara lain informasi terkait terorisme, konten pornografi dan hoaks politik yang bisa menimbulkan perpecahan.

Terekspos pada risiko dunia maya tidak secara langsung menunjukkan bahwa anak-anak tersebut telah menerima cedera fisik atau mental permanen. Namun, paparan yang terus-menerus terhadap risiko ini pada anak usia dini dapat menimbulkan bahaya bagi perkembangan anak secara keseluruhan, kesejahteraan, relasi dan peluang masa depan anak. Perubahan perilaku seperti kurang membaca, kurang tidur dan kurang bersosialisasi, perubahan mental seperti kesepian, lebih depresi dan lebih agresif dan kesehatan mental yang buruk akibat sering berhadapan dengan perilaku menekan, mempermalukan, mengancam, dan melecehkan seseorang melalui media social merupakan dampak buruk dari penggunaan media digital yang tidak terkontrol.

Dampak positif dan negatif dari media digital sebagaimana digambarkan di atas, mengarahkan mindset dan perilaku anak-anak dengan rentan umur 8-12 tahun. Dengan demikian, karakter akan terbentuk dari pergumulan dan petualangan dalam ruang maya. Untuk meminimalisir dampak buruk dan memaksimalkan potensi media digital, anak-anak perlu didampingi untuk mampu menggunakan media digital secara cerdas yang artinya memiliki kemampuan untuk menggunakan media digital secara aman, bertanggung jawab dan etis. Secara tidak langsung, dengan bimbingan tersebut, karakter anak dibentuk. Hal ini ditegaskan pula oleh Prof. Dr. Ir. M. Nuh, DEA dalam webinar pendidikan dengan tema “Menguatkan Pendidikan Karakter Pada Masa Pandemi”. Ia memperkaya modalitas kecerdasan manusia dengan menambahkan kecerdasan digital yang mana mengarahkan mindset, perilaku dan metode kerja yang mampu secara arif dan kompeten memanfaatkan berbagai potensi teknologi. Kecerdasan digital menjadi salah satu kompetensi dalam mengembangkan karakter anak. Penggunaan media digital sebagai media pembelajaran dalam aktivitas sekolah membuka ruang bagi anak-anak mengenal dan menggunakan media digital secara intens. Media digital yang luas dan tak terbatas perlu menjadi awasan dalam penerapan pendidikan new normal. Anak-anak perlu dilengkapi dengan kecerdasan digital agar mampu memaksimalkan potensi media digital dan meminimalisir dampak buruk.
Dalam kompasiana.com, Mia Marrisa secara sederhana menurunkan delapan poin penting terkait kecerdasan digital antara lain;

  1. Bisa memilih identitas yang bisa di-share atau tidak agar menjaga privasi supaya identitas kita tidak disalahgunakan oleh orang lain.
  2. Menyeimbangkan penggunaan digital dengan waktu untuk aktivitas riil sehari-hari.
  3. Bisa mendeteksi konten beresiko (cyberbullying, grooming, radikalisasi, pornografi, penipuan).
  4. Bisa mendeteksi ancaman siber (hacker, scams, dsb.) misalnya dengan rutin mengganti password dan memasang antivirus.
  5. Bisa berempati dan berhubungan baik secara online dengan menjadi netizen yang sopan.
  6. Bisa berkomunikasi dan berkolaborasi menggunakan teknologi dan media digital misalnya dengan pemanfaatan multimedia menjadi keterampilan yang berguna (mengedit video, menyampaikan presentasi, menulis email)
  7. Mampu berliterasi digital yakni memahami cara mendapatkan informasi misalnya dengan menggunakan mesin pencari, membaca artikel, berita, jurnal dan bisa mengkritisinya.
  8. Menghormati hak cipta orang lain, dengan mencantumkan nama pembuatnya ketika mengambil atau meneruskan karya tersebut

Delapan hal di atas merupakan hal-hal yang harus dimiliki oleh pengguna digital terkhususnya anak-anak dengan rentan umur 8-12 tahun. Minset dan perilaku anak-anak harus diarahkan agar kedelapan hal tersebut menjadi modal bagi mereka dalam menggunakan media digital secara intens. Untuk itu, perlu adanya ekosistem digital yang membentuk kerja sama berbagai pihak yakni orang tua, guru, pemerintah dan masyarakat serta komunitas. Pendidikan new normal yang menerapkan proses belajar dari rumah mewajibkan orang tua untuk mengawasi dan membiming anak selama menggunakan hp dan laptop dalam kegiatan belajar. Orang tua perlu menetapkan aturan agar anak tidak menghabiskan waktu dengan menggunakan media digital tetapi bisa melakukan aktivitas riil. Hal ini penting bagi anak untuk mampu disiplin waktu. Kecerdasan digital perlu dipertimbangkan untuk masuk dalam kurikulum pendidikan formal di tingkat Sekolah dasar. Guru menjadi motor yang mengarahkan anak-anak untuk cerdas dalam menggunakan konten-konten serta berkreasi dengan memanfaatkan berbagai aplikasi yang berguna untuk perkembangan mereka. Selain itu, pemerintah perlu membatasi konten-konten negative yang tidak boleh diakses oleh masyarakat khususnya anak-anak. Pemerintah juga harus bekerja sama dengan pihak sekolah dalam menerapkan kurikulum yang baik untuk kecerdasan digital. Dalam rangka meningkatkan kreativitas anak, pemerintah perlu menyelenggarakan lomba-lomba terkait media digital.

Pembentukan karakter anak tak terlepas dari media digital. Penggunaan yang intens bisa menjadi peluang sekaligus masalah bagi anak pada pendidikan new normal dalam membentuk karakter yang cerdas atau sebaliknya memiliki karakter yang rapuh. sudah saatnya untuk kita memikirkan dan mengambil langkah preventif

Tentabg penulis

Rio Parera, Pemuda Kelahiran Ende, 22 Mei 1994 ini memiliki hobi membaca buku dan menulis artikel-artikel. Penulis telah menyelesaikan pendidikan Strata 1 dengan jurusan Filsafat.

Previous post DILEMATIS PENDIDIKAN DI ERA NEW NORMAL
Next post Potret pendidikan new normal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.