Hiatus Para Koruptor

Manusia adalah makhluk konsumtif. Ia gemar mengkonsumsi apa saja setiap saat terutama makanan. Bahkan bila diperhatikan, mulut kecilnya itu tidak akan pernah berhenti mengunyah. Keseringannya dalam mengunyah ini lalu menjadi sebuah trend baru yang sangat familiar dengan istilah ngemil. Namun, di balik gaya hidup modern ini, tersingkap pula persoalan serius bahwa orang tetap merasa lapar.

Hal ini dikarenakan masih adanya hiatus atau ruang kosong di dalam perut. Kekosongan tersebut rupanya tidak mempan diisi dengan berbagai jenis makanan saja. Malahan semakin banyak orang mengkonsumsi makanan, ia semakin lapar. Ibarat air laut yang tidak pernah penuh meski diari setiap saat. Lalu, apa faktor penyebabnya?

Baca juga: 6 Destinasi Wisata NTT Membuat Liburanmu Makin Berwarna

Sebenarnya ada banyak faktor yang mengakibatkan orang tetap lapar meski telah makan. Akan tetapi hemat penulis, penyebab utamanya adalah soal makanan. Makanan yang bergizi tentu akan tinggal menetap, mengisi hiatus perut dan mulai membangun tubuh dari dalam. Sebaliknya, makanan akan dibuang ke luar jika tidak berfaedah bagi proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Artinya, muatan dalam setiap makanan yang dikonsumsi manusia berperan andil dalam misi mengatasi rasa lapar.

Dalam gaya hidup konsumtif yang tinggi masa kini, kelaparan justru terjadi di mana-mana. Ironisnya lagi, kelaparan ini bukan hanya dialami oleh orang-orang miskin saja tetapi juga menimpa mereka yang berkelimpahan harta benda, seperti para koruptor. Bahkan kelaparan yang paling ngeri dialami oleh para pencuri uang negara tersebut. Mengapa? Sebab para tikus berdasi itu memilih mengkonsumsi makanan yang bukan hanya mampu mengisi kekosongan perutnya saja tetapi juga dompetnya. Singkatnya, makanan yang banjir orderan di setiap warung makanan para koruptor adalah uang. Makanan sendiri sebenarnya juga membutuhkan cukup uang untuk bisa tersaji di atas meja makan. Di sini uang berfungsi sebagaimana mestinya yakni sebagai ‘password’ makanan, bukan tujuan hidup.

Akan tetapi uang rupanya telah menjadi santapan lezat dan tujuan hidup para koruptor. Akibatnya, uang yang dulunya dipandang Aristoteles sebagai ‘via’ bagi tercapainya nilai tertinggi dalam hidup yang melampaui hiatus perut dan dompet yakni kebahagiaan, kini justru dirubah menjadi tujuan. Alat berubah menjadi tujuan. Uang berubah menjadi tujuan hidup yang membinggungkan dan para koruptorpun terperangkap dalam logika berpikirnya sendiri. Mereka binggung membedakan antara sarana dan tujuan. Kebingunggan inilah yang seyogyanya merupakan hiatus sekaligus kelaparan ngeri para koruptor.
Lebih lanjut ‘kekosongan ruang’ para koruptor ini yang disadari ataupun tidak, menyata dalam tindakan pengabdian hidup mereka yang hanya fokus untuk mencari uang. Bahkan mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan banyak uang dengan berbagai cara. Termasuk profesi mereka sendiri yang penuh dengan manipulasi. Korupsi sendiri merupakan penyalahgunaan uang pemerintah atas kepentingan pribadi (Balai Pustaka-Kamus Besar Bahasa Indonesia). Uang yang seharusnya disalurkan kepada masyarakat yang sedang kelaparan justru berlabuh kembali ke dalam ‘perut’ mereka sendiri.

Korupsi umumnya diakibatkan oleh cinta akan uang yang berlebihan. Bahkan para koruptor sampai rela mengorbankan segalanya termasuk kesehatan, keselamatan dan keluarganya sendiri demi mengumpulkan sejumlah uang. Meski demikian, dompet para pencuri uang negara itu toh tidak pernah penuh. Masih saja ada hiatus di dalam kantong mereka. Hal ini senada dengan konsep kekosongan hidup yang pernah digaungkan oleh Reza Wattimena, bahwa, “Ketika uang menjadi tujuan hidup, maka satu hal pasti yang menyeramkan adalah bahwa kebutuhan akan uang tidak akan pernah cukup. Akan selalu ada hiatus. Berapa pun pendapatan para koruptor, mereka tetap akan merasa tidak cukup karena telah kehilangan tujuan hidup yang sejati, yakni kebahagiaan atau kepenuhan dalam hidup.” (Wattimena:2015,246-255)
Korupsi sudah barang tentu merupakan tindakan yang sangat tidak pancasilais. Bahkan bisa juga dikatakan, bahwa korupsi itu tidak lain adalah tindakan bunuh diri. Sebab, perbuatan manipulatif ini menyeleweng dari cita-cita bangsa Indonesia yang telah dirumuskan dengan sangat baik dalam kelima sila Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila ini adalah ‘jalan menuju kepenuhan hidup’ sebagai warga negara sekaligus jiwa bangsa Indonesia secara institusional maupun perorangan. Air laut dan orang lapar memang tidak akan pernah mengalami kepenuhan. Tetapi satu hal yang pasti dari kedua fenomena ini adalah bahwa suatu saat nanti akan terjadi tsunami dan kematian. Hukum yang sama juga akan berlaku bagi para koruptor. Karenanya siapa saja yang melakukan tindakan manipulatif terhadap harta benda negara ini atas dasar kepentingan pribadi, sesungguhnya ia sedang dan telah membunuh jiwa ke-Indonesia-annya sendiri.

Penulis: Oktofianus Oki, Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

Editor: Nadi

Realitas Masalah Lingkungan NTT Previous post Provinsi NTT: Bersolek Pada Hutan Terbakar dan Berkaca Pada Sampah
Next post Gotong Royong

One thought on “Hiatus Para Koruptor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.