LILIN-LILIN TELAH PADAM

Ino Sengkoen

Entah sudah berapa banyak kendaraan yang melintas di depan warung itu. Tentu dengan lampu bernyala. Di kiri kanan dan seberang jalan sana, rumah warga, deretan ruko, warung makan, berbagai jenis toko dan beberapa gedung kampus sedang terang benderang dengan lampu-lampu ruangan yang juga bernyala. Barangkali para penghuninya belum menonton Sexy Killers. Adakah niat untuk menonton film itu, minimal karena tergoda oleh  judulnya?

Tetapi dua anak muda ini baru pulang dari sebuah acara nonton bareng. Judul film itu menghisap gairah mereka untuk ikut menonton. Bayangan dan harapan mereka sama, namun masing-masing dengan bandul perhatian yang berbeda.

Lukas, yang menganggap tubuh wanita, sebagai obyek sensual selalu tergoda dengan setiap judul obrolan, diskusi, bacaan, tentu juga film yang punya kata ‘seksi’ dalam rumusan tema. Dekat dengan sensualitas, seks baginya adalah permainan kesenangan yang bodohnya masih dianggap suci orang-orang di kampungnya. Di kota ini perihal itu sudah jadi jajanan murah. Di stasiun, terminal bus, pelabuhan barang, juga kampus-kampus.

Sementara temannya, gadis asal Jakarta semester empat jurusan Ilmu Budaya, Try namanya, selalu memburu dan mengoleksi film laga aksi. Sejak jatuh cinta pada pepatah Homo Homini Lupus saat SMA dulu, telah kuat menancap kepercayaan dalam batok kepalanya, bahwa peradaban hanya terbangun dari konflik, saling serang, saling bunuh. Dia sendiri mengalami dan mengamini, bahwa mereka yang bisa bertahan hidup adalah mereka yang mampu melumpuhkan semua orang lain.

                “Kita kena tipu.” Lukas menyeruput kopi.

                “Tipuan yang terlalu jujur.”

                “Itu termasuk kebaikan atau kejahatan?”

                “Kebaikan yang jahat. Mungkin juga kejahatan yang baik.”

                “Apa?”

                “Di negara ini orang tidak pernah berhenti saling memakan.”

Try tajam memandang Lukas dari balik gelas kecil yang menempel di bibirnya, dengan tenang dia menyeruput kopi. Kata-kata berat dan penuh keyakinan itu keluar dari mulutnya seperti sabda yang dirapalkan. Sejurus kemudian, sebatang rokok bernyala telah mengisi celah bibirnya. Try menghisap dalam, lalu membiarkan asap yang terhembus bersama gas-gas buang napasnya bebas bertebaran.

                “Tidak pernah?”

                “Tidak akan.”

                “Terus?”

                “Peradaban diciptakan. Lagi dan lagi.”

***

Previous post Arema FC Unggul Atas Persela Lamongan 3-1
Next post LEMBAYUNG DI KAKI BUKIT