KREATIVITAS MENGHIDUPKAN LITERASI

Saat ini, literasi berkembang menjadi trend yang terus meluas ke mana-mana. Ketenaran literasi bukan sebatas istilah saja tetapi juga pergerakannya yang semakin gencar dilakukan oleh para penggerak baik individu, institusi, maupun kelompok-kelompok masyarakat. Gerakan ini ditandai dengan adanya program-program pemberdayaan yang dilakukan oleh pemerintah demi kemajuan tingkat literasi bangsa, kehadiran komunitas-komunitas penulis yang bergerak membangun literasi, pembentukan taman-taman bacaan masyarakat, tersedianya tempat-tempat melapak buku serta diadakannya pementasan, perlombaan dan festival-festival yang bertujuan memacu bakat dan minat dalam berliterasi. Di Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sendiri, jarang dan sulit dijumpai unsur-unsur tersebut di ruang publik yang memungkinkan masyarakat dengan mudah mengakses buku-buku dan membaca berbagai jenis pengetahuan, membuat dan mempublikasikan tulisan, mendiskusikan pemikiran-pemikiran kritis dan menggagaskan ide-ide kreatif serta memecahkan masalah secara inovatif. Boleh dikatakan, di sini masih sepi literasinya dan belum menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Meski demikian, di Kabupaten TTU saat ini telah bermunculan geliat literasi melalui berbagai gerakan. Aksi untuk literasi semakin ditunjukkan melalui berbagai macam kreativitas dan semangat berkomunitas. Salah satu komunitas yang saat ini hadir di tengah Kota Kefamenanu dan gencar mempraktekkan gerakan literasi adalah Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu (KLIKK). Komunitas kami ingin menunjukkan cara membudayakan literasi di tengah masyarakat dan mengembangkannya di dalam dan melalui berbagai kreasi. Uniknya, komunitas KLIKK memulai taman bacaannya dari Taman Kota Kefamenanu.

Taman Kota Sebagai Taman Baca

Semangat awal para penggerak komunitas ini adalah motivasinya yang besar untuk melakukan kegiatan positif sebagai bentuk kreativitas literasi pada salah satu ruang publik yang cukup ramai di Kota Kefamenanu, pusat Kabupaten TTU. Bagaimana ruang publik ini menjadi ruang literasi dimulai dengan spontanitas, sukarela dan semangat juang. Tempat ini memang akrab dikenal sebagai “Taman Kota” yang selalu digunakan masyarakat untuk berekreasi, berolahraga, atau untuk sekedar mampir dan bersantai sambil menghabiskan waktu bersama. Taman Kota Kefamenanu sangat terbuka namun sekaligus terabaikan dan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan ketika disalahgunakan. Di tengah ruang publik masyarakat ini terdapat sebuah tugu besar bernama Tugu Nasional Kefamenanu yang sudah dibangun sejak tahun 1960. Di sekujur tugu inilah mereka yang menggagaskan komunitas literasi ini berpikir untuk mengubah situasi Taman Kota itu agar bermanfaat sebagai Taman Bacaan. Bergerak dari motivasi yang inovatif ini, perlahan-lahan dibuat kebiasaan melapak buku dan kegiatan membaca bersama yang dimulai sekitar bulan Oktober tahun 2019 lalu. Hasilnya, setiap minggu tempat ini selalu dikunjungi dengan membawa buku-buku bacaan yang terkumpul, kemudian disusun rapi pada anak-anak tangga di bawah tugu untuk siap dibaca. Anak-anak kecil ramai berdatangan untuk mewarnai gambar, membaca buku-buku yang disukai dan mendengarkan pula dongeng yang dibacakan. Ada pula orang-orang muda dan masyarakat umum yang juga tertarik dan hadir karena tersedia buku-buku untuk berbagai jenis kalangan dan keperluan. Setelah melapak biasanya buku-buku dikumpulkan kembali untuk dibawa pulang dan di sela-sela waktu itu para pegiat dan partisipan komunitas duduk bersama meluangkan waktu untuk berbincang-bincang dan mendiskusikan hal-hal baik. Lingkaran luas yang mengelilingi tugu itu menjadi tempat yang memungkinkan mereka dengan leluasa berpikir dan menyalurkan ide-ide kreatifnya.

Dari kebiasaan seperti itu, berkembanglah imajinasi para penggiat untuk menampilkan pertunjukkan-pertunjukkan seni seperti bernyanyi, bermusik, berpuisi, bermain teater hingga melakukan pementasan. Hal-hal positif itu dapat tumbuh menghiasai bilik-bilik Taman Kota Kefamenanu dan menjalar ke berbagai ruang publik lainnya. Semakin banyak orang muda yang menjadi tertarik, datang dan bergabung menikmati Taman Baacaan masyarakat yang baru itu. Para penggerak dan beberapa partisipan kemudian menyatukan pikiran dan mendirikan komunitas yang diberi nama sesuai dengan aktivitas yang dilakukan yaitu Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu (KLIKK). Pada bulan Desember 2020, Komunitas KLIKK berdiri dan berkomitmen membudayakan literasi di lingkungan masyarakat dan menumbuhkembangkannya melalui kreativitas.

Praktik Baik Literasi Kreatif

Seiring dengan perkembangan istilah literasi yang telah diterapkan pada berbagai bidang, komunitas KLIKK pun memiliki pandangan tersendiri. Dengan mengakarkan diri pada aktivitas membaca, menulis dan berbicara, literasi dapat dikembbangkan melalui potensi diri dan kreativitas. Komunitas mencoba meramu sebuah konsep untuk membuka kemungkinan literasi menjadi aktivitas nyata yang membudaya bagi masyarakat. Ideal konsep itu adalah hubungan saling menentukan satu sama lain di mana literasi menghasilkan kreativitas dan sebaliknya kreativitas menghidupkan literasi. Jadilah “Literasi Kreatif”; orang-orang muda diajak datang dengan berbagai macam kreativitas dan didasari semangat berliterasi untuk meningkatkan minat baca, kemampuan menulis dan kebiasaan berdiskusi sambil terus menemukan ide-ide baru untuk dikreasikan.

“Praktek Baik Literasi” dalam Komunitas KLIKK tumbuh mulai dari tataran konsep itu dan selanjutnya berbuah dalam tataran praktis. Berbagai hal telah dilakukan sebagai langkah nyata dari aktivitas literasi kreatif yakni mulai dari melapak buku sebagai kegiatan rutin yang dilakukan setiap hari Sabtu bertempat di Taman Kota Kefamenanu. Kegiatan melapak sendiri memakan waktu tidak begitu lama, kurang lebih beberapa jam, dari pukul 17.00 sampai selesai. Rangkaian kegiatan di dalamnya bertujuan untuk menanamkan kebiasaan membaca sejak dini dan meningkatkan minat membaca bagi masyarakat. Kami, para anggota komunitas terlebih dahulu membiasakan diri untuk membaca berbagai jenis pengetahuan dan berlatih menulis. Latihan menulis, mendorong setiap anggota untuk mengumpulkan tulisannya setiap minggu. Melalui penggunaan media blog kami dapat mempublikasikan berbagai jenis tulisan yang dibuat. Pada kesempatan yang diijinkan, komunitas kami langsung mendatangi sekolah-sekolah untuk melakukan safari dan berbagi tentang pengalaman kami berliterasi.

Sebagai bentuk kreativitas yang menghidupkan literasi, kami tidak hanya membaca dan menulis tetapi mengemukakan ide melalui berbagai macam kegiatan lainnya. Sejauh ini komunitas telah melakukan dua kali pementasan seni yang dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ibu nasional tahun 2020 dan menjelang perayaan paska tahun 2021. Di dalam pementasan itu para anggota komunitas mempertunjukkan permainan teater dan drama, seni tari, seni suara dan musik, musikalisasi puisi dan berbagai kreativitas lainnya serta menggandeng kegiatan melapak buku di dalamnya. Dalam kegiatan ini berbagai pihak diundang baik komunitas-komunitas orang muda lainnya maupun masyarakat setempat dengan meminta dukungan dari pihak pemerintahan maupun gereja. Selain pementasan itu, bentuk kreativitas berliterasi diekspresikan komunitas dengan melakukan pembuatan film dan video pendek, video podcast dan peliputan kegiatan-kegiatan literasi. Pembuatan berbagai macam video itu adalah kreativitas komunitas dalam mempraktekkan kemampuan berliterasi melalui media agar masyarakat dapat dengan mudah mengakses dan menambah pengetahuannya. Film atau video pendek dan podcast biasanya mengangkat fakta-fakta kehidupan sosial maupun kehidupan pribadi yang menginspirasi. Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan dalam berliterasi ini kiranya dapat memberi semangat dan inspirasi bagi berbagai kalangan masyarakat.

Penulis: Joakim Kapitan lahir di Kupang 26 Juli 1996. Alumnus Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang (2020) dan saat ini bergiat di Komunitas Literasi Kreatif Kefamenanu (KLIKK).
Editor: Nadi

Previous post 10 Anak Terkaya di Dunia 2021, Putri Charlotte ada di Posisi Satu
Next post Puisi: Maria Augustin Lopes Amaral: Dosen Prodi Manajemen UNWIRA Kupang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.