Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)

PEREMPUAN
Ketidakadilan terhadap perempuan dalam lingkungan berangkat pertama kali dari pengertian adanya ketidakadilan yang dilakukan oleh manusia terhadap yang non manusia atau dengan kata lain terhadap alam lingkungan sekitar. Upaya terhadap mendefinisikan perempuan seringkali diasosiasikan terhadap sifat-sifat alam. Terra Matter. Bumi adalah perwujudan “Ibu Pertiwi”, simbolisasi ini menempatkan kedudukan bumi sebagai kerahiman yang penuh kasih. Ia menjadi pelindung isinya termasuk manusia di dalamnya. Sifat pengasih dan pelindung seringkali dikontruksi sebagai sifat alam yang mana kedua sifat ini identik dengan sifat-sifat feminim. Namun pertanyaan yang muncul ialah, siapakah perempuan? Perempuan adalah ibu semua manusia. Perempuan memiliki peranan yang sangat penting dalam hidup di dunia ini. Seperti ibu yang selalu menjaga anaknya terhadap bahaya maut. Perempuan juga dapat dikatakan sebagai pintu duniawi bagi manusia. Namun, manusia sendiri mengubah realitas hidupnya, dimana perempuan selalu menjadi yang kedua (selalu didiskriminasi). Hal ini terjadi karena dunia yang kuat dengan pengaruh budaya patriarkat akan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Bahkan, ada pernyataan yang mengklaim bahwa, perempuan bukanlah manusia (mulieres hominess non esse). Secara historis, perempuan memang merupakan kelompok tertindas. Penindansan pada perempuan terjadi secara universal, meluas di hampir keseluruhan masyarakat di dunia. Ketertindasan inilah yang memiliki hubungan dengan alam dan perempuan itu sendiri.

Dalam riset WHO menyebut kekerasan oleh pasangan sebagai bentuk pelecehan yang paling banyak dilaporkan. Sekitar 641 juta perempuan mengaku pernah mengalaminya. Di luar itu, 6% perempuan di seluruh dunia mengatakan telah diserang oleh orang lain yang bukan suami atau pasangan mereka. “Kekerasan terhadap perempuan adalah masalah kesehatan masyarakat global yang berskala pandemi dan kasus ini dimulai pada usia dini,” kata salah satu peneliti riset itu, Claudia Garcia-Moreno.

Previous post MENTALITAS INSTANISME MANUSIA TERHADAP ALAM
Next post Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.