Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)

Tambang liar menjadi pembahasan kedua dari tema besar yang terdapat dalam judul ketidaklan terhadap non manusia. Hal ini juga menjadi salah satu kekerasan manusia terhadap alam. Dewasa ini kerusakan lingkungan atau alam semakin meningkat dan tragis. Ketidaksadaran dapat dikatakan sungguh tumpul dan keyamanan meningkat pada bagian ini. Sebab dengan ini, ekonomi akan meningkat dan kebutuhan hidup semakin terjamin pada manusia. Sedangkan alam menangisi di atas sukacita manusia. Hal demikialah yang dikatakan antroposentrisme (aliran etika lingkungan hidup yang memandang manusia sebagai satu-satunya yang memiliki nilai pada dirinya). Dalam paham ini, hendak mengambarkan superioritas atau posisi tertinggi manusia di dunia. Seperti halnya budaya patriarkat Alam hanya nilai instrumental. Alam dianggap bernilai sejauh bermanfaat dan berkontribusi bagi kehidupan manusia.

Dalam pandangan Immanuel Kant (1724-1804) bahwa, hanya manusia yang adalah makhluk rasional. Oleh karena itu, rasionalitas yang ada pada manusia, secara moral manusia diperkenankan untuk memakai makhluk lain demi kepentigan dan untuk meraih tujuan hidupnya. Hal ini terjadi karena makhluk lain tidak berakal budi, tidak memiliki hak untuk diperlakukan secara moral. Sebab itu, manusia tidak memiliki tugas dan tanggun jawab moral terhadap makhluk lain. Sedangkan tanggung jawabnya berlaku dan diperuntukkan bagi manusia semata. Makhluk lain hanya objek yang dipakai demi kebutuhan hidup manusia. Jika pun manusia bertanggung jawab terhadap alam, tapi sebenarnya dilakukan untuk kepentingan dan kebutuhannya tidak secara langsung. Sebab, bila manusia menjaga atau memelihara hutan atau memelihara kebersihan lingkunga atau sungai, sebenarnya bukan dilakukan demi hutan, sungai atau lingkungan in se, melainkan demi menjamin kelangsungan hidup manusia. Terlebih dalam aspek kesehatan. Dapat dikatakan bahwa, bila semua tidak terjaga maka akan mengganggu kesehatan manusia. Seperti yang sudah dikatakan bahwa, alam merupakan paru-paru manusia, dimana melaluinya manusia dapat bertahan hidup.

Hutan adalah salah satu sumber oksigen atau menjadi paru-paru manusia dan juga bagi makhluk hidup lainnya. Hutan juga menjadi kawasan tempat tinggal untuk satwa. Dengan demikian, dalam kehidupan manusia hutan telah membawa banyak manfaat bagi manusia. Seperti, mencegah banjir, tanah longsor, menjadi sumber oksigen dan lain sebagainya. Namun, hal yang menjadi keprihatinan bersama ialah, manusia kini banyak melakukan penebangan liar atau ilegal longging. Penembangan hutan secara liar ini, dapat diartikan sebagai aktivitas penebangan hutan secara ilegal atau tanpa izin. Dengan penebangan liar ini, sudah membawa dampak buruk bagi lingkungan, dimana menghilangkan produk hutan. Seperti buah-buahan dan hasil yang lain, yang mana dapat dikomsumsi serta membantu ekonomi bagi orang-orang yang di sekitar hutan tersebut. Tentu ini menjadi keterpurukan manusia yang dengan sadar melakukannya, tapi tidak sadar akan dampak buruk yang akan terjadi. Kenyamanan manusia sebenarnya tidak menjamin dalam waktu yang panjang, melainkan dalam jangka waktu yang pendek.

Previous post MENTALITAS INSTANISME MANUSIA TERHADAP ALAM
Next post Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.