Ketidakadilan non manusia (alam) serupa dengan ketidakadilan terhadap perempuan (manusia)

Armandino Atiyos da Costa

Alam
Alam mengalami kesakitan dan jeritan yang hampir setiap saat terdengar, karena terjadi perusakan lingkungan, ekosistem, tumbuhan, ekosistem hewan, pencemaran air dan udara. Eksploitasi sumber daya alam demi pemenuhan hasrat hidup manusia. Hal ini telah menimbulkan dampak buruk berupa kerusakan ekologi. Hal yang dimaksud dengan ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Secara etimologis istilah ekologi berasal dari bahasa Yunani, yakni oikos (habitat) dan logos (ilmu). Ekologi juga bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Istilah ekologi pertama kali dikemukakan oleh Ernst Haeckel (1834-1914). Dalam ekologi, makhluk hidup dipelajari sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.

Dalam pembahasan yang pertama hendak menampilkan tentang ketidaksadaran manusia terhadap lingkungan hidup atau ketidakadilan manusia terhadap lingkuangan hidup, yang mana menjadi paru-paru bagi hidupnya. Bila paru-paru hidup manusia (alam) bermasalah, maka manusia pun akan ikut serta dalam kerusakan itu dengan merasa tidak nyaman dan dampak yang paling buruk atau fatal sekali adalah menuju pada kematian. Hal itu karena, ada interaksi yang tak terpisahkan antara manusia dan alam. Namun hal itu tidak diindahkan oleh manusia. Dengan demikian, ketidaksadaran manusia itulah yang mengakibatkan dirinya terjurumus kedalam bahaya maut (kematian). Salah satu faktor kerusakan alam adalah pembuangan sampah sembarang. Ketidaksadaran manusia membutakannya. Sebab, papan dan tong sampah, serta berbagai atau seribu tulisan yang memperingatkan manusia, tapi, toh tidak pernah sadar dan peduli, bahkan orang tetap nyaman membuang sampah sembarang.

James Lovelock dalam bukunya Revenge of Gaya: Why the Earth is fighting back – and How We can still save humanity terdapat pernyataan bahwa, Manusia beranggapan alam sebatas tempat beraktivitas. Kenyamanannya menjadi hal yang prioritas; sehingga manusia berbuat sesuka hatinya (pembuangan sampah sembarang dan pencemaran lingkungan dan lainnya) terhadap alam. Hal demikian, sungguh menampilkan hilangnya rasa penghormatan dan totalitas hidup bersama alam kini tengah dialami peradaban manusia. Sebenarnya manusia merupakan parasit, dimana ketergantungannya penuh pada alam. Tapi, manusia tidak pernah sadar dan bersyukur pada alam, dimana sudah memenuhi semuanya, malah menghancurkan kembali alam dengan berbagai caranya. Hal inilah yang menjadi keprihatina bagi alam, yang mana merupakan rumah kita bersama kata Paus Francisco. Selain rumah yang telah menaungi dan melindungi manusia, alam juga merupakan paru-paru manusia.

Previous post MENTALITAS INSTANISME MANUSIA TERHADAP ALAM
Next post Pandemik dan Pergulatan Eksistensi Manusia Dalam Eksistensialisme Kierkegaard

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.