Kehadiran Beatrix Sebagai Penulis Muda Telah Menambah Daftar Penulis Perempuan Asal NTT

Nadiinspirasi-Hari ini tepat tanggal 8 maret sebagai hari wanita sedunia, Beatrix resmi launching novel ketiganya berjudul “9 Angka 8 Yang Tidak Sempurna” terbit pada 29 November 2019 setelah menerbitkan dua Novel Sebelumnya yakni “Tuhan Akhirnya Aku Mengerti” terbit 26 September 2015, “Aku dan Sang Gelap” terbit 29 Februari 2019.

Acara tersebut berlangsung di Aula Yayasan Mardi Wiyata Jalan Mahameru VE 7 No 10 Tidar Malang Jawa Timur dengan tema Menumbuhkan Mental Generasi Kontributif Dengan Literasi. Ada pun pembicara dalam acara tersebut yakni Beatrix sendiri sebagai penulis, kemudian Mariano Sengkoen sebagai yang membedah novel tersebut dari perspektif filsafat eksistensialisme. Ia menaruh minat pada dunia sastra dan filsafat. Pada tahun 2010 mulai belajar menulis puisi, cerpen dan essay sastra. Beberapa karyanya pernah dimuat di surat kabar lokal, jurnal sastra juga beberapa media online. Ia menamatkan pendidikan sarjana dari Fakultas Filsafat Agama, Universitas Widya Mandira, Kupang. Sejak tahun 2017 melanjutkan pendidikan magister di Universitas Brawijaya, dengan bidang study Pertahanan Nasional.

Menurut Ino ending dari novel tersebut bukan soal happy ending atau sad ending, tetapi penuh dengan nasihat dari penulis kepada pembaca melalui tokoh utama Maria dalam novel tersebut.

“Akhir novel tersebut bukan tentang sad or happy ending tapi positif, transformatif and constructif ending keputusan pribadi yang sangat kental dengan semacam nasehat dari Maria kepada para pembaca. Ini menandakan fungsi sosial dari pelajaran hidup, dinamika pengetahuan yakni dari tidak tahu, ingin tahu, cari tahu, tahu, beri tahu.  Beritahu bukan supaya pembaca meniru, tapi mereka belajar tentang alternatif solusi dan kemudian membuat pertimbangan dan keputusannya sendiri. Jelas Ino ketika mengupas Novel tersebut dari filsafat eksistensialisme.

Ino juga menambahkan jika bagian akhir dari novel tersebut sangatlah korelasi dengan tema acara yakni menumbuhkan mental kontributif melalui pengembangan budaya literasi.

“Di titik ini novel ini punya korelasi dengan mental kontributif melalui literasi. Perlu waspada supaya relasi dalam literasi tidak menjadi guru-murid, tahu-tidak tahu, tetapi harus dalam iklim kesetaraan dan keterbukaan untuk saling belajar, menginspirasi bukan menginstruksi”, tambah Ino.

Gambar// https://nadiinformasi.com/

Sementara pembicara ketiga salah seorang pegiat literasi juga kordinator Buku Bagi NTT Regio Malang, Wenselinus Nong Kardinus, Ia juga merupakan penulis di beberapa media cetak maupun online yakni, Majalah Oikos Frater BHK, Majalah Kana milik SVD, Majalah Warta Flobamora, menulis buku dalam rangka memperingati 350 tahun wafat Santo Vinsensius de Paul tahun 2010.

Menurut Wenselinus, sosok Beatrix harus mendapat Apresiasi, mengingat menurunya minat baca orang muda NTT yang masih jauh dari harapan, dan kurangnya fasilitas atau akses bagi anak-anak muda NTT untuk membangun budaya Literasi.

“Sosok Beatrix perlu di apresiasi sebagai seorang penulis muda NTT, semoga Beatrix bisa menginspirasi generasi muda untuk terus menumbuh kembangkan literasi, khususnya NTT, jelas Wenselinus.

Berdasarkan beberapa kajian dari berbagagai literatur, salah satunya penelitian Yohanes Sehandi Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Flores pada 31 Oktober 2018, menyebutkan bahwa sastra Indonesia dikenal di Provinsi NTT sejak tahun 1955, yakni sejak orang NTT pertama menulis dan mempublikasikan karya sastranya secara nasional. Orang NTT pertama yang menulis karya sastra adalah Gerson Poyk. Sampai dengan tahun 2018 sastra NTT sudah berusi 63 tahun. Jumlah karya sastra NTT yang telah diterbitkan dalam bentuk buku selama 63 tahun sebanyak 176 judul buku sastra, dengan perincian buku novel 72 judul, buku kumpulan cerpen 46 judul, dan buku kumpulan puisi 58 judul. Jumlah sastrawan NTT yang berhasil diidentifikasi berjumlah 44 orang, dengan perincian 37 orang pria dan 7 orang perempuan.

Dari hasil penelitian tersebut maka kehadiran Beatrix Yunarti Manehat sejak meluncurkan novel pertamanya pada 2015 lalu dengan sendirinya telah menambahkan dirinya dalam daftar penulis perempuan NTT.



Berikut profil singkat Beatrix Yunarti

Beatrix Yunarti Manehat, lahir pada 2 Januari 1993 di Boronubaen, kecamatan Biboki Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, kota Kefamenanu, NTT

Beatrix menamatkan sekolah dasarnya di SDN Boronubaen pada 2005, Kemudian Sekolah Menengah Pertama nya di SMPN 1  Biboki Utara pada tahun 2008 dan Sekolah Menengah Akhirnya SMAN 1 Kefamenanu.

Beatrix Lulus Strata 1nya di Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang pada tahun 2017 dengan predikat Cumlaude, kemudian menamatkan program magister S2 dari Universitas Brawijaya Malang.

Selain itu Beatrix juga meraih segudang prestasi, diantaranya juara 3 Besar Debat E-Economi Wilayah Surabaya,  yang  diselenggarakan oleh Universitas Surabaya (UBAYA) Tingkat jawa Timur pada tahun 2016, Juara 1 Olimpiade CERIA Dalam Temu Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Indonesia (TEMAN 6) tahun 2018.

Beatrix juga merupakan seorang penulis,  hingga saat ini Beatrix telah menulis 3 novel. Novel pertama berjudul,  Tuhan Akhirnya Aku Mengerti,  Kemudian Novel kedua Aku dan Sang Gelap, dan Novel ketiganya  yaitu 9 Angka 8 yang tidak Sempurna.

Sementara itu di bidang Organisasi, Beatrix pernah menjabat sebagai Sekretaris Koperasi Himpunan Mahasiswa  Akuntansi (HIMAKA) Unitri pada tahun 2016-2017.

Kordinator Divisi Hubungan Masyarakat (HIMAKA) , HIMAKA Unitri tahun 2016-2017, Ketua pelaksana Unitri IDOL tahun 2015, Ia juga adalah Founder dari Melki and Beatrix Foundation (M&B) sejak tahun 2013 hingga sekarang, dan yang terbaru Beatrix juga merupakan Founder dari sebuah situs menulis online  www.nadiinformasi.com

*Barros*

Daftar Bacaan http://repositori.kemdikbud.go.id/10201/1/MELACAK%20JEJAK%20SASTRA%20INDONESIA.pdf



Previous post Waktu Ku Telah Berlalu
Next post Peran Anak Muda Dalam Perkembangan Literasi NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.