KEADILAN BUTUH REVOLUSI MORAL!

Keadilan adalah tuntutan dan kebajikan yang kerap kali diserukan manusia dari zaman ke zaman. Semua manusia menuntut keadilan, mengandaikanya atau berjuang demi keadilan. Namun keadilan sekaligus merupakan konsep kontraversial; tema keadilan menjadi objek perdebatan dan diskusi. Keadilan adalah konsep mendasar dalam kehidupan moral dan hukum yang tidak muda didefenisikan, walaupun merupakan konsep yang sangat hakiki.

Seruan keadilan sering disuarakan para elit, aktifis bahkan masyarakat minor dan lain sebagainya. Ironinya sampai hari ini tema tentang ketidakadilan masih juga menjadi diskusi hangat yang belum terselesai. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar bagi masyarakat apa yang menyebabkan persoalan ketidakdilan rumit dituntaskan? lalu bagaimana cara untuk mengatasinya? pertanyaan ini menjadi sebuah pertanyaan tampa akhir untuk mencari akar jawaban tuntas dari sekelumit persoalan tersebut.

Ketika terjadi bentuk ketidakadilan tidak sedikit orang gerah dan prihatin. Untuk itu kritik dilontarkan, gugatan diajukan. Sayangnya kebungkamanlah yang dihadapi. Mengapa demikian karena yang dihadapi adalah tembok kukuh yang tetap teguh mempertahankan kepentingan sendiri dan tegar tanpa keterbukaan, apalagi kepedulian. Inilah suatu aura yang membiasi prsoalan tersebut, dimana orang kehilangan mata hati untuk melihat dan mendengar aspirasi-aspirasi dari mereka yang menjadi korban ketidakadilan.

Aturan dan lembaga hukum kadang hanya menjadi sebuah pajangan, tetapi tidak memiliki loyalitas untuk menjalankan spiritntya. Lantas tak jarang aturan dan hukum itu dibeli oleh kaum elit. Biasnya adalah masyarakat yang sederhana dan “lemah” yang tidak punya apa-apa untuk membeli hukum. Sayangnya ketika ada suara-suara minor masyarakat yang mencoba mengkritisi, dengan cepatnya mereka mempersekusi dengan berbagai sematan hukum. Mereka yang “lemah” terpaksa diam seribu bahasa menyaksikan drama riuh para elit.

Bagaimana cara untuk mengatasi persoalan ketidakadilan? Disini saya coba mengahadirkan beberapa konsep dan pemaknaan keadilan yang kiranya bisa membantu dan menginspiri untuk mengatasi masalah ketidakadilan. Yang pertama Keadilan di dalam Kitab Suci: dalam Perjanjian Lama keadilan sebagai kebijakan moral kadang-kadang dapat memiliki makna lebih terbatas sebagai keadilan sipil dan kadang-kadang juga makna lebih luas sebagai kejujuran dan intergritas moral. Keadilan dalam Bahasa hukum Iasrael kuno dituntut oleh hakim yang diajak untuk memperlihatkan intergritasnnya dalam menjalankan kewajiban-kewajiban mereka (Ul 1:16; 16:18-20). Keadilan sebagai sikap mengindahkan dan menghormati hak orang lain dituntut dari setiap anggota masyarakat Yahudi (Kel 23:6-8; Ul 25;13-15; Ams 16:13). Para nabi berkali-kali dan secara terang-terangan mencela ketidakadilan yang dilakukan oleh para hakim dan raja, manakala mereka menindas kaum miskin. Sikap raja atau hakim yang kuat kuasa terhadap bawahan atau pengaduh yang tak berdaya menjadi paradigma bagi semua hubungan antara pemimpin dan bawahan, tuan dan hamba. Dalam semua hubungan ini, menjadi kewajiban bagi para penguasa dan mereka yang lebih kuat untuk melindungi kaum yang lemah (Yeh 45:9 Mi 6:6-8). Para nabi menekankan cinta utama Allah terhadap mereka yang tak berdaya, yang rentan terhadap segala bentuk penindasan.

Dalam Perjanjian Baru di dalam cara berbicara Yesus, keadilan memiliki “makna biblisnya berupa kesalehan yang menuruti hukum. Meskipun hal ini bukan merupakan titik pusat pewartaan-Nya, Yesus tidak ragu-ragu untuk merumuskan kehidupan moral sebagai keadilan sejati, sebagai ketaatan rohani terhadap perintah ilahi”. Di dalam kotbah di bukit Yesus mendefinisikan keadilan sejati murid-murid-Nya (Mat 5:17-6:18) keadilan mereka haruslah lebih besar daripada keadilan orang farisi, yang berpuas diri dengan pemenuhan legalistis hukum, namun melanggar semangat keadilan, yang terwujud dalam upaya tulus demi kesejahteraan sesama (Mat 5:20; 23:23) (Karl-Heinz: 2003, 38-39).

Kedua: Aristoteles menempatkan keadilan sebagai sala satu keutamaan pokok dalam politik. Ia memahami keadilan sebagai keutamaan kesempurnaan. Menurutnya, jika keadilan ditegakkan, maka tidak perlu lagi keutamaan-keutamaan lain. Paul Ricoeur (1913-2005) Juga merefleksikan tentang keadilan berkaitan erat dengan gagasanya tentang etika. Menurutnya tujuan etika adalah hidup baik bersama dan bagi orang lain untuk memperluas lingkup kebebasan dan membangun institusi yang lebih adil (Pius Pandor: 2014, 48).

Ketiga: masih juga berkaitan dengan keadilan, St. Thomas Aquinas juga menegaskan bahwa suatu hukum yang adil bila sejalan dengan hukum Ilahi. Ia mengajukan sejumlah hal berikut sebagai persyaratan adilnya suatu hukum: pertama, hukum harus mengutamakan kesejahteraan umum. Kedua, beban yang dituntut hukum masyarakat harus sama dan berlaku untuk semua. Ketiga, tidak mengutamakan atau berpihak pada kepentingan kekuasaan (Baca: Peter C. Aman, 2016, 124).

Para ahli sependapat bahkan sangat berbeda pendapat menyangkut konsep keadilan. Namun mereka bersepakat menyangkut tiga ciri utama keadilan. “ciri pertama adalah bahwa keadilan merupakan norma sosial, itu berarti pedoman yang menuntun manusia dalam berhubungan satu sama lain. Ciri kedua adalah bahwa keadilan bersifat aprobatif dalam arti bahwa apabila orang melukiskan suatu tindakan sebagai adil hal ini menunjuk ada persetujuan atas tindakan tersebut. Ciri ketiga keadilan bersifat mewajibkan dalam arti bahwa menilai suatu tindakan sebagai adil berarti bahwa seorang manusia dalam situasi yang sama seharusnya juga melakukan hal yang sama (ibid., Karl-Heinz: 2003, 40).

Lewat sumbangsih para pemikir diatas ini ada poin-poin penting yang mau dikemukakan. Yang pertama bahwa keadilan itu adalah suatu kebajikan utama yang mestinya dihayati dan dihidupi oleh semua orang. kedua keadilan harus diposisikan jauh di atas segala bentuk hukum apapun. Dalam arti lain hukum harus mengutamakan keadilan dan tidak bisa merebut hak kodrati setiap manusia. Hukum harus membangun hidup manusia bukan mematikan manusia. Namun untuk meghidupi nilai-nilai keadilan ini entah siapapun dia pertama-tama perlu melakukan “revolusi” moral. Hal ini penting sebab moralitas adalah kunci untama untuk menghidupi nilai-nilai keadilan. Tampa ada revolusi moral keadilan hanya tetap menjadi teriakan yang terus bergaung mengikuti irama waktu.

SHM Kupang, 25 Maret 2021

Penulis: Patrianus D. Dewa Panggo

Previous post Pemerintah Indonesia Belum Serius Urus Sanitasi Dan Air Bersih
Next post Puisi-puisi Rikardus Mantero

6 thoughts on “KEADILAN BUTUH REVOLUSI MORAL!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.