Karena Dia Telah Ada

Kicauan burung, tiupan angin sepoi-sepoi, dan gonggongan anjing selalu menemani menjalani hari-hari hidupku, menjadi instrument dalam melangkah mengarungi samudera hidup ini. Dengan penuh nada syukur dan beribu untaian kata terima kasih terucap, aku mulai mengenal dan bersahabat dengan semua yang ada disekelilingku. Hari-hari hidupku, kulewati dengan penuh rasa bahagia dan selalu menebarkan senyum termanis dariku pada semua makhluk ciptaan Tuhan. Aku selalu berusaha untuk berpikir positif dengan semua yang kualami dalam hidup ini. Semuanya itu membuatku merasa enjoy dan bahagia menjelajahi duniaku yang penuh misteri. Di tempat ini, aku dibentuk untuk menjadi pribadi yang baik, setia, dan bertanggung jawab. Keheningan menjadi dasar agar diriku bisa merasakan setiap kekuatan cinta dari-Nya. Dalam keheningan ditemani sang rembulan, aku merasa dikuatkan dan diteguhkan oleh kasih cinta-Nya. Cinta-Nya telah tertanam indah dalam lubuk hatiku. Mengenal dan merasakan hangat belaian kasih-Nya memberanikan diriku untuk melupakan dia yang pernah singgah dalam hatiku. Dia yang pernah memberiku rasa nyaman dan yang selalu membuat hari-hariku merasa bahagia, karena cinta dan kebaikan hatinya yang selalau seakan-akan terbang melayang bersama sang awan. “Dia” yang membuat hariku terasa indah dan berwarna bak pelangi yang muncul sehabis hujan. Aku merasa nyaman ada bersamanya. Namun, aku mencoba diam seribu bahasa sejenak merenung, apakah semua perasaan nyaman itu bertahan hingga maut memisahkan.

………..beberapa bulan kemudian………..

Entah mengapa dan bagaimana, aku berjalan melewati jalur yang ramai, indah nan menarik hatiku. Aku terus berjalan hingga di sudut jalan itu, aku melihat dia yang berambut panjang hitam dan sejenak aku kembali pada kisah beberapa tahun lalu. Hendak aku berpaling darinya, namun semuanya sia-sia. Dia mendekati dan meraih tanganku serta pipihnya dipenuhi air mata yang terus berderai dari matanya. Aku tidak tahu apa maksud dan arti semunya itu. Aku hanya berdiri melongo seperti orang bodoh, tak mampu lagi untuk bertindak. Aku seolah-olah telah dikepung oleh sang penjahat. Namun, hati ini berusaha untuk tenang dan mencoba mendengarkan curahan hatinya. Sekian lama kami berpapasan, namun aku tak mendengarkan sepatah kata pun yang hendak diungkapkannya. Perlahan ku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya dan melanjutkan panggilanku.

Ekspresinya masih terngiang dibenakku, namun aku berusaha untuk fokus dengan jalan yang telah kupilih. Aku tidak mau membuka jalan baru dalam hidupku dan tetap setia pada apa yang telah ku mulai. Aku tetap menjalankan hariku dengan penuh rasa syukur dan berusaha untuk menghilangkan semua kenangan indah bersamanya. Bukan karena aku mati rasa, tetapi karena Dia telah terlukis indah dalam hatiku. Aku mencintainya bukan berarti aku harus memilikinya. Aku mencintai dia melalui Dia sang sumber cinta abadi. Dia yang membuat diriku tetap bertahan untuk merasakan kehangatan cinta-Nya yang sempurna. Aku berani mengambil jalan untuk mengabdi kepada-Nya seumur hidupku, dengan hati yang tulus dan bebas, serta penuh tanggung jawab. Aku memilih-Nya bukan yang lain. Karena Dia telah ada dan akan selalu ada.

Penulis: Patrisius Mandut
Editor: Nadi

Previous post “Memilih Jalan Bernegoisasi Dalam Mengatasi Konflik Papua”
Next post SANDARANKU TELAH BERPALING PADA YANG LAIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.