Karena Dia Telah Ada

Mentari pagi memancarkan sinarnya diufuk timur menyinari jagat alam ciptaan-Nya, hingga menembusi kamarku yang mini menghangatkan badan yang kaku karena dinginnya pagi. Badanku yang kaku itu dibaluti oleh hangatnya mentari membangunkan aku dari tidur dan mimpiku yang indah. Menyadari akan kebaikan Tuhan atas diriku, kubersyukur untuk semua hal itu dan kumulai melangkah mengarungi samudera hidup hari ini. Ekspresi wajahku terlihat begitu sumringah, merasakan untaian kasih yang selalu kunikmati dari-Nya. Hari-hari hidupku terasa begitu indah dan menyenangkan. Aku adalah anak yang tidak punya apa-apa namun aku bangga dengan diriku. Aku selalu percaya bahwa Tuhan telah merencanakan sesuatu yang istimewa bagi diriku. Aku tidak mengeluh dengan keadaan diriku. Aku tidak protes kepada-Nya mengapa aku terlahir seperti ini namun aku selalu bersyukur, menikmati setiap instrument hidupku, dan berusaha agar hidupku menjadi lebih bermakna dari hari kemarin.

Kumulai memanjakan kakiku untuk terus melangkah menyusuri lorong-lorong hidupku, mencari sesuatu yang tersembunyi dibalik diriku. Aku memandang, merasakan, dan menikmati semua yang ada disekelilingku, merasakan indah dan istimewanya ciptaan Tuhan. Entah mengapa, langkahku berhenti disebuah tempat yang indah nan sejuk, seakan-akan membawa diriku pada taman firdaus. Aku mencoba berdiam diri dan sejenak beristirahat untuk merasakan indahnya alam ini. Hatiku ini terasa tenang dan damai. Aku hendak berpaling dan terus melangkah mencari jati diriku ditempat yang lain. Namun, hatiku ini melarangku. Dia tidak menginginkan aku untuk berpaling dari tempat ini. Hatiku pun menginginkan kehendaknya, aku tidak akan berpaling dari tempat yang selalu memberikan nyaman kepadaku karena cinta-Nya selalu membara dan menghangatkan diriku. Aku memulai lembaran baru ditempat ini. Aku mulai masuk dan menikmati duniaku yang baru. Entah mengapa, mengawali langkah ini, kakiku terasa berat dan aku merasakan sesuatu yang membuat langkah kakiku kaku untuk terus melangkah. Aku pun tak tahu, mengapa seperti ini? Aku hanyalah anak yang bodoh, tak tahu apa dan bagaimana semuanya terjadi. Namun, dalam diri, aku selalu berkomitmen untuk membuka diri dan siap untuk terus maju mencari tahu harta terindah dalam hidupku.

Previous post “Memilih Jalan Bernegoisasi Dalam Mengatasi Konflik Papua”
Next post SANDARANKU TELAH BERPALING PADA YANG LAIN

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.