Iman dan Keselamatan Universal (Sebuah Tinjauan Biblis dan Filosofis)

Budaya dan lingkungan merupakan bagian-bagian yang memiliki peran penting membentuk individu menjadi pribadi sesuai nilai pegangannya. Hukum dan budaya yang ekstrim dan kaku serta lingkungan yang keras akan melahirkan individu-individu yang berwatak keras dan kaku. Dalam atmosfir seperti ini akan mematikan sikap inklusif terhadap situasi dan keadaan yang berkembang. Akan tetapi berbeda pula dengan fleksibilitas hukum yang meredam sikap egosentris sehingga memberikan celah pada ruang dialog untuk menemukan nilai kesamaan. Terkadang hukum, budaya, dan nilai-nilai yang ditanamkan oleh generasi ke generasi selalu berbeda karena perubahan sehingga memiliki banyak penambahan dan pengurangan hakiki dari nilai itu sendiri. Hal itu tentu dapat menjadi penafsiran yang keliru terhadap hakiki dari hukum dan nilai yang diwariskan. Aku bertanya kepada kamu: Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6:9). Pertanyaan ini dilontarkan oleh Yesus untuk mengundang suatu tanggapan dari Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi bahwa perintah manakah yang memiliki nilai paling urgent terhadap kehidupan sesama, menyembuhkan orang pada hari sabat atau menaati hukum yang mengesampingkan nilai cinta kasih kepada sesama. Yesus membuka suatu peristiwa yang merestorasi kembali pemahaman yang keliru yakni menyembuhkan orang yang mati tangannya. “Ulurkanlah tanganmu” (Luk 6:10) meskipun terjadi pada hari sabat.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah dua kelompok yang berada dalam elemen lapisan masyarakat orang Yahudi. Mereka memiliki peran yang berbeda dan cukup penting. Ahli-ahli Taurat adalah sekelompok yang memiliki profesi menulis, sekaligus mengetahui dan penafsir hukum. Sedangkan orang-orang Farisi adalah pemimpin spiritual dan politik orang Yahudi, dan memberlakukan hukum agama. Mereka mengikuti dan menaati hukum yang telah menjadi suatu budaya serta nilai yang diwariskan dan melekat dalam diri orang-orang Yahudi.  Kedua kelompok ini mengembangkan dan menafsirkan hukum yang kerapkali tidak sesuai nilai dan hakiki dari hukum itu sendiri. Hal itu seringkali menciptakan konflik antara Yesus dengan mereka, sehingga Ia berusaha meluruskan pemahaman Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang keliru dalam menafsir hukum. Kedua kelompok dalam elemen kehidupan publik Yahudi itu selalu mengusik dan mengendus gerak-gerik hidup Yesus. 

Seringkali adanya pengklaiman iman bahwa hanya menaati hukum yang diwarisi oleh pendahulu secara tertulis merekalah yang mampu diselamatkan. Akan tetapi perlu disadari bahwa iman bersifat privat dan universal karena dimiliki oleh semua orang yang sungguh percaya. Iman bersifat pribadi seseorang berelasi dengan Tuhan serentak pula iman dapat dimiliki oleh semua orang tanpa ada sekat atau batas teritori yang menjamin keselamatan universal. “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini   tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel” (Luk 7:9). Iman tidak hanya menjadi milik suatu etnis atau kelompok tertentu tetapi semua orang tanpa mengenal suku, etnis, dan dari bangsa manapun. Pekataan Yesus telah menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum. Perwira itu merupakan bangsa Romawi yang kala itu disebut sebagai bangsa kafir namun memiliki iman terhadap Yesus maka mendatangkan kesembuhan bagi hambanya. Jika kita melihat sekilas pada bangsa Romawi, tentu mereka memiliki kepercayaan pada nilai dan agamanya tersendiri. Demikian hal itu terjadi dengan perwira Romawi yang diperhadapkan dengan Yesus yang sebenarnya orang asing juga baginya tetapi ia membawa suatu nilai dan kepercayaannya pada yang absolut. Di sini terjadi perjumpaan dengan berbagai kebenaran-kebenaran lain yang berkembang menuju pada kesadaran sebagaimana mengimani dan bertumpuan pada keilahian yang sama, absolut, dan tak terbatas (Yakobus Ndona, 2021:44). Hal itu dapat kita menemukan melalui aneka wujud dengan cara yang khas untuk mengambil bagian dalam keselamatan. 

Semua orang melakukan tindakan kebaikan kepada sesamanya merupakan bagian eksistensi manusia “mengada bersama dengan yang lain (being with other)” (Heidegger, 1962:153). Kita dapat mengangkat dari sebuah kisah yang disampaikan oleh Yesus kepada seorang Ahli Taurat tentang orang Samaria yang baik hati (Luk 10:25-37). Dalam kisah itu orang Samaria disandingkan dengan seorang imam dan seorang Lewi. Mereka Bersama-sama berjalan melalui jalan yang sama tetapi seorang imam dan dan seorang Lewi melihat sesama yang terkapar di jalan tetapi nampaknya menyeberang tanpa memiliki sikap respek manusiawi terhadap orang itu. Akan tetapi orang Samaria yang melewati kemudian melihat sesama yang terkapar itu lalu mengangkatnya dan membalut luka-lukanya. Ketiga tokoh ini juga berbeda dalam kepercayaan dan bangsa yang berlainan. Orang Lewi dan imam merupakan kaum elit Yahudi sekaligus berasal bangsa Israel yang menyembah Yahwe dan tempat peribadatan adalah Bait Allah di Yerusalem sedangkan orang Samaria disebut sebagai bangsa kafir dan kepercayaan mereka bersifat politeisme. Kisah ini memberikan suatu makna bahwa orang yang memiliki kepercayaan yang berbeda tetapi tindakan sangat bersifat manusiawi. Oleh karena itu sikap orang Samaria merupakan solidaritas personalistis yang menghargai pribadi manusia sebagai nilai tertinggi (Sihotang, 2018:127). Manusia lebih utama dan aktor dalam kehidupan publik. Semua hal yang diputuskan perlu adanya pertimbangan bagi keberadaan dan kelayakan manusia itu sendiri.

Penulis: Yanuarius Asan Berek

Editor: Nadi

Previous post Saksikan Live: Melisa Mansula Bersama Beatrix Yunarti Senin 14 November Pukul 16.00 WITA di IG @nadiinformasi: Prduksi Sampah Kota Kupang Mencapai 100 Ton /Hari
Next post Nagita Slavina lahirkan putra keduanya, Rafathar trending di twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.