HIDUP ITU TERUS MENGALIR: PATUT DIREFLEKSIKAN? (SEBUAH CATATAN AKHIR TAHUN)

FELIX NATU S.FIL.M.FIL

Catatan Awal

Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita entah itu pengalaman suka, sedih, senang, terharu,cemas semua akan datang silih berganti dalam setiap momen dan kesempatan di dalam kehidupan ini. Pengalaman ini akan datang dan mengisi setiap sudut-sudut kehidupan ini entah suka atau tidak itu sudah menjadi realita yang dihadapi setiap insan. 

Ketika berhadapan dengan realita di atas ada reaksi yang berbeda-beda dalam hidup ini. Ada yang menanggapi dengan sikap melankolis, ada yang menghadapi dengan emosi, ada yang menanggapi dengan tegar dan kuat. Dalam Kita Suci ada peneguhan dari Sang Pengkhotbah  “untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ini, ada waktu untuk lahir dan ada  waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam dan waktu untuk menuai, ada waktu untuk mencabut dan ada waktu untuk menanam, ada waktu  untuk  membunuh dan ada waktu untuk menyembuhkan, ada da waktu untuk merombak dan waktu untuk membangun, ada  waktu untuk menangis dan ada waktu untuk tertawa, ada waktu untuk meratap dan ada waktu untuk  menari,  ada waktu untuk membuang, ada waktu  untuk mengumpulkan, ada waktu untuk mencari dan ada waktu untuk melepaskan, ada waktu untuk merobek, dan ada waktu untuk  menjahitnya, ada waktu untuk senang, ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk membenci dan ada waktu untuk mencintai ada waktu untuk perang dan ada waktu untuk damai.(Bdk.Pkh  3:1-8). Singkatnya biarlah penderitaan hari ini terjadi dengan kisahnya hari ini. Jangan pernah menyesal hingga terkekang dalam kesunyian. Kita perlu bangkit dari keterpurukan  masa lalu dan memulai hal yang baru.

Dalam realitas kehidupan kita selalu dihadapkan pada dua realita di atas. Selalu ada dua sisi. Lantas bagaimana manusia menghadapi itu dan mengolahnya agar semua bisa terjadi dan bisa mendewasakan diri.

Baca juga: Sahabat Penggerak Literasi-NTT Bisa NTT Bangkit

Apakah Hidup Perlu Direfleksikan?

Pertanyaan ini membutuhkan dua jawaban yang berbeda. Tetapi sebelum menjawab pertanyaan ini saya ingat filsuf Yunani Socrates mengatakan demikian, “hidup yang tidak direfleksikan tidak layak untuk dihidupi”.  Socrates melihat bahwa hidup manusia  berjalan bersama sang waktu dengan aneka realitas dan pengalaman yang terjadi. Hanya  manusia yang  bisa merefleksikan realita dan fenomena ini. Mahkluk lain tidak mungkin merefleksikan sejarah dan pengalamannya. Ada sebuah adugium klasik dalam bahasa Latin mengatakan demikian, tempora mutantur, et nos mutamur in illis,( waktu berubah dan kita pun turut berubah di dalamnya). Sejarah mencatat peristiwa yang manusia  alami, peristiwa ini kadang, bisa membahagiakan kadang juga bisa menyedihkan. Ada juga yang membuat manusia merasa down atau terburuk tetapi ada juga membuat manusia menjadi lebih bersemangat untuk terus melangkah. Kendati demikian ketika kita memaknai setiap sejarah yang terjadi hendaknya kita perlu bangkit dan ingin berubah. Sebab secara fundamental manusia ingin terus berubah sesuai dengan zaman dan waktunya. Apa lagi kita di Indonesia dihadapkan dengan realita global 4,0 di mana manusia diuji dengan berbagai tawaran digitalisasi dan pemikiran moderen. Hendaknya NTT juga berpartisipasi dan memanfaaatkan momen ini lantas memaknai secara bijak agar kita tidak tertinggal dan juga tidak terjebak dalam arus globalisasi ini.

2021  dalam Potret Sejarah  dan Momen

Tanpa terasa kita sudah di penghujung tahun, bahkan menghitung jam untuk melepaskan jejak dan sejarah yang diperoleh di tahun 2021. Banyak kejadian menarik tetapi juga berbagai bencana yang menimpah negeri ini. Dari segi prestasi  Indonesia mencatat juara olimpiade atau meraih piala emas dari cabang ganda putri Greysia Pol/ Apriyani Rahayu di olimpiade Tokyo, cabang olah raga angkat besi, Eko Yuli Irawan dalam kelas 61 kg, mempersembahkan medali perak, cabang olah raga panjat tebing juga meraih medali emas, Kiromil Katibin dan  Vedriq Leonardo. Selain itu  dalam dunia  sepak Bola, Indonesia masuk final  Asia AFF. Semua catatan sejarah ini akan terus diingat sepanjang tahun 2021. Di kancah regional terutama NTT dalam bidang pariwisata  meraih juara 1 tingkat Nasional Kategori Anugerah Pesona Indonesia(API), bahkan menjadi juara 1 dalam tiga kategori yakni  Kategori wisata Air Terbanyak Telaga Nirwana di Rote Ndao, kategori kampung adat terbaik,  yakni di Lewokluok- Flores Timur dan kategori Surga Tersembunyi Terbaik  di Fatumnasi- TTS. Selain itu ada juara 2 kategori Destinasi  Belanja Terbaik yakni di Gakeri Akusikka di Kabupaten Sikka dan juara 2  Kategori Destinasi Olahraga dan Petualangan Terbaik yakni Trekking Bukit Wade di Kabuote Lembata dan kategori  juara 3  situs sejarah terbaik di situs Gaja Mada di Kabupaten Sabu Raijua. 

Baca juga: Fakta Menarik Benteng 7 lapis Kabupaten Belu Kota Atambua

Semua prestasi ini tentu diraih melalui proses dan kerja keras dari semua pihak. Mungkin masih banyak lagi prestasi baik nasional maupun regional, baik komunitas maupun individu yang belum tercatat bisa di catat secara pribadi untuk dilihat sebagai motivasi. Di Media Pendidikan Cakrawala NTT sendiri, telah melaksanakan banyak kegiatan yakni, penerbitan buku, mengadakan pelatihan  karya tulis bagi Guru dan Peserta Didik di berbagai SMA/SMK,SLB se-provinsi NTT, pentas akademi cakrawala, tour literasi dan mengadakan lomba puisi dan opini dalam rangka memeriahkan HUT NTT ke 63. Semua itu tentu menjadi catatan positif dan prestasi yang diraih di tahun ini.

Selain itu ada juga hal-hal yang terjadi di luar dugaan manusia, covid-19 yang masih dirasakan hingga saat ini, bencana Seroja yang menimpah berbagai daerah di NTT, Banjir di Sulawesi, letusan gunung semeru, angin puting beliung dan longsor di Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang di Jawa Timur dan terakhir isu tsunami di daerah Flores, serta gempa di Maluku. Semua itu telah terjadi dan menimpah manusia itu sendiri. Hendaknya kita merfelskikan dan menjadikan ini sebagai motivasi bahwa Tuhan masih memberi kesempatan bagi kita untuk terus berbenah dan merenovasi diri. Kita tentu berbangga dengan prestasi di atas, namun pada saat yang sama kita merasa bahwa hidup itu hanya sebuah titipan karena fenomena alam terjadi kapan dan di aman saja. Ini merupakan rahasia Tuhan yang patut diwaspadai. Manusia harusnya merasa bersyukur degan alam yang begitu indah. Tuhan menciptakan itu secara gratis.Sekarang  bagaimana manusia memanfaatkan itu dengan memelihara alam tanpa mengeksploitasi dengan ambisi dan egonya.

 Catatan Penutup

Terkadang masa lampau  terus mengusik kita dengan rasa bersalah dan masa depan dengan kecemasan. Banyak realita sudah terjadi dalam hidup kita di tahun 2021 ini. Saatnya membangun komitmen di tahun 2022 untuk lebih baik lagi. Kita tidak terus menangisi kehidupan ini, tetapi perlu bersyukur atas apa yang kita peroleh dalam hidup ini. Hal-hal yang belum tercapai di tahun 2021, kita  satukan komitmen, alam semesta akan menghantarnya untuk dicapai di tahun 2022. Mungkin juga apa yang sudah diraih di tahun 2021 menjadi kenangan yang berkesan. 

Perlu disyukuri karena capaian-capaian itu adalah campur tangan Tuhan melalui sesama yang sudah ditentukanNya. Mungkin ada yang sudah memiliki rumah baru, mobil baru,tanah baru, usaha baru di 2021, semua ini disyukuri sebagai pencapaian selama 2021. Selama 2021 mungkin ada sahabat yang pergi meninggalkan luka,  bahkan ada yang kehilangan orang-orang terdekat. Misalnya, Ayah atau Ibu, Nenek/Bai atau Opa/Oma, anak, cucu, suami atau istri, pimpinan yang paling dekat, bawahan yang baik,  Pastor atau Pendeta, Ustad, tetangga bahkan mantan Gubernur. Artis-artis favorit atau Presiden Favorit. Itu semua bagian dari kehilangan yang patut kita doakan. Selain itu ada yang mempunyai berkat baru, kelahiran baru,  sahabat baru yang mendatangkan kebahagiaan, rejeki, naik kepala sekolah, jadi kepala dinas, Bupati, Camat,Desa semua itu telah terbingkai dan tersimpan dalam album dan  memori di tahun 2021.

Kita perlu menatap dengan optimisme di tahun 2022, agar kita hidup lebih baik sembari mendoakan mereka yang telah pergi agar mereka mendapat kebahagiaan baru di tempat baru. Kita yang masih bersama di tahun 2022, ini bisa saling mencintai sebagai satu keluarga, sebagai satu Bangsa, sebagai satu Propinsi, sebagai sebagai satu Kabupaten, satu Kecamatan Pedesaan,teman kantor, teman guru di sekolah, sebagai Pengawas dan Kepala Sekolah,  masuk dalam satu komunitas positif. Semoga  kita bergandengan tangan dan memiliki satu cinta menatap 2022 dengan penuh optimisme agar lebih  baik dari tahun kemarin.

Penulis adalah Alumni PascaSarajana STFT Widya Sasana Malang, editor dan formator Media Pendidikan Cakrawala NTT. Putera Malaka domisili di Kupang.

Previous post Kemampuan Telekinesis Fakta atau Ilusi – Simak Kisah Nina Kulagina, Perempuan Rusia yang Memiliki Kemampuan Telekinesis
Next post PESAN ABSTRAK

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.