Tanpa bicara apa-apa, Ogi bergegas pergi ke gereja. Ogi tersungkur dan menangis sejadi-jadinya di depan salib Yesus. “Apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk hidup bersama Ibuku setelah apa yang terjadi selama ini?”, tanyanya dengan menundukkan kepalanya di bawah kaki Yesus. “Aku mohon berikan aku waktu sedikit untuk mengungkapkan rasa rinduku, rasa kasih saying dan cintaku kepada Ibu yang telah banyak berkorban demi aku”, katanya lagi sambil mencium kaki Yesus.

Dengan cepat Ogi lalu langsung berlari lagi ke rumah sakit. Kecepatannya tinggi hingga dia menabrak beberapa orang. Ia hanya berharap masih bertemu Ibunya. Sesampainya di depan kamar rawat Mira, dia langsung memeluk Mira dengan erat dan mencium kening dan juga pipi Mira. “Aku mencintaimu Ibu. Aku merindukanmu, aku membutuhkanmu, aku sayang padamu”, tuturnya setengah berbisik. Walau pelan Mira dengan jelas mendengar pengakuan itu. Dengan tersenyum Mira membuka matanya dan mengusap wajah Ogi. “Terima kasih kamu telah hadir dalam hidupku, Nak. Kamu harus tahu bahwa aku juga sangat mencintaimu bahkan dalam hidup dan matiku nanti”, kata Mira dengan air mata yang mengalir begitu deras. “Dengarkan aku baik-baik,nak. Waktu tidak bisa diputar kembali, semua sudah terjadi dan waktuku tinggal sedikit, namun di waktu yang singkat ini aku mau mengatakan sekali lagi bahwa aku mencintai kalian. Saat ini aku sangat bahagia karena kalian telah kembali kepadaku. Belajarlah dari apa yang telah terjadi dalam keluarga kita. Baik kepadamu, kepada ayahmu dan juga hidup keluarga kita. Jadilah anak yang baik dan berlaku benar”, ucapnya dengan nafas terputus-putus.

Setelah itu, perlahan matanya mulai terpejam, namun air matanya tak henti-hentinya mengalir membasahi pipinya. “Selamat tinggal”, katanya lembut dengan nafas yang tersengal-sengal. Beberapa detik nadinya telah berhenti, jantungnya mulai menghentikan pekerjaannya, darahnya mulai membeku membuat seluruh tubuhnya dingin dan menghitam. Keluarga yang dirindukan telah kembali dalam waktu 10 menit, namun itulah kebahagiaan yang menghantar kepergiannya mengahadap sang pemilik hidup.
“Senja pamit merangkak pergi. Mentari perlahan turun mencumbu bibir laut. Di bawah batu nisan yang terukir prasasti, menandakan bahwa kamu telah pergi Ibu. Engkaulah selembar daun yang lembut membisik rindu. Engkau membangun dan menggerakkan diksi-diksi di bebatuan hidup, hingga pada suatu hari waktupun beranjak, matahari pulang mengendarai senja menuju cahaya yang lain. Engkau hanya bisa dikenal dan dikenang dengan ucapan selamat jalan Ibu. Kebersamaan kita hanya 10 menit namun memberi makna dan kenangan terindah dalam hidupku. Jasa dan pengorbananmu akan menggugurkan kesedihanku dan menumbuhkan semangatku”, kata Ogi dalam hati saat duduk memandangi nisan Mira, Ibunya.

Penulis: Suster Yanti Simanjuntak H.Carm
Editor: Beatrix Yunarti Manehat

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.