”Saat kamu berumur 2 tahun sebuah peristiwa besar terjadi di perusahaan. Banyak para pengusaha bersaing untuk mendapatkan persenan saham yang lebih tinggi termasuk Ayah. Karena perusahaan kita yang mendapat persenan lebih tinggi, ada rasa iri dan tidak puas dengan persenan yang mereka terima, pada akhirnya mereka berusaha untuk membunuhku. Saat perjalanan pulang ke rumah, aku dicegat oleh beberapa preman suruhan para pejabat itu. Mereka berbadan besar dan jumlahnya banyak aku tidak bisa melawan, aku sudah terkapar . Wajahku lebam dan babak belur, kepalaku berdarah, tubuhku lemas terkulai di bebatuan yang tajam menusuk seluruh tubuhku namun mereka masih belum puas sebelum aku mati, sehingga salah satu dari preman itu mau menusukku dengan pisau. Tiba-tiba Mira Ibumu datang dan langsung menembak kepala preman itu. Aku tidak tahu dia darimana dia datang dan mendapatkan senjata darimana, namun dengan senyap-senyup kudengar teriakan Ibumu dengan suara yang terasa bergetar karena ketakutan memanggil namaku. Dalam remang-remang kulihat tangannya mulai menarik pelatuk pistol yang berada digemgamannya. Perlahan menekannya hingga peluru meluncur dengan cepat, tepat di dada preman itu. Dengan seluruh tenaga yang masih tersisa kupaksakan diriku mendekati Ibumu. Kugenggam tangannya yang gemetar hebat akibat dari apa yang telah dia lakukan itu. Perbuatan yang akan membawa resiko paling besar disepanjang hidupnya dan aku tidak dapat berbuat apa-apa selain mencoba menguatkannya dengan menggemgam tangannya erat. Sayang, itu sudah tidak berarti apa-apa ketika polisi membawanya ke penjara. Sayup-sayup kudengar dia masih menyebutkan namaku dan berkata bahwa aku harus hidup demi kamu.

Selama dia di penjara aku lupa ingatan sehingga nenekmu menikahkan aku dengan Tiara, untuk merawatmu. Waktu terasa berputar begitu cepat sehingga tanpa sadar musibah sialan itu telah memisahkan kita dari Ibumu sekian lama dan merenggut kebahagiaan yang telah kami susun dengan rapi dengan harapan dan tujuan yang sama demi kebahagiaan keluarga kita. Semua harapan itu hancur berkeping-keping tanpa menyisakan sedikit pundi-pundi dari harapan itu, yang tertinggal hanya waktu yang menyimpan duka menyiratkan air mata. Saat terakhir kali aku mengunjunginya setelah ingatanku pulih Ibumu berpesan untuk tidak membawamu mengunjunginya. Ibumu tidak ingin membuatmu malu karena memiliki seorang Ibu pembunuh dan berada di penjara. Itu juga yang membuatku untuk mencoba menutupinya dari kalian. Berharap akan ada waktu yang tepat untuk menceritakannya nanti. Dan setelah ingatanku kembali aku selalu mencari waktu untuk menceritakan semuanya kepadamu dan Tiara. Namun kesempatan tidak berpihak padaku sehingga kamupun bertumbuh dalam kebencian. Kenyataan hidup menjadikanmu sebagai orang yang tumbuh dalam kebingungan. Jika kamu mau membenciku aku tidak keberatan tetapi jangan pernah membenci Ibumu. Jangan pernah menyalahkan Ibumu atas apa yang terjadi, karena tanpa dia kita tidak akan hidup seperti sekarang ini”.

Mendengar penjelasan Ayahnya, Ogi hanya bisa diam dan mematung dengan mata yang mulai berkaca-kaca dan membendung hingga akhirnya jatuh membasahi pipinya. “Ibu maafkan aku”, katanya dengan lirih sambil menangis tersedu-sedu. “Maaf apakah kalian keluarga dari Ibu Mira”, tanya dokter hyang tiba-tiba mengusik keheningan. Keheningan buyar dan ketakutanpun mulai merajalela. Bayangan kekalutan membuat Arga dan yang lainnya membisu tanpa menjawab pertanyaan sang dokter. “Maaf kami sudah berusaha memberikan yang terbaik tapi semuanya sudah sia-sia. Penyakit yang diderita Ibu Mira sudah terlambat untuk ditangani”, jelas sang dokter lagi dengan sedikit ragu-ragu.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.