Kehidupan Mira makin redup saat melihat kondisi kanker hatinya yang semakin parah. Mira hanya ingin suatu saat nanti meninggal di hadapan suami dan putranya. Memang tidak mudah hidup seperti orang asing di dalam keluarga sendiri tapi tidak ada yang bisa Mira lakukan, selain menerima kenyataan. “Ah…sakit…sakit”, keluh Mira tiba-tiba dengan menekan dadanya yang terasa sakit. Mira merasakan darah keluar dari hidungnya, tangannya mulai gemetar dan kakinya tidak bisa melangkah rasanya seperti lumpuh.” “Ada apa denganku apakah waktuku sudah tiba”, tanyanya dalam hati. Tiba-tiba Mira mendengar ketukan dari luar dan memanggil-manggil namanya, namun Mira tidak bisa membukanya dan matanya semakin kabur. Mira melihat di sekelilingnya namun yang ada hanya gelap. Ia seolah sedang disekap di sebuah tempat yang tanpa cahaya lampu sedikitpun.

Ketika Bi Nung selaku pembantu yang sudah bertahun-tahun hidup di dalam keluarga tersebut, menarik gagang pintu dan segera masuk ke dalam kamar dengan wajah kaget tak kepalang. “Nyonya, bangun. Nyonya Mira, bangun”, teriak Bi Nung sambil menggoyang-goyangkan tubuh Mira. Dengan air mata yang berlinang hingga bercucuran. Bi Nung dengan cepat menghubungi ambulans untuk melarikan Mira ke rumah sakit. Dengan tangan gemetar dan berlumuran darah Bi Nung mengambil handphone, menekan nomor Arga selaku suami dari Mira. “Halo”, jawabnya dari seberang. “Ada apa Bi?”, tanyanya lagi. Dengan susah payah Bi Nung memberitahu apa yang terjadi dengan Mira. “Apa?”, jawab Arga dengan kaget yang tak karuan. “Baiklah aku akan segera ke rumah sakit. Segera beritahu Ogi juga”, tambahnya lagi di sela-sela kekagetannya.

Selang beberapa menit Arga sudah sampai di rumah sakit. “Tuan”, panggilnya sambil berlari mendekati Arga dengan air mata mengalir tanpa henti. “Nyonya Mira, Nyoya Mira, Tuan”, sambar Bi Nung tanpa memberi Arga waktu untuk bernafas sejenak. “Ayah ada apa, kenapa Ayah menyuruhku ke rumah sakit, apa yang terjadi?”, tanya ogi yang sudah berada di hadapan mereka dengan wajah bingung dan penasaran. “Nak, kamu harus tahu bahwa ibumu sedang kritis di ruang ICU”, jawabnya dengan santai. “Apa yang Ayah bicarakan, ibu baik-baik saja di rumah. Sebelum kesini aku dari rumah. Mengapa sekarang Ayah mengatakan bahwa Ibu sedang kritis, permainan apa ini sampai Ayah menganggapku seperti orang bodoh sekarang”, katanya dengan wajah marah, jengkel dan emosi pada dirinya sendiri atau pada Ayahnya maupun Mira selaku Ibu kandungnya. “Apa yang terjadi sebenarnya”, ucapnya lagi dengan memijit kepalanya yang mulai tersa pusing. Dengan rasa bersalah yang begitu besar karena telah menyimpan kenyataan begitu lama dari putranya sendiri, Argapun memeluk Ogi dan mulai menceritakan semua kejadian dimasa lalu dibarengi dengan airmata penyesalan.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.