Dengan perkataan Bi Nung, Mira merasa diteguhkan dan dikuatkan untuk menjalani hari-harinya sebelum waktunya tiba untuk menghadap sang pemilik kehidupan. “Bi Nung, apakah mereka selama ini sering pulang ke rumah atau mereka sering tidur di luar?”, tanya Mira dengan gugup. “A…bu… maksudku tidur di apartemen”, jelas Mira terbata-bata karena takut Bi Nung salah paham akan pertanyaannya barusan. “Yang bibi tahu selama ini Tuan Arga dan Den Ogi belum pernah tidak pulang ke rumah”, jawab Bi Nung dengan cepat. “Apakah Mas Arga pernah menceritakan tentang saya kepada Ogi?”, lanjut Mira dengan suara pelan tanpa memandang ke arah Bi Nung. “Dengar sayang. Selama kamu tidak ada di rumah ini Tuan Arga tidak banyak berubah, saya merasa bahwa dia sepertinya masih tetap mencintai kamu. Hanya saja dia bingung mau berkata apa sekarang. Apalagi sekarang kamu telah kembali ke rumah ini. Tuan Arga pasti sedang kebingungan, mau menjelaskannya mulai dari mana. Bukan karena Tuan Arga mau menutupi semuanya namun dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk menceritakan semua peristiwa itu kepada Tiara dan Ogi. Tuan Arga seperti mayat hidup, karena selalu di hantui oleh rasa penyesalan yang besar’, jawab Bi Nung dengan penekanan.

Mira merasa bahwa Bi Nung mulai kesal dengan banyak pertanyaan yang dituturkannya dari tadi. Akhirnya dia beranjak pergi ke kamar dengan langkah terluntai-luntai. “Maafkan aku Bi”, katanya sambil berjalan dan dengan suara yang dipaksakan, karena masih banyak hal yang seharusnya dia tanyakan. Namun melihat Bi Nung yang mulai kesal dengan pertanyaannya itu, akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk bertanya. “Biarlah aku jalani hidup ini sendiri dengan resiko apapun yang akan aku terima nantinya”, ucapnya dalam hati.

Hari-hari telah berlalu. Mira melalui hidupnya layaknya mayat hidup yang tanpa rasa dan jiwa. Mira juga merasa bahwa dia sedang berada di penjara untuk kedua kalinya, karena meskipun saat ini telah berada bersama keluarga yang dia rindukan selama berada di penjara, namun Mira sering terabaikan, dianggap sebagai tunawisma yang diberi tumpangan untuk sementara. Namun Mira tidak keberatan karena baginya sekarang hanya melihat wajah mereka saja sudah cukup. Sekarang yang terpenting baginya, hanya menyapa suami dan anaknya saja itu sudah suatu kebahagiaan besar. Untuk menghabiskan sisa hidupnya. Soal mereka menanggapi dan menganggapnya ada, itu tidak penting lagi. Yang terpenting Mira akan tetap memberikan perhatian, cinta dan kasih sayang seorang istri kepada suaminya, terlebih lagi kepada anaknya walaupun sudah terlambat.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.