Dengan air mata yang menggenang dipelupuk matanya, Mira berlari menemui Bi Nung dan langsung memeluk punggungnya yang sedikit melebar karena gemuk itu. Mira menumpahkan segala amarah dan emosinya dengan tangisan yang meggila dalam pelukan Bi Nung. Bi Nung merasa bingung dengan apa yang terjadi dengan Nyonya yang sangat ia rindukan itu. Bahkan baju Bi Nung terasa basah kuyup akibat air mata yang terus mengalir disana. Tanpa mengatakan apa-apa Bi Nung mengusap punggung Mira dan mengelus kepalanya dengan lembut layaknya seorang ibu dan anak. Setelah tangisannya mereda, Mira bertanya kepada Bi Nung, “Menurut bibi apakah aku masih punya kesempatan untuk dipanggil ibu oleh anakku? Apakah sampai mati aku tidak akan mendengar anakku menyebutku sebagai ibu? Tidak adakah kesempatan sedikitpun bagiku untuk memeluk suami dan anakku kembali? Apakah Tuhan begitu membenciku sehingga memberiku takdir yang sangat pahit dalam hidupku?”, tanya Mira secara beruntun.

Setelah semua pertanyaan itu keluar dari mulut Mira, air mata yang tadi sempat berhenti kembali lagi mengalir membasahi pipinya, sehingga membuat Bi Nung bingung dan gelabakan mau berbuat apa untuk menenangkannya. Namun tanpa sadar Bi Nung juga mulai ikut menangis tetapi cepat-cepat menghapus airmatanya karena tidak ingin dilihat lemah oleh Mira, karena saat ini hanya dia yang mengerti perasaan Mira. Hanya dia satu-satunya sandaran buat Mira.

Dengan suara yang pelan namun masih dapat jelas didengarkan oleh Mira, Bi Nung berkata”Nak Mira, aku sangat iri kepadamu”, kata-kata Bi Nung membuat Mira terkejut. “Aku tahu kamu pasti bingung dengan ucapanku itu, tapi memang itulah kenyataannya. Kamu harus tahu bahwa ada seseorang yang lebih kuat dan lebih tangguh selain kamu yaitu Yesus. Dan saat ini aku sangat bersyukur telah diberi seseorang lagi yang kuat dan tangguh melewati rintangan hidupnya. Kamu tahu siapa?”, tanya Bi Nung. “Tidak”, jawab Mira. “ Kamu. Aku merasa iri kepadamu”, kata Bi Nung lagi. “Tapi kamu jangan senang dulu, karena itu semua bukan semata-mata karena kekuatanmu sendiri, tetapi karena Tuhan begitu mencintaimu sehingga Dia memberikan kekuatan dan ketangguhan yang melebihi orang lain kepadamu. Tuhan ingin memberikan kebahagiaan yang dari pada-Nya bukan yang dari dunia ini. Bagi-Nya kamu layak untuk mendapatkan itu. Jadi kamu tidak perlu takut untuk tidak mendapatkan kebahagiaan dari dunia ini terutama dari suami dan anakmu, karena itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan yang sudah Dia sediakan untukmu. Lihat Yesus sendiri mulai dari dalam kandungan sampai berkarya selalu ditolak oleh manusia padahal Bapanya yang di sorga sampai mengutusnya ke dunia ini hanya untuk menyelamatkan manusia. Namun apa yang diberikan manusia untuk membalas perbuatan Tuhan? Tidak ada selain kesombongan dan kemunafikan yang selalu dipelihara. Padahal sudah jelas-jelas Yesus berada bersama-sama dengan manusia di dunia ini. Tetapi itu tidak membuat Yesus merasa putus asa melainkan Dia tetap taat sampai mati di kayu salib. Dan setelah bangkit Dia telah dimuliakan di surga. Tidak bisakah kamu belajar dari Yesus? Apakah kamu akan hidup dalam ketakutan dan kecemasan akan tawaran kebahagiaan duniawi yang sementara ini? Saya sendiri percaya bahwa kamu mengalami penderitaan ini bukan karena Dia tidak mencintaimu. Melainkan karena Dia yang akan memampukan kamu akan hal itu. memang sangat berat namun kelak kamu akan mendapatkan kebahagiaan di surge”. Dengan tegas Bi Nung menjelaskan bukan untuk menasihati tetapi dengan maksud menghibur dan memberi peneguhan kepada Mira megingat sedari tadi Mira mempertanyaakan hidupnya yang penuh luka dan derita.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.