“Mungkin aku tidak tahu kalau Mas Arga mempunyai simpanan di luar sana dan kamu mau meminta pertanggung jawaban atas apa yang sudah kalian lakukan, tapi jangan pernah bermimpi bahwa itu akan terjadi karena Mas Arga hanya mencintaiku. Mengerti kamu?”, katanya lagi dengan penekanan suara yang tinggi. Namun semua itu tidak berpengaruh, Mira tetap tidak menggubris sedikitpun, meski nada suara Tiara tinggi melebihi tingginya gunung semeru, Mira tetap asyik dengan pikirannya sendiri.

Mira mengira bahwa Tiara saat ini sedang ketakutan jika suatu saat dia akan tersingkirkan dari keluarga yang dia jalin selama ini. Hanya saja Tiara tidak menyadari bahwa kata-kata yang diucapkannya itu bukan untuk Mira melainkan untuk dirinya sendiri. Dengan wajah kesal dan marah karena tidak dihiraukan sama sekali, Tiara menggebrak meja sambil berdiri dari kursinya dan;

”Mira, kamu jangan pernah mengganggu rumah tanggaku. Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Mas Arga dan Ogi dariku. Camkan itu baik-baik”, Tiara mengingatkan dengan darah yang memuncak sampai ke ubun-ubun.

“Dan ingat jika kamu tetap mau tinggal di rumah ini, jangan pernah berharap bahwa kamu akan menjadi bagian dari keluarga ini, kamu hanya menumpang di rumahku”, ingat itu baik-baik”, kata Tiara lagi dengan sangat kesal. Ia seolah ingin mencabik-cabik wajah Mira. Mira kaget dan melihat wajah Tiara dengan wajah sendu dan dengan air mata yang mulai menetes dan membasahi wajahnya. Mira merasa terusik dengan ucapan Tiara bahwa dia hanya menumpang di rumah yang dia bangun bersama suaminya dengan susah payah. Sambil menahan isakannya Mira hanya bisa berkata, “Terima kasih Tiara”. Mira lalu bergegas pergi meninggalkan Tiara yang mematung karena bingung dengan jawaban Mira yang tak terduga itu.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.