Kesedihan semakin tampak di wajah Mira saat membayangkan kenyataan apa yang akan dilihat setelah ia membuka mata dan bangkit dari tempat tidurnya. “Terima kasih ya Tuhan aku masih diberi kesempatan untuk kembali ke rumah untuk melihat suami dan anakku yang sangat aku rindukan selama terkurung di balik jeruji besi yang keras itu”, batin Mira saat mulai melangkah keluar dari kamar. Namun apa yang terjadi, saat dia menekan gagang pintu rumah idamannya itu, ia justru melihat sang suami mencium kening seorang wanita yang kemungkinan seumuran dengannya. Seorang anak laki-laki berumur sekitar 18 tahun dengan manja juga memeluk wanita itu. Pemandangan itu membuat hati Mira serasa teriris dan tersayat oleh pisau belati bahkan lebih sakit dari itu. Tidak terpikir olehku bahwa suami dan anakku sudah mempunyai wanita yang menggantikan posisiku sebagai istri dan ibu bagi mereka.

Dengan hati perih dan langkah yang berat Mira pun tetap bersikap seperti tidak terjadi apa-apa padanya dan dengan lembut menyapa mereka. “Selamat pagi mas, selamat pagi Nak Ogi”, sapanya dengan senyum manis. “Ehm…pa…gi”, dengan susah Mira mau menyapa wanita itu, namun tiba-tiba wanita itu langsung menyodorkan tangannya. “Perkenalkan saya Tiara Larasati. Istri dari Mas Arga, Ibu kandung Ogi”, kata Tiara tanpa merasa bersalah bahwa dia sudah menyakiti hati Mira. Dengan berat hati Mira menyodorkan tangannya dan melayangkan senyum yang dipaksakan untuk menghargai wanita itu. Setelah bersalaman keheninganpun tercipta diantara mereka, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Selamat pagi Nyonya Mira”, sapa Bi Nung seorang pembantu yang sudah lama bekerja di rumah itu. Suara Bi Nung yang khas memecahkan keheningan diantara mereka. Mira berlari dan segera memeluk Bi Nung yang dari dulu sudah dianggap sebagai ibunya sendiri karena semenjak menikah dengan Arga orang tuanya sudah menghapus namanya dari kartu keluarga. Mira dianggap anak yang tidak taat dan buat malu keluarga karena lebih memilih suami yang miskin dari pada pilihan kedua orang tuanya untuk menjadi suaminya. Tetapi itu tidak membuat Mira putus asa dan menyerah begitu saja, melainkan dengan seluruh usaha dan dengan berdoa yang tekun kepada Tuhan semua harapannya terwujud, meskipun untuk melalui itu semua harus melewati berbagai rintangan dan cobaan. Dengan tekadnya yang besar dia harus menunjukkan kepada semua orang terlebih kepada keluarganya sendiri bahwa pilihannya tidak salah. Mirapun berusaha mati-matian untuk menjadikan suaminya menjadi seorang pengusaha terkenal. Dan semua usaha itu tidak sia-sia, Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doanya. Dimana suaminya menjadi pengusaha terkenal di sejagat raya. Bi Nunglah yang menyemangati serta membantunya dalam segala hal yang dibutuhkan keluarga kecilnya.

Previous post PUISI-PUISI IAN CK
Next post “Merawat Nilai Pendidikan di tengah Pandemi Covid-19”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.