BUNDA MENGAJARKANKU MENCINTAI DOA


(Tresia Te- Mahasiswa STIP ASKAK)
( Petrus Tamelab,S.Fil.M.Th- Dosen STIPAS KAK)


Aku terlahir dari keluarga katholik. Kekatholikanku tidak diragukan lagi. Walaupun aku dan saudara-saudariku terlahir pada masa milenial yang sarat dengan makna instan dan gampang, namun kemajuan itu tidak dapat menarikku untuk meninggalkan praktek-praktek iman kekatholikanku. Menyambut tubuh dan darah Kristus merupakan keboasaanku, membaca kitab suci, berdoa Rosario bersama keluarga setiap malam dan ikut kerja bakti lingkungan gereja menjadi rutinitas sekeluarga, maklum karena rumahku terletak di samping gereja Paroki. Hari yang paling menyenangkan buatku adalah hari Minggu karena hanya pada hari inilah aku bersama anggota keluargaku bersama-sama merayakan Ekaristi. Rasa bahagia yang tak terbendung ketika aku melihat satu bangku gereja penuh dengan anggota keluargaku yang terdiri dari kedua orangtuaku, 3 saudara laki-lakiku dan 4 saudara perempuanku termasuk aku.


Namun sayang, semua rutinitas itu merupakan masa lalu, kini tinggal kenangan. Perubahan ini terjadi setelah keluargaku mengalami suatu peristiwa perpisahan dimana kedua orangtuaku mengalami kecelakaan maut di tanjung Watu, ketika mereka hendak mengunjungi sanak saudaraku yang tinggal di tempat tersebut. Perasaan duka mendalam menembus jiwaku, jantungku seakan dicabik-cabik oleh rasa sakit yang tak tertahankan. Tangisan, dan teriakkan sudah menjadi teman dalam tidurku. “Siapakah yang harus bertanggungjawab atas semuanya ini?”gumamku, “siapa yang harus disalahkan ?”.

Situasi keluargaku berubah total 180 derajat. Praktik-praktik kekatholikan yang ada di dalam keluargakupun seketika hilang lenyap seakan dibawa lari, pergi meninggalkan kami semua. Lebih parahnya lagi aku telah menggantikannya dengan kebiasaan-kebiasaan anak zaman now. Mengikuti zaman yang menggerus aktivitas kekatholikanku. Jika dulu aku sering mengikuti misa maka kini aku lebih senang ke diskotik pada hari Minggu. Jika dulu aku senang untuk berdoa sembari mengotak-atik Rosario di genggamanku kini aku telah menggantikannya dengan mengotak-atik HP sambil bermain FB sampai larut malam sehingga ketika aku terseret kantuk saat kuliah. Kebiasaan bersenda gurau bersama adik dan kakak-kakakku seakan tak ada lagi. Rasa kehilangan yang mendalam ini telah mengubah aku bersama saudara-saudariku menjadi pribadi lain. Kini aku menyadari bahwa benar apa yang dikatakan orang bahwa kemajuan teknologi ini telah menciptakan situasi baru. Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh. Sempat aku bertanya pelan kepada Tuhan; “mengapa ini harus terjadi di dalam keluargaku? Tidak sayangkah Tuhan terhadap keluargaku? sehingga harus memisahkan aku dengan orangtuaku?”


Di tengah tanyaku, tiba-tiba Tere datang mendekati dan mengagetkan ku sehingga akupun sadar dari lamunanku. Tere adalah adik perempuanku yang baru berumur 8 tahun yang baru duduk di bangku SD kelas 3. Darinyalah aku mendapat penghiburan yang baru untuk melanjutkan hidup. Dialah yang telah membantuku untuk bangkit kembali dari rasa keterpurukan ini. Ia datang kepadaku dan memintaku untuk mengajarkannya doa Malaikat Tuhan. Dengan spontan saya mengiyakan. Aku lalu tertegun saat mengucapkan kalimat “Terjadilah padaku menurut perkataan-MU” saat aku mendalaminya rasa sakit yang bergejolak dalam batinku seketika lenyap dan tak berbekas. Akublalu menyadari bahwa satu hal yang aku butuhkan selama ini adalah menerima kenyataan hidup dan menerimanya dengan sepenuh hati. Doa kecil itu telah menjadi mantra ajaib yang krmbali mengubahku mengingat kebiasaanku sebagai seorang Katholik. Kini aku kembali seperti dulu lagi, kebiasaan-kebiasaan yang ditinggalkan orangtuaku kini pelan-pelan kupraktekkan kembali. Dalam sadarku aku mengajak seluruh kakak dan adikku untuk kembali berdoa bersamaku. Aku mulai berinisiatif untuk membuat jadwal khusus bagi kami semua termasuk di dalamnya jadwal untuk mengotak-atik HP biar tidak ketinggalan zaman. Dalam perubahan itu aku membayangkan ayah dan ibu tersenyum bahagia di surga karena aku telah kembali menjadi katholik. Aku semakin meahami bahwa “yang lalu biarlah berlalu, ku harus berani untuk menatap hari esok yang lebih cerah”.

Previous post Drama Aktor Utama
Next post Telapak kaki Hujan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.