Gotong Royong

Manusia menurut versi Aristoteles adalah makhluk sosial, ‘zoon politicon’. Pendefenisian ini mau menegasi keberadaan manusia sebagai ‘sesuatu/makhluk’ yang tidak bisa berdiri sendiri. Sebab setiap manusia diturunkan dari beberapa sel, yakni sel telur dan sel induk. Proses adanya manusia ini pun berlaku bagi suatu bangsa sebagai makhluk communal. Singkatnya, bahwa bangsa Indonesia tersusun atas jutaan-ribu sel yang mendiami persada nusantara ini.

Manusia selalu membutuhkan orang lain untuk berinteraksi. Karena manusia tidak dapat beraksi tanpa adanya aksi. Budaya gotong royong merupakan contoh kongkrit manusia sebagai makluk sosial. Gotong royong merupakan pengamalan sila kelima yaitu “keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia” karena gotong royong merupakan suatu kegiatan yang melibatkan banyak orang. Oleh karena itu sifatnya adalah social. Inti dari pancasila menurut Ir. Soekarno adalah gotong royong. Ir.soekarno dalam pidatonya tanggal 1 juni 1945 mengajak bangsa indonesia untuk bergotong royong dalam membangun bangsa dan negara.

Pancasila sendiri lahir karena adanya gotong royong dari para bapa negara. Dimana usulan-usulan dari Soekarno, Mohamad Hatta, Mohamad Yamin, Soepomo disatu padukan sehingga tebentuklah dasar negara yang kokoh kuat hingga saat ini (Paulus Wahana,1993:33).

Baca juga: POLITICAL SOVEREIGNTY MENGANTISIPASI KKB PAPUA YANG MENGGUNAKAN SENJATA API BUATAN AMERIKA SERIKAT DAN AUSTRALIA

Budaya gotong royong yang pernah disuarakan oleh presiden pertama indonesia, kini mamasuki “usia senja”. Banyak pihak tidak lagi menghidupkan budaya gotong royong. Sikap individualisme materealistik telah mendegradasikan budaya gotong royong. Masyarkat indonesia lebih mengandalkan diri sendiri karena reputasi atas nama pribadilah yang dikejar.

Individualism sendiri adalah sikap dimana seseorang lebih nyaman dengan diri sendiri. Tidak membangun relasi dengan orang lain atau menutup diri. Sikap ini berlawanan dengan esensi manusia sebagai makluk social. Sedangkan sikap materialistic adalah sikap dimana orang lebih mementingkan materi. Kesuksesan dianggap suatu pencapaian dari sisi materi semata dan juga selalu menginginka barang-barang yang bernilai tinggi.

Menghidupkan kembali budaya gotong royong di era ini tidak semudah mengkedipkan kedua mata, karena semuanya harus dimulai dari mengubah sikap seseorang. Mengubah sikap individualisme yang telah merasuki bangsa indonsia menjadi hal pokok yang mesti dilakukan.

Dasar pijakan yang diambil untuk menangani masalah ini adalah dengan mengamalkan dan mensosialisasika nilai-nilai pancasila. Oleh karena itu, pembelajaran tentang pancasila harus dimulai sejak usia dini agar setiap warga negara mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi. Pendidikan pancasila bertujuan mempancasilakan setiap warga Negara agar terciptanya warga Negara yang bersikap, berwatak dan bermoral pancasila.(Hamid Darmadi, 2003: 25)

Menghilangnya budaya gotong royong di indonesia menjadi pekerjaan rumah bagi segenap warga negara indonesia. Oleh karena itu, generasi mudah sebagai penerus bangsa mempunyai tanggung jawab besar dalam mengatasi masalah ini. Arah perjalanan bangsa ini ada di tangan kita para generasi muda. Mari secara bergotong royong kita hidupkan kembali budaya gotong royong.

Penulis: Marsianus Sirnofot Lorme Arli

Editor: Nadi

Previous post Hiatus Para Koruptor
Next post Korupsi dan Kehancuran Rakyat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.