PERLUKAH MEMBUKTIKAN CINTA SAAT BERPACARAN DENGAN MELAKUKAN HUBUNGAN SEX?

Pacaran, istilah ini tentu tidak asing di telinga kita. Dua insan bertemu dan berkomitmen untuk saling mengenal sebelum memutuskan ke jenjang pernikahan. Wisnuwardhani (2012:83) mendefinisikan pacaran sebagai salah satu bentuk ekspresi akibat adanya perbedaan naluriah seks antara dua jenis kelamin yang disebabkan oleh kematangan seksual. Pacaran umumnya dihubungkan dengan remaja. Adapun alasan remaja berpacaran menurut Hurlock (1980:228) antara lain: untuk hiburan, sosialisasi, status, masa pacaran, dan pemilihan teman hidup.

Terdapat macam-macam perilaku berpacaran zaman sekarang. Selain berkomunikasi secara intens untuk mengenal satu sama lain, pasangan yang berpacaran juga melakukan berbagai aktivitas bersama untuk semakin akrab dan intim. Ada yang memilih berpacaran dengan mengajak pasangan jalan-jalan, ada yang memilih nonton berdua di bioskop, ada yang memutuskan untuk membaca di perpustakaan, ada yang memilih makan bersama, ada pula yang mungkin lebih suka mengajak pasangan berbagi kisah hidup dan tentu masih banyak lagi jenis-jenis tindakan yang dipilih oleh para pasangan untuk mengekspresikan diri dan mendekatkan diri satu sama lain sesuai dengan kebutuhan serta kenyamanan masing-masing pasangan tersebut.

Pembuktian cinta kepada pasangan di era modern ini juga sangat variatif. Ada yang ingin selalu dikabari setiap waktu, mengantar jemput kesana-kemari, ada pasangan yang ingin dipublikasikan via postingan di sosial media, ada pasangan yang ingin langsung diajak ke rumah orangtua jika benar serius, ada juga pasangan yang mendukung kekasihnya untuk meraih mimpi, dan masih banyak jenis bentuk pembuktian cinta saat pacaran lainnya yang dilakukan oleh dua orang yang bercinta.

Namun, dewasa ini tak jarang kita mendengar beberapa anak muda mendengungkan pembuktian cinta saat berpacaran; harus ditunjukkan dengan melakukan hubungan sex sebelum menikah atau melakukan hubungan sex saat berpacaran. Bahkan ada kasus yang menunjukkan bahwa jika pacarnya tidak mau melakukan hubungan sex maka itu menunjukkan ketidakcintaan mereka pada pasangannya. Fakta juga menunjukkan bahwa jika diminta berhubungan sex dan pasangannya tidak mau untuk berhubungan sex saat berpacaran maka ia harus menerima resiko pacarnya tersebut “jajan” di luar atau mencari kepuasan sex pada orang lain yang bersedia.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa perilaku heteroseksual pada masa pacaran benar terjadi. Perilaku heteroseksual menurut Hurlock dan Santrock (2009) diantaranya; menghargai, memberi kepercayaan, menyentuh, ciuman, mencium leher, menggesekan alat kelamin hingga berhubungan intim. Mirisnya banyak remaja tidak memiliki pengetahuan tentang sex yang memadai dan berakhir memilih membuktikan cinta dengan melakukan hubungan sex dengan perilaku heteroseksual di atas. Rendahnya kontrol dari orangtua maupun lingkungan juga turut menyebabkan para pasangan yang mempraktekkan pembuktian cinta dengan melakukan hubungan sex saat berpacaran mengalami kejadian hamil di luar nikah. Ini jelas masuk dalam kategori kenakalan remaja, ini juga merupakan bentuk dari penyimpangan. Remaja yang berpacaran tidak memahami resiko yang ditimbulkan jika melakukan hubungan sex tanpa menikah dan dampaknya pada diri mereka. Mereka melakukan hubungan sex hanya untuk pembuktian cinta dan kesenangan sementara semata.

Hubungan sex yang dilakukan para remaja yang salah satunya disebabkan oleh keinginan membuktikan cinta saat berpacaran menyebabkan meningkatnya angka kehamilan di luar nikah. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh Media Indonesia (25/2/2022) kehamilan remaja di wilayah Jawa Barat misalnya pada tahun 2019 sebanyak 21.499 remaja usia 16-19 tahun menikah dan 56,92% pernah hamil serta 26,87% sedang hamil. Selanjutnya di wilayah Jawa Timur sebanyak 302.684 mengajukan dispensasi perkawinan, dengan proporsi perempuan usia 10-19 tahun pernah hamil 52,33% dan 22,02% sedang hamil. Di NTB ada 56,23% perkawinan usia 15-19 tahun di Lombok Tengah dan 53,15% di Lombok Timur pada tahun 2020. Proporsi perempuan usia 10-19 tahun pernah hamil 67,03% dan 30,80% sedang hamil.

Kehamilan pada remaja juga menjadi salah satu masalah kesehatan yang penting di seluruh dunia. Diperkirakan 11% kelahiran di seluruh dunia berasal dari remaja yang berusia 15-19 tahun (Kirbas, A., dkk. 2016). Menurut Novianti (2017) 41 % atau hampir setengah dari 208 juta kehamilan di seluruh dunia merupakan kehamilan tidak terencana dan berdasarkan data dari WHO (World Health Organization) 11 persennya berasal dari remaja putri yang berarti dalam kurun waktu satu tahun terjadi 16 juta kehamilan pada remaja.

Tingginya angka kehamilan di luar nikah yang dialami remaja di atas tentu sekali lagi merupakan salah satu dampak negatif dari perilaku berpacaran yang menuntut untuk membuktikan cinta dengan hubungan sex. Adapun dampak negatif tersebut menyebabkan remaja mudah terjerumus ke perzinaan. Dari penelitian yang dilakukan oleh salah satu LSM ditemukan bahwa banyak remaja putri usia sekolah mengalami kehamilan tidak dikehendaki (KTD) dan banyak yang melakukan aborsi karena memiliki gaya pacaran yang kelewat batas (Gunarsa, 2013 : 32) .

Pacaran kelewat batas versi para remaja yang berujung pada kejadian hamil di luar nikah ini tentu rentan mengalami stres dan depress. Stres timbul karena rasa malu, dikucilkan oleh lingkungan masyarakat maupun lingkungan pergaulan (Putri, 2019). Kehamilan pada remaja putri juga menyebabkan terhambatnya pendidikan dan kesulitan dalam meraih cita-cita (Putri, 2019).   Remaja yang hamil di luar nikah akibat salah mengambil keputusan akan memiliki perasaan bersalah. Perasaan bersalah tersebut membuat mereka tidak berani untuk mengatakan yang sejujurnya kepada orang lain (Sari, 2013).

Berdasarkan uraian dampak negatif di atas, lantas masih perlukah kamu menunjukkan cinta dengan berhubungan sex saat berpacaran? Jawabannya tentu kembali padamu. Namun perlu dipahami bahwa, hamil di luar nikah masih menjadi kondisi yang sangat tabu di kalangan masyarakat (Yanti, 2013). Hamil di luar nilah dianggap bertentangan dengan adat dan norma yang berlaku di masyarakat.  Sari (2013) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa norma-norma ketimuran umumnya menempatkan kejadian hamil di luar nikah sebagai aib yang kemudian harus disembunyikan.

Fergusson, dkk. (2006) dalam penelitiannya mengatakan bahwa kehamilan pada remaja daat meningkatkan risiko pada masalah kesehatan mental. Empat puluh satu persen wanita pernah hamil setidaknya satu kali sebelum usia 25, dengan 14,6% dari mereka melakukan aborsi. Mereka yang melakukan aborsi telah meningkatkan masalah kesehatan mental termasuk depresi, kecemasan, perilaku bunuh diri dan gangguan penggunaan narkoba.

Penulis: (Beatrix Yunarti Manehat, SE.,MSA)

Editor: Nadi

 

 

Previous post Saat Awal Dan Saat Akhir Kosmos Ditinjau Dari Pemikran Para Filsuf
Next post Mental Health & Kuliah Online VS Mahasiswa

Tinggalkan Balasan

Social profiles