Menikah bukan tentang umur, tapi menikah tentang kesiapan.

Setiap orang pasti pernah bermimpi tentang pernikahan. Memiliki keluarga kecil yang bahagia, berkecukupan, punya anak, dan keindahan lain yang ditawarkan pernikahan, membuat orang untuk tidak sabar masuk dalam kehidupan itu. UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan dalam pasal 7 ayat 1 telah disepakati bahwa batasan usia menikah untuk laki-laki dan perempuan adalah saat mereka sudah berusia 19 tahun. Emang sih, tentang menikah kita nggak akan pernah tahu kapan dan dengan siapa??? Itu udah menjadi RAHASIA Tuhan. Bisa aja ketemu 3 atau bahkan 2 minggu, langsung memutuskan untuk menikah??? Who knows???
Ketika kamu memasuki umur 20 tahun, sepertinya pikiran untuk sekedar pacaran akan sendirinya hilang. Di usia ini, kamu akan mulai mencari orang yang benar-benar serius dengan kamu. Sesungguhnya, impian besar setiap wanita dalam menjalin sebuah hubungan adalah keseriusan. Hubungan tanpa arah yang jelas, ya ngapain?? Aku sendiri sampai saat ini emang belum berpikir untuk melangkah sejauh itu. Masing-masing orang punya konsep, persepsi atau pandangan tersendiri tentang menikah. Yang jelas buat aku, menikah ketika aku benar-benar siap. Kenapa???
Ya, karena menikah itu tentang komitmen. Menikah jelas berbeda standar dengan pacaran. Menikah perlu komitmen yang kuat. Mengapa?? Karena komitmen merupakan fondasi utama kuatnya sebuah ikatan pernikahan. Memiliki komitmen bersama untuk selalu membahagiakan, untuk berjuang bersama, tetap setia disaat susah dan senang, sakit dan sehat. Tidak akan menyerah disaat masalah datang mengguncang, tapi bersedia bertahan dan menemukan jalan keluar bersama.
Menikah itu harus dengan orang yang tepat. Proses menemukan orang yang tepat, untuk dijadikan sebagai pasangan hidup sepertinya bukan proses yang gampang. Kamu sepertinya harus memilih. Terkadang banyak orang yang sering mengatakan atau menertawakan bila kita terlalu memilih pasangan. Kita memang harus memilih dan memilah, karena orang yang akan kita nikahi bukan untuk durasi waktu yang singkat, tapi untuk seumur hidup kita. Seperti yang banyak orang tua katakan pada anaknya, untuk melihat bibit bebet dan bobot pasangan. Pilih dan lihat dia yang benar-benar memiliki keseriusan dengan diri kita, latar belakang keluarganya, siap menerima kekurangan dan kelebihan kita, mau berjuang bersama-sama, pekerja keras, penyayang, punya kualitas dan potensi diri. Dengan demikian tidak akan ada kata “saya menyesal menikah dengamu” dalam pernikahan yang dijalani kedepan.

Jangan lupa baca artikel berikut :

Terperangkap Dalam Cinta Yang Menyakitkan
Milenial! Apa sanggup berpolitik
MAKA PANJANGLAH LENGKING TAWA IBUKU
LILIN-LILIN TELAH PADAM
HUJAN NOVEMBER MEMANISKAN KENANGAN MERKURIUS

3 Tanda Kamu Belum Move-On dari Mantanmu Previous post 3 Tanda Kamu Belum Move-On dari Mantanmu
Next post Cantiknya Air Terjun Fatuknapa (Inbate, Kab.TTU) yang Jarang Diketahui.

Tinggalkan Balasan

Social profiles