Bencana dan Paradoks Kelimpahan

Ada garis pararel antara perusahaan (kapitalisme) dan politisi (partai politik) dalam demokrasi. Keduanya memerlukan kompetisi terbuka. Dalam kapitalisme, kompetisi antar perusahaan merebut konsumen plus akumulasi. Dalam kapitalisme,

Ada garis pararel antara perusahaan (kapitalisme) dan politisi (partai politik) dalam demokrasi. Keduanya memerlukan kompetisi terbuka. Dalam kapitalisme, kompetisi antar perusahaan merebut merebut konsumen plus akumulasi. Dalam kapitalisme, kompetisi antar perusahaan merebut merebut konsumen plus akumulasi. Dalam demokrasi, kompetisi antar parpol merebut pemilih. Kompetisi seperti ini bagai hukum alam: siapa bermodal kuat akan menang dalam pertarungan. Konsekuensinya, parpol mereduksi rakyat menjadi semata-mata konsumen. Politisi akhirnya mengabaikan konsep ruang publik sebagai tempat berdiskusi tentang pilihan-pilihan kolektif.

Korupsi bisa terjadi dalam proses lelang. Prinsipnya, penawaran tertinggi akan keluar sebagai pemenang. Namun, dalam praktiknya, siapa yang memiliki akses dengan kekuasaan akan jadi pemenang. Lelang memang akan selalu diumumkan ke publik melalui media agar kelihatan transparan. Namun, proses pengambilan keputusan di ruang tertutup tidak pernah transparan. Akibatnya, yang keluar sebagai pemenang kemudian hanya segelintir pihak. Jika ada perusahaan baru keluar sebagai pemenang, perlu diteliti dulu profil pemilik serta hubungan dengan pengambil kebijakan dan parpol.

Jika demikian soalnya, pengelolahan Sumber Daya Alam (SDA) di negri ini akan gagal mengangkat kesejahteraan rakyat jika aktor-aktor demokrasi-pemerintah, DPR dan penguasa partai politik (Parpol) menggunakan jawabannya untuk merebut aset daerah kita. Resiko terjadinya conflict of interest dalam mengeksekusi kebijakan publik sangat besar. Padahal, pejabat publik adalah aktor-aktor demokrasi yang mensupervisi, menetapkan aturan main bagi dunia usaha dan bertanggung jawab atas mati-hidup jutaan rakyat Indonesia. Nasionalisasi pembangunan hanya memindahkan persoalan dari kapitalis global ke kapitalis lokal. Pandangan kapitalis lokal pun membelalak ke daerah. Kapitalis lokal pun bisa memainkan peran ganda: jadi politikus sekaligus pengusaha. Apalagi di alam demokrasi sekarang, korporasi memiliki posisi istimewa.

Daftar Pustaka
Kleden, Paul Budi. Membongkar Derita (Maumere: Penerbit Ledalero, 2006).
Camus Albert, Sampar, terj. N. H. Dini, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia 1985.
Wibowo. I. Negara Centeng (Yogyakarta: Penerbit Kanisius,2006), hlm. 49.
Alaman Ansel, Rasul Awam Katolik di Tengah Ancaman Kebangkrutan Moral Politik dan Hukum Indonesia Saat Ini dalam Marin Chen dan Charles Suwendi, op, cit, hlm.332.

Tentang penulis

Diana Manehat, Lahir di Manggarai, 9 Januari 2001. Tinggal di Kita Kupang, saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.
Akun ig: @diana.manehat

Previous post Keikutsertaan dalam Membela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban dari Setiap Warga
Next post Ini Tentang Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.