Bencana dan Paradoks Kelimpahan

Novel La Paste menjadi sangat populer, karena Albert Camus melalui tokoh-tokoh dalam novel memperlihatkan ide-ide filosofis dan antropologis, seperti: kebebasan, keberanian, absurditas dan tindakan konkrit melawan bencana. Melalui tokoh-tokoh itu, Camus menggambarkan macam-macam sikap manusia. Ada tokoh-tokoh seperti, Cottrad, Gracia dan Gonsales yang memanfaatkan bencana dan mencari untung. Camus juga menggambarkan tokoh seperti Romo Paneloux yang sibuk mencari data dan mencari teori pembanding untuk menerangkan secara metafisika-religius bencana Sampar yang menimpa kota Oran. Paneloux mengajak umatnya sadar dan bertobat.

Dia percaya Tuhan bisa membantu menyelamatkan manusia dari wabah Sampar. Ada juga Tarrou yang menggunakan teori ideologis untuk menjustifikasi mengapa ia terlibat dalam bencana. Baik Paneloux maupun Tarrou sama-sama tak pernah terlibat dalam bencana.

Bagi Camus, sesama adalah orang-orang yang harus dibantu dengan tindakan kongkrit. Novel La Paste mengangkat sisi keterlibatan dalam bencana. Dalam novel itu dilukiskan orang-orang yang terlibat tak mau disebut pahlawan. Itulah tokoh dokter Rieux. Dalam La Paste, Rieux mengatakan saya rasa lebih tangguh bersama para pemenang dari pada bersama para santo-santa. Lakukan penyembuhan melawan kematian akibat Sampar. Dokter Rieux menyaksikan ribuan pasiennya meninggal selama wabah Sampar. Sebagai dokter ia tidak berdaya melawan penyakit yang membunuh istrinya. Ia tahu pertarungan melawan wabah tidak banyak artinya. Rieux hanya memperlambat datangnya kematian para pasiennya. Dokter Rieux tetap tegak di depan Sampar.

Situasi kota Oran dan tokoh-tokoh yang digambarkan dalam novel La Paste hampir mirip terjadi saat ini di Indonesia. Tokoh-tokoh seperti Cottrad, Gracia dan Gonsales pun banyak. Di tengah bencana, masih ada pihak dengan watak bawaan mengakumulasi modal. Nikmat rasanya jika menerima uang tanpa harus bekerja keras, tetapi mendapat untung. Pemerintah daerah ada yang tiba-tiba menaikan anggaran Covid-19 tanpa rasionalitas yang jelas, bahkan kematian pasien Covid-19 sengaja direkayasa agar rumah sakit mendapat insentif dana lebih dari pemerintah. Begitupun pejabat yang memanipulasi APBN melalui refocusing dan realokasi anggaran bencana. Pemerintah dan DPR secara mengejutkan juga mengesahkan omnibus law cipta lapangan kerja dan RUU Minerba (UU No.4/2009) yang syarat kepentingan oligarki. Lebih mengerikan, di tengah bencana para pejabat publik ada yang mencuri uang rakyat padahal rakyat butuh makan. Tokoh seperti Paneloux dan Tarrou yang menggunakan teori ideologis pun bermunculan, namun aspirasi mereka diabaikan karena konsep ruang publik sebagai tempat berdiskusi tentang pilihan-pilihan kolektif tidak dianggap secara politis. Tindakan konkrit bagi Camus adalah upaya melawan absurditas. Absurditas mesti dihadapi dengan moral keterlibatan dalam sebuah perjuangan bersama.

Previous post Keikutsertaan dalam Membela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban dari Setiap Warga
Next post Ini Tentang Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.