Bencana dan Paradoks Kelimpahan

Itulah kisah nyata di lapangan tentang “paradoks kelimpahan” di Indonesia. Seperti yang terjadi di bidang lain, semua berlangsung dengan nama luhur ‘pembangunan’. Dalam proses itu, kolusi antara tualang bisnis, pemerintahan dan politik memegang peran penentu.

Kapan penjarahan sumber daya akan berakhir? Atau, kapan pembangunan dan sumber daya alam di Indonesia akan didayagunakan bagi pembangunan sebagai upaya perbaikan kualitas kehidupan bersama seluruh rakyat? Apalagi perlu dikatakan bahwa semua ini merupakan bagian ‘penjarahan’ yang realokasi pembangunannya tidak terlalu signifikan dan bisa saja mubazir. Namun dalam konteks kebijakan publik, lebih dari sekedar mengkritik korporasi, ‘tanggung gugat’ kebijakan pemerintah mesti ditagih sebab merekalah yang membuka pintu masuknya ‘bencana’ lewat instrument perijinan dan peredaman atas aspirasi rakyat.

Melawan Absurditas
Pandangan tentang penderitaan yang lahir karena bencana juga diwakili dalam novel Albert Camus berjudul La Paste (Sampar).2 Yang ditulis tahun 1947 mengenai antropologi negatif tentang manusia di hadapan bencana. Novel itu berkisah tentang wabah sampar, penyakit mengerikan dalam sejarah umat manusia.

Novel ini membawa kita pada permenungan eksistensi manusia di depan bencana. Bagaimana bersikap dan bertindak di depan bencana. Ketika sampar melanda kota Oran, terjadi kekacauan di mana-mana. Pemerintah, masyarakat, dan ahli tak satu suara menghadapi Sampar. Sementara, rakyat bersikap acuh. Mereka baru sadar ketika Sampar memakan ribuan korban warga kota Oran.

Previous post Keikutsertaan dalam Membela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban dari Setiap Warga
Next post Ini Tentang Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.