Bencana dan Paradoks Kelimpahan

Kenangan Kisah Novel La Paste
Oleh: Mariadriana Corysave Manehat

Karya ini ini pernah menjadi juara 6 Sayembara Nasional dari STFK Ledalero

Abstrak
Penderitaan terjadi bukan hanya karena sebab dari luar seperti tertimpa bencana alam, tetapi juga karena kesalahan sendiri: orang menderita karena perbuatannya atau sebagai akibat tindakannya yang mengecewakan dirinya dan/ atau orang lain, karena kegagalan mencapai sesuatu.1 Bencana adalah sebuah kabathilan (the evil), kehadiran bencana mendatangkan lebih banyak mudarat ketimbang faedah. Lebih sebagai kutukan ketimbang berkah, bahkan menghadirkan lingkungan persoalan yang lebih pelik. Dalam sejarah bencana di Republik ini, tidak pernah ada daerah dan warga masyarakat yang makmur dan sejahtera. Bencana merebak, penderitaan masyarakat pun kian terasa. Meski hasil bumi melimpah dan perusahaan pengelolahan kaya raya sejalan dengan penjarahan dan pencurian uang sebagai sumber-sumber hidup rakyat oleh kaki tangan korporasi asing-lokal.

Sumber daya alam di Indonesia merupakan salah satu titik ledak dalam apa yang disebut “paradoks kelimpahan” (the paradox of plenty). Istilah itu menunjuk, kondisi suatu masyarakat yang diberkati kelimpahan sumber alam, tetapi corak kehidupan penduduknya ditandai kemiskinan yang akut, marginalisasi dan penghisapan mirip zaman perbudakan. Apakah pembangunan selalu harus ditandai dengan pola itu? Jawabannya lugas: Tidak! Lalu apa yang membuat pembangunan sebrutal seperti sekarang? Tentu banyak sebabnya. Namun pada hemat penulis, ada suatu kondisi yang telah memperanakan pola ini. Itulah ciri “pembangunan” (development) di Indonesia yang tidak lagi dilakukan sebagai koordinasi usaha memperbaiki kualitas hidup bersama, melainkan sudah lama membusuk menjadi aktivitas-aktivitas pemburuan rente oleh jaringan kolusi sektor bisnis, para pejabat pemerintah dan politisi. Itulah mengapa istilah pembangunan kini mempunyai konotasi busuk di telinga orang-orang biasa. Apa yang sesungguhnya terjadi bukanlah pembangunan, melainkan penjarahan melalui kontak-kontak bisnis.

Istilah ‘pemburuan rente’ (rent-seeking) yang dikembangkan dalam ilmu ekonomi sejak dasarwarsa 1960-an punya banyak arti. Tapi salah satu arti paling telanjang adalah penjarahan anggaran pembangunan dan sumber daya alam melalui jaringan kolusi antara para pengusaha, pejabat pemerintah dan para politisi.

Previous post Keikutsertaan dalam Membela Negara Sebagai Hak dan Kewajiban dari Setiap Warga
Next post Ini Tentang Senja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.