Beberpa puisi Sapardi di rangkum dari buku “ayat-ayat api”

Puisi memiliki keindahan tersendiri, dimana terdapat kata-kata indah yang membentuk kalimat serta melahirkan makna-makna entah tentang kehidupan, cinta, ketidakadilan, dan lain sebagainya.

Nah kali ini kita telah merangkum beberapa puisi dari salah seorang sastrawan terkenal Indonesia, Sapardi Djoko Damono dari buku ayat-ayat api

HAWA DINGIN

dingin malam memang tak pernah mau menegurmu, dan membiarkanmu telanjang;
berdiri saja ia di sudut itu
dan membentakku, “Ia hanya bayang-bayang!”

“Bukan, ia tulang rusukku,” sahutku
sambil menyaksikannya mendadak menyebar ke seluruh kamar- yang tersisa tinggal abu
sesudah kita berdua habis terbakar

ADAM DAN HAWA

biru langit
menjadi sangat dalam
awan menjelama burung
berkas-berkas cahaya
sibuk jalin-menjalin
tanpa pola
angin tersesat
di antara sulur pohonan
di hutan
ketika Adam
tiba-tiba saja
melepaskan diri
dari pelukan perempuan itu
dan susah payah
berdiri, berkata
“kau ternyata
bukan perawan lagi
lalu Siapa gerangan
yang telah
lebih dulu
menidurimu?”

PERCAKAPAN

lalu kemana lagi percakapan kita (desah jam menggigilkan rungan, kata-kata yangvsudah dikosongkan. Semakin hijau pohon di luar sehabia hujan semalaman; semakin merah

bunga-bunga ros di bawah jendela; dan kabut, dan kabut yang selalu membuat kuta lupa) sehabis hujan, sewaktu masing-masing mencoba mengingat-ingat nama, jam semakin putih tik-toknya

DI DEPAN PINTU

di depan pintu: bayang-bayang bulan terdiam di rumput.
Cahaya yang tiba-tiba pasang
mengajaknya pergi
menghitung jarak dengan sunyi

SAJAK-SAJAK KECIL TENTANG CINTA

/1/
mencintai angin
harus menjadi siut
mencintai air
harus menjadi ricik
mencintai gunung
harus menjadi terjal
mencintai api
harus menjadi jilat

/2/
mencintai cakrawala
harus menebas jarak

/3/
mencintai-Mu
harus menjelma aku

JAKARTA JULI 1996

katamu kemarin telah terjadi
ribut-ribut di sini.
Sisa-sisa pidato, yel, teriakan,
umpatan, rintihan, derum truk,
semprotan air, dan tembakan
masih terdengar lirih sekali di got
dan selokan yang mampet.
Aku seperti mengenali suaramu
di sela-sela ribut-ribut yang lirih itu,
tapi sungguh mati aku tak tahu
kau ini sebenarnya sang pemburu
atau hewan yang luka itu.

Previous post Apakah Sekolah Boleh Memberlakukan Pembelajaran Secara Tatap Muka di tengah Pandemi?
Next post Tips sederhana Merawat Gigi agar tetap sehat dan terhindar dari bau pada rongga mulut oleh Rendy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.